Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Agustus 2013

Mengaku cinta : Ukhibbuka fillah 2

Ukhibbuka fillah
Aku mencintaimu karena Allah...

- Lanjutan cermin sebelumnya (klik di sini untuk melihat bagian pertama) -


Waktu berlalu, tidak ada kabar dari Zaidan setelah beberapa minggu berkomunikasi saat dia berada di kota lain. Hidup di sana dan entah bagaimana kabarnya.

"Ada apa di sana, kenapa tak kau beri tahu aku meski hanya dengan satu kata" itu yang kadang aku pikirkan. Namun mungkin dia masih tidak ingin orang tahu apa yang dilakukan dia di sana, aku hanya dapat berdo'a semoga dia tetap tegar, istiqomah dalam berpegang teguh dengan sunnah.

***

Hari raya Idul Fitri telah datang, beberapa bulan dari pertemuan terakhirku dengan Zaidan.

"Antum di rumah?" layar HPku menampilkan kalimat tanya dengan pengirim Zaidan, saat aku mengerjakan projek web untuk kantor tempat ku bekerja. 
Segera aku balas, "Ya, antum di mana?" tulisku pada psesan singkat untuk Zaidan.
"Di rumah, boleh saya ke rumah antum?" jawaban darinya tak lama setelah aku membalas
"Silahkan :-)" tulisku

***
"Assalamu'alaikum..." terdengar suara Zaidan di depan pintu rumah ayahku.
"Wa'alaikumussalam", jawabku dengan senyum dan memberi isyarat kepadanya untuk masuk ke dalam rumah.

"Bagaimana kabarnya? Terlihat semakin ganteng saja dengan jenggot yang terpelihara" tanya dia dan dilanjutkan dengan candaan seperti biasa setelah lama tak berjumpa.
"Alhamdulillah, seperti yang antum lihat saat ini. Antum juga semakin ganteng, tapi antum terlihat lebih kurus dari yang lalu." jawabku, dan aku memikirkan apa yang dia lakukan di kota yang cukup jauh dari kota kelahirannya.
"Kalau antum sekarang terlihat subur ya, tambah tembem" kata Zaidan diiringin tawa kecil

Setelah beberapa menit berbincang kecil, akhirnya dia mengajakku untuk ke rumah saudara seiman yang juga teman diwaktu sekolah SMA, sesama pecinta sunnah. Awalnya aku menolak karena aku dikejar dead-line projek web untuk kantor, namun setelah ku pikir ini adalah waktu yang tepat untuk kita bisa bercengkerama sesama teman dan saudara seiman yang telah lama tidak bertemu. Untuk saling berbagi cerita, pengalaman, dan melepas kesepian karena terasing di dalam keramaian.

***

"Assalamu'alaikum...." salamku untuk penghuni rumah Faris.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh, silahkan masuk" jawab Faris mempersilahkan kami untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Subhanalloh, Faris juga tambah tembem seperti Kholid" celetuk Zaidan setelah beberapa detik duduk di sofa, diiringi dengan tawa kecilnya.

Aku dan Faris hanya tersenyum, akhirnya kami bertiga tersenyum. Lalu kami bernostalgia, bercerita tentang apa yang kami lakukan di beberapa bulan lalu, dan saling bertanya keadaan masing-masing.

"Aku rindu jenis manusia seperti mereka, aku ingin hidup bersama dengan manusia spesies ini" kataku dalam hati. Manusia yang mencintai saudara seiman, menjaga haknya, mencintai sunnah, membenci bid'ah, aman dari tangan dan mulutnya sendiri. 

***

Ana ukhibbukum fillah...
Semoga kita tetap istiqomah
Di jalan sunnah

Kediri, 20 Agustus 2013.

Jumat, 18 Januari 2013

Mengaku cinta : Ukhibbuka fillah...

Ukhibbuka fillah
Aku mencintaimu karena ALLAH..

Zaidan,  lelaki tegar di mataku. Meski aku tak begitu tahu liku dan terjal kisah hidupnya. Tapi semua sudah terpancar dari auranya, bahkan sebelum aku dekat dengan dia.
"Ukhibbuka fillah", kata itu yang terakhir dia katakan.  Sebelum ia pindah dari kota ini.  Dan entah kenapa harus pergi,  dia memang pendiam tapi bukan dingin jadi aku tak banyak tahu tentang dia kecuali Dari sikap Dan keluarganya.
Ketegarannya dibuktikan dengan sabar,  tak pernah mengeluh,  dan hidupnya untuk di jalanNYA.  Menggapai ridho Sang Pencipta.

