Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Oktober 2022

Sepak Bola, hal yang sepele jika dibandingkan dengan nyawa

Bismillah,
Sepak bola, sebuah olahraga yang mungkin menarik bagi sebagian orang di luar sana, tetapi kini ia bukan lagi hanya olahraga saja tapi menjadi sebuah pagelaran / tontonan  yang dipertontonkan untuk khalayak ramai, bahkan mungkin ada penggemar tontonan sepak bola tapi ia sendiri tidak suka olahraga bahkan tidak pernah olahraga terkhusus sepak bola di lapangan di sisi lain ia sangat gemar menonton sepak bola apalagi jika yang bertanding adalah tim yang ia sukai bahkan rela begadang sampai larut malam, dini hari. Bahkan lebih dari itu, rela membeli tiket untuk melihat secara langsung pertandingan sepak bola tim yang dijagokan, dan lebih lebih yang lainnya mungkin tak dapat kami tuliskan.

Jumlah korban tragedi pertandingan sepak bola di stadion Kanjuruhan Malang



Jika kami ditanya apakah yang mereka dapatkan dari yang mereka lakukan lakuakn itu? rela begadang, rela keluar uang, rela menghabiskan waktu dan tenaga untuk sekedar menonton sebuah pertandingan sepak bola baik secara langsung (di stadion) maupun melalui media. Tentu kami tidak bisa menjawab, karena kami bukan termasuk dari penggila bola sepak.

Tetapi, semoga coretan singkat ini menjadi sebuah renungan...

Jika kita sama-sama menghabiskan waktu
Daripada untuk hal tidak berguna untuk diri kita lebih baik menggunakannya untuk hal yang bermanfaat

Jika kita sama-sama memembelanjakan uang
Bukankan lebih baik untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kita atau keluarga ktia dibandingkan hanya untuk sebuah kesenengan sementara?

Apatah arti sebuah rasa, dibandingkan dengan membuang hal yang bermanfaat untuk mendapatkannya?

Bolehlah kau pentingkan rasa, jika itu bermanfaat untukmu baik dunia atau akhiratnya.

Kediri, 3 Oktober 2022.

Kamis, 13 Oktober 2011

Cerpen - Bangkit memanfaatkan medan dakwah

Dian duduk lesu dengan pandangan kosong di sebuah kursi panjang pinggir pantai, berteman senja dan sepoi angin. Matanya sayu, otaknya berputar dalam kegalauan karena terpikir apa yang baru menimpa hidupnya. Jiwanya yang labil kini diterpa masalah.
Dian, anak remaja muslimah yang masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Anak tunggal dari Pak Abdulloh dan Ibu Fatimah. Kini dia adalah seorang anak yatim piatu, karena baru saja ayah tercinta, seorang berharga dan inspirasinya dipanggil Yang Maha Kuasa. Sedang dia kehilangan kasih sayang ibu pada usia 9 tahun.
Itulah masalah yang menerpa jiwa labil Dian yang membuatnya duduk termangu di pantai senja ini. Lama Dian duduk di kursi panjang berteman sepoi angin tanpa kata, namun hatinya tak berhenti berkata.

Tak terasa air mata Dian menetes, Dian mengangkat kedua tangannya* dan lirih berdoa:
Yaa ALLAH, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang Engkaulah yang menguasai setiap jiwa, dan kepadaMu-lah setiap jiwa kembali. Allahumma sholli 'ala Muhammad wa 'ala aali Muhammad. Maafkanlah hambaMu yaa ALLAH... yang berlama-lama dalam kesedihan ini. Aku ikhlas menerima tulisan takdirMu, semua atas kehendakMu dan aku hanya seorang hamba yang harus patuh kepadaMu. Tak seharusnya aku berlarut-larut dalam kesedihan ini, masih terlalu awal untukku menyerah. Jalan perjuanganku masih panjang, aku ingin mengasah kemampuanku untuk memanfaatkan ladang dakwah. Yaa ALLAH, kuatkan aku untuk menjalani liku hidup, ikhlas dan sabar di dalamnya. Aamiin...
Terngiang kata terakhir ayah sebelum beliau jatuh sakit, “Jangan membesarkan nama, yang terpenting adalah ilmu tersebar” yang seakan menjadi wasiat dari ayahnya.
Langit mulai gelap tanda malam menjemput. Dian berdiri, menarik nafas dalam tanda kelegaan dan ikhlas menerima keadaan. Kemudian berjalan menuju rumah dengan langkah tegap sambil menguatkan tekad untuk bangkit dari keterpurukan ini.
“Alhamdulillah, kakek dan nenek masih sehat” gumam Dian menyadari masih memiliki orang yang disayang dan juga pengasuh dirinya. Kini Dian akan hidup bersama kakek dan neneknya.
“Assalamu'alaikum” salam Dian sambil membuka pintu rumah
“Wa'alaikumussalam, dari mana Dian? Sudah hampir maghrib kok baru pulang?” tanya nenek  yang sedari tadi di ruang tamu bersama kakek
“Duduk di pinggir pantai, nek...” jawab Dian
“Dian, jangan begitu lagi! Kamu boleh saja merasa kehilangan dan sedih, namun jangan terlarut-larut dalam kesedihan atas kepergian ayahmu” nasihat nenek kepada Dian
"Iya, Nek" jawab Dian singkat kemudian memeluk neneknya
"Jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Semua ini sudah ditulis oleh ALLAH sebagai takdirmu. Bersabarlah, semoga ALLAH menjadikanmu termasuk orang-ornag yang taat. Dan ingat, masih banyak hal yang harus kau lakukan Dian." nasihat nenek mencoba mengerti perasaan Dian
"Iya, Nek. Aku mengerti..." jawab Dian lirih
"Ya sudah, sekarang kamu mandi! Sebentar lagi adzan maghrib" suruh nenek
Dian menganggukkan kepala, kemudian menuju kamar mandi.

*****

Setelah hari itu, Dian bangkit untuk memanfaatkan waktunya. Untuk belajar, berkarya dan beribadah. Dan hasilnya tampak, bahwa saat kenaikan kelas 3 Dian mendapatkan ranking 3. Meski itu bukanlah hal yang luar biasa, namun sebelumnya Dian hanya 10 besar. Kemudian karyanya juga sudah berwujud, dia telah membuat antologi cerpen yang berisikan motivasi dan renungan dan sudah beredar melalui penerbit di kotanya. Dan ibadahnya juga tidak ketinggalan, dia selalu menjadikan ibadah lebih utama daripada kegiatan yang lainnya.

_______________________________                                                                        
* Tiga waktu mengangkat tangan saat berdo'a :
1. Do'a minta hujan (baik di dalam atau di luar sholat istisqo)
2. Do'a qunut
3. Do'a permohonan (tidak terikat waktu dan tempat)