***

"Assalamu'alaikum..." suara serak lirih  terdengar dibalik pintu rumah yang ku kunci,  rapat.
"Wa'alaikumussalam... siapa?" Jawabku ragu untuk memastikan dia adalah teman seaqidahku.
"Zaidan,.." jawabnya. Dengan suara yang melemah,  sepertinya dia sedang flu
"Cklik,  kreek" bunyi pintu yang aku buka. Ya, ini rumah tua peninggalan kakekku,  semua sudah direnovasi secukupnya kecuali pintu ini.
Selang beberapa hembus napas, Zaidan memelukku. Seperti lama tak bertemu, rindu, atau banyak beban di hatinya
"Bagaimana kabarnya akhi?" Tanya Zaidan dengan Nada datar
"Alhamdulillah, bikhoir. Antum sakit? Suara Antum semakin serak.." jawabku dengan rentetan Kata Seperti biasa
"Enggak, ana baik-baik saja. Oh iya,  maaf gak sempat kabari dulu kalau mau mampir rumah Antum. Kok sepi,  pada kemana?" Jawab Zaidan dilanjutkan dengan pertanyaan basa-basi seperti biasa
"Oh,  lagi ke rumah kakak.  Ana sendiri jaga rumah.  Sebentar ana tinggal dulu ya.." aku Minta izin untuk ke dapur membuatkan minuman atau sesuatu untuk teman berbincang
"Gak usah repot Kholid, ana gak bisa lama-lama.." katanya saat aku mulai berdiri
"Gak kok,  ku mau ke belakang" Jawabku lalu bersenyum tipis Dan beranjak melangkahkan kaki ke ruang lain yang disebut dapur.

***

"Ana pamit,  tetaplah istiqomah... harus segera ke stasiun." kata Zaidan setelah beberapa menit berbincang -  sebelum beranjak Dari tempat duduknya
"Iya akhi. Dan saling mendoakan ya. Oh ya sampai di tempat baru jangan lupa tempat lama ya.." Jawabku ku akhiri dengan canda kecil Dan senyum simpul
"Thoyyib, Ukhibbuka fillah. Assalamu'alaikum..." katanya sambil memanasi motornya
"Wa'alaikumussalam. Ukhibbuka fillah akhi.  hati-hati..." jawab ku

***

Semoga  baik Dan selalu tegar . Kabar saudara seiman yang tegar di atas Sunnah. Semuanya...
Aku mencintai kalian..
Aku rindu kalian..
Kediri

19 Januari 2013

ana ukhibbukum fillah
Sumber Gambar : searching google image

Lanjutan (Ukhibbuka fillah 2, silahkan klik di sini)

Selasa, 26 Juni 2012

Back-story Asa & Cita (bagian 5 - end)


Bagian ke lima ini adalah kisah penutup asa & cita. Yang mereka terpisah ruang tapi tidak untuk waktu dan kalbu. Dan di bagian ini, saya akan membawa pembaca untuk mengetahui... siapa mereka. 

Di SD Harapan 1 - Senja, ruang kelas 3. Bu Ani, guru Bahasa Indonesia, di akhir pelajaran memanggil nama-nama muid untuk mengabsen kehadiran mereka.

Bu Ani : "Andi Raharja"
Andi : "Ada Bu"
Bu Ani : "Rosita Amalia"
Rosita : "Ada Bu Ani" (sambil tersenyum kecil)
Bu Ani : "Kamu baik-baik saja kan Ita?"
Rosita : "Baik Bu... sehat"
Bu Ani : "Hmmm, ya.. Rahayu Asa Dahlia"
Asa : "Ada"
Bu Ani : "Asa, kok lemas... Kenapa?"
Asa : "Tidak apa-apa Bu, ini hari terakhir saya bertemu Ibu dan juga teman-teman"
Bu Ani : "Jangan sedih, kita tidak pernah berpisah. Dan kamu akan dapat teman yang baik juga di tempat barumu"
Asa : "Terimakasih Bu"
Bu Ani : "Sanjaya Adi Pratama"
Adi : "Ada Bu"
Bu Ani : "Satria Cita Perdana"
Cita : "Ada Bu"
Bu Ani : "Kenapa kamu mengusutkan mukamu"
Cita : "Tidak ada apa-apa Bu"
Bu Ani : "Aku tahu kalian bersahabat baik, mungkin kamu terlalu sedih memikirkan Asa yang akan pergi. Cita nanti kalau sudah besar bisa ke tempat Asa, atau Asa juga akan kembali ke sini lagi..."
Cita : "Semoga"
Asa : (Menatap wajah Cita)
Cita : (Melirik Asa)
Bu Ani : "Toni Burhan Sejati"
Toni : "Selalu hadir bu"
Bu Ani : "Hem... baiklah anak-anak. Pelajaran hari ini selesai. Marilah kita berdoa menurut kepercayaan, agama, masing-masing. Berdo'a...Mulai"

Selesai berdoa, semua murid keluar kelas untuk pulang ke rumah masing-masing. Namun di sana ada beberapa yang belum pulang, yaitu Asa, Cita, Rosita, Toni, dan 5 anak yang lain. Mereka sedang berbincang-bincang dengan Asa kecuali Cita yang hanya duduk diam di bangku depan pojok.

Setelah berbicara dengan teman-temannya, Asa menghampiri Cita lalu berkata "Besok, dan hari seterusnya mungkin sampai lama kita tidak akan bertemu. Kenapa kamu begini. Apa kamu benci aku?" tanya Asa pada Cita yang membuang wajahnya ketika Asa melihat dia.

"Aku minta nomor telepon rumah kamu" suara kecil Asa sedikit parau

Cita tak menjawab, hanya menyobek kertas kemudian menulis sebaris nomor, lalu diberikan pada Asa tanpa memperlihatkan wajahnya.

"Aku pulang dulu... Ayah dan Ibu sudah menunggu pastinya. Aku berangkat sekarang..." kata Asa

"Iya..." sahut Cita dengan suara yang hampir tak terdengar.


--Selesai--

Akhirnya cerita mini bersambung yang sangat ruwet ini selesai. 
Dan telah saya kumpulkan menjadi sebuah Ebook. Jadi mungkin untuk sobat yang tidak suka membaca online atau tidak suka membaca sesuatu yang terputus-putus (bersambung) maka dapat mendownload ebook cermin ini.


65 Kb (.pdf)

Untuk bagian sebelumnya klik di sini.

Senin, 14 Mei 2012

[part-3] Rain & Windy - Pertemuan terencana

Pertengahan Maret 2012
Pojok Taman Kota
19.05

Di sebuah kedai kecil "Batas Kerinduan", Rain dan Feel sedang asyik berbincang-bincang.
Feel : "Siapa cewek itu?"
Rain : "Namanya Windy, aneh"
Feel : "Kau suka?"
Rain : (diam dan tetap memandang tempat dimana Windy biasa duduk)
Feel : "Kau selalu melihat dia dari sini dan entah sudah berapa kali kau menemuinya. Apa kau punya rasa padanya?"
Rain : "Kau bicara apa?"
Feel : "Banyak cewek yang ke taman ini, duduk-duduk, dan tak sedikit yang mampir ke kedai kita. Tapi sejauh ini kamu tak ada perhatian lebih, tapi..."
Rain : "Tapi pada cewek itu yang belum pernah ke sini dan hanya duduk di tempat yang sama, datang dan pergi pada waktu yang sama aku memperhatikannya." (sela Rain sebelum Feel melanjutkan ucapannya).
Feel : "Huh, ya itu maksudku. Kau selalu menyela pembicaraanku dan melanjutkannya sesuai dengan apa yang ingin aku katakan"
Rain : "Aku tahu alur otakmu"
Feel : "Hem...?"
Rain : "Bukan apa-apa, kita sudah lama kenal"
Feel : "Ya, aku tahu sifatmu tapi tak bisa menebak apa yang ada di otakmu. Sepertinya otakmu kosong"
Rain : (hanya tersenyum)
Feel : "Jadi kau suka dia?"
Rain : "Apa cukup dengan itu kau berkesimpulan? Yang kau lihat tak selalu menunjukkan isi hati orang"
Feel : "Ya, kau benar. Makanya aku ingin memastikannya dengan tanya kamu"
Rain : "Dia sudah datang, sebentar lagi aku ke sana" (jawab Rain sambil mengarahkan jari telunjuknya ke tempat duduk Windy)
Feel : "Oke"
Rain : "Aku pergi dulu, nanti jangan lupa kunci pintunya"
Feel : "Yaps, semoga bahagia"
Rain : "Apa katamu?"
Feel : "Untuk apa itu?"
Rain : "Aku" (Rain sedang membuat kopi-susu hangat)
Feel : "Pasti buat dia"
Rain : "Apa dunia sesempit ini..."
Feel : "Sepertinya orang yang dekat denganmu akan tahu kalau kamu aneh, atau merasakan dirinya sendiri yang aneh"
Rain : "Setiap orang aneh"
Feel : "Tapi kau yang paling parah"
Rain : "Oke, aku pergi dulu" (Rain keluar kedai untuk menemui Windy)
Feel : "Ya, hati-hati"

***

Taman Kota ini
19.15

Windy menghitung bintang, Rain berdiri dua meter di sebelah kiri tempat duduknya. Dia belum juga menyadari kehadiran Rain. Dua menit sudah Rain hanya berdiri dan memperhatikan tingkah Windy, akhirnya Rain berjalan mendekati tempat duduk Windy.
Rain : "Apa yang kau lakukan?"
Windy : "What?" (kaget hilanglah hasil hitungan di jari-jarinya)
Rain : "Apa yang kau lakukan di sini?"
Windy : "Seperti biasa. Kau mengagetkan dan hilanglah hasil hitunganku!"
Rain : "Aneh"
Windy : "Aku menghitung bintang terang, bintang berkelip, dan bintang redup"
Rain : "Ini" (kata rain sambil memberi kopi-susu yang dibuatnya lebih dari 2 menit yang lalu)
Windy : "Sejak kapan kamu berubah jadi punya hati?"
Rain : "Setelah semua bintang jatuh"
Windy : "Hah... bener-bener orang aneh"
Rain : "Ini, mau tidak?"
Windy : "Kamu tak memberi jampi-jampi pada minuman ini kan?"
Rain : "Aku beri jampi-jampi biar kamu gak sakit lagi"
Windy : "Apa? aku gak sakit! Emang otakmu yang sakit!"
Rain : "Oke kalau gak mau aku minum sendiri"
Windy : "Ups, aku mau..." (dengan nada lirih)
Rain : "Apa? aku gak dengar?"
Windy : "Aku gak nolak"
Rain : "Ini"
Windy : "Terimakasih" (sambil menerima kopi-susu dari tangan Rain)
Rain : "Malam ini ada berapa bintang?"
Windy : "Haha, akhirnya kamu ingin tahu juga"
Rain : (diam dan berpikir "apa yang ku tanyakan? kenapa aku bertanya seperti itu!")
Windy : "Hey, kopi-susu ini mulai dingin"
Rain : "Aku sudah 2 jam yang lalu membuatnya dan menunggu kamu di sini"
Windy : "Hah, menunggu di mana? aku baru datang"
Rain : "Menunggu di sini, apa kamu gak sadar?"
Windy : "Dasar pembual"
Rain : "Dua menit"
Windy : "Apanya?"
Rain : "Lihat bintang itu, terang tak berkedip, kebiruan" (sambil menunjuk satu bintang terang)
Windy : "Sejak kapan anak ini berubah sok romantis" (bergumam)

Sejenak suasana hening, mereka diam sambil memandang bintang itu. Taman malam ini tak seramai biasanya, hanya beberapa orang berlalu-lalang tanpa duduk tenang. Udara dingin, angin sejenak berhembus.
Rain : "Dingin, sepi"
Windy : "Baru kali ini kau bersikap seperti ini, apa yang kau mau?"
Rain : "Aku selalu berubah"
Windy : "Ini seperti bukan dirimu"
Rain : "Bahkan kau belum mengenalku"
Windy : "Ya..."
Rain : "Oke, aku ingin pendapatmu"
Windy : (diam sambil melihat tangan Rain membuka selembar kertas)
Rain : "Ini tulisanku, esai. Aku ingin pendapatmu"
Windy : "Tidak salah lagi, benar yang aku rasakan pasti kamu ada maunya berubah seperti ini...haha" (sambil tertawa penuh kemenangan)
Rain : "Tak masalah, sekarang atau besok kau baca"
Windy : "Oke" (langsung merebut kertas yang dibawa Rain)
Rain : "Hey, hati-hati! Nanti rusak!"
Windy : "Ini, baik-baik saja. Aku baca dulu"
Rain : "Oke..."

(5 menit kemudian)
Windy : "Hah! Tulisan apa ini. Bener-bener gak bermutu, jelek!"
Rain : (Diam, melihat ekspresi Windy)
Windy : "Ini esai? Bukan esai! Tapi mirip diary yang ditulis anak kelas 5 SD" (serius, tanpa sedikit senyum di wajahnya)
Rain : "Yang benar? coba lihat" (mengambil kertas itu dari tangan Windy)
Windy : "Jangan bilang kau salah ambil kertas!" (sambil memasang muka seram ingin memakan Rain)
Rain : "Tidak" (sambil melipat kertas itu dan menaruhnya di saku bajunya)
Windy : "Haha... muka pasrah. Tapi aku suka gaya bahasa sederhana dan apa adanya itu. Itu pasti sifat kamu sebenarnya"
Rain : (diam)
Windy : "Sudah tahu kan sekarang bagaimana pendapatku? Aku gak bercanda, itu bener-bener hancur. Jelek, gak mutu!"
Rain : "Iya, aku tahu. Terimakasih" (dalam hati "Aku harus bisa memperbaiki kualitas tulisanku, argh... bahkan mirip diary anak kelas 5 SD?? apa gak terlalu! Kenapa gak sekalian mirip anak TK")
Windy : "Untung masih mirip tulisan anak 5 SD, coba saja kalau mirip anak kecil yang belum sekolah! Pasti gak ada orang yang bisa baca. haha" (dengan nada meledek)
Rain : "Huft. Oke... Terimakasih. Oh iya, masih berapa lama waktumu?"
Windy : "Masih lama, anak mama. Kenapa? kamu mau pulang dulu? Silahkan, nanti dicari mama"
Rain : "Lihat di sana, ada bintang jatuh!" (kata Rain sambil memasang muka kaget dan serius)
Windy : "Hah, mana?" (memandang ke arah yang ditunjuk Rain)

Windy melihat langit sambil mencari bintang jatuh, Rain perlahan tanpa suara meninggalkan Windy.
Windy : "Mana bintang jatuhnya? Tidak ada!" (masih sambil mencari bintang jatuh)
Rain : (berhasil melarikan diri, berjalan menjauh)
Windy : "Hey, kau bohong ya! Ups, kemana orang menjengkelkan itu. Pasti ini akal-akalan dia! Huft. Kenapa tak terpikir olehku. Benar banyak ide busuk di otaknya, dan aku gak bisa menerka sedikitpun. Sepertinya otaknya kosong tapi entah selalu berubah-ubah sikapnya. Bener-bener orang aneh sedunia! Oh, iya aku bisa menerka. Bukannya tadi dia ada maunya aku tahu, walau asal ngomong" (sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, tapi tak melihat Rain)

Windy berbicara sendiri, itulah kebiasaannya seperti saat menghitung bintang dan sebelum kenal Rain. Dia menghabiskan kopisusu dan tepat 20.00 meninggalkan taman itu. Kini, taman tanpa Windy :-).

Minggu, 11 Maret 2012

Asa & Cita (Bagian 4)

Asa di Kota Aksi dan Cita di Kota Impian, memang jauh berseberangan tapi bertautan. Matahari telah menyembunyikan dirinya, menyinari bagian dunia lain. Malam ini tenang, langit begitu indah dihiasi bintang-bintang kecil yang sebagian saling berkedip mesra. Angin semilir, udara sejuk di kota mereka.

Senin, 20.45 PM di Senja - Kota Impian
"Humh, akhirnya siang dan sore berlalu, malam sudah siap menemaniku. Hari yang cukup melelahkan, bagaimana bisa banyak surat yang harus diantarkan sedangkan di zaman ini teknologi sudah canggih! Bisa melalui SMS atau E-mail atau apalah namanya." gumam Cita merasa kesal. Kemudian dia melihat handphone-nya.
"Seharian dia tidak sms, walau sekedar satu titik! Ya, sekedar satu titik atau sms kosong! Ah kenapa aku begitu peduli, emang dia siapa gue!" celoteh yang terdengar dari mulut Cita yang mengetahui tidak ada sms satupun dari Asa setelah seharian sibuk.
Akhirnya Cita merebahkan raga yang lelah. Tertidur pulas melepas lelah.

Senin 20.45 PM di Fajar - Kota Aksi
"Alhamdulillah, hari ini berjalan lancar dan aman. Ayah sudah tidur, pasti ayah lelah. Dan aku ingin sedikit menulis tentang hari ini di diary-ku. Tapi kenapa Cita tetap begitu dingin, orang paling dingin di dunia adalah dia. Oke, aku mau menulis di diary. Hari ini adalah hari yang biasa, tapi tidak seperti biasanya. Apakah aku rindu Cita? orang yang paling cuek sedunia itu? Sampai aku mimpi tidak jelas tapi aku yakin itu tentang dia. Hm, kenapa orang bisa cuek seperti itu? Apakah tidak ada yang lebih cuek dari dia!. Diary, hari ini aku tidak banyak cerita dan hanya itu yang bisa ku tulis. Semoga saja dia bisa berubah menjadi orang yang baik, tidak dingin dan peduli dengan perasaan orang lain. Asa - Maret 2012".
Asa mengambil hp dan menulis untaian kata "Doa sebelum tidur." yang kemudian dikirimkan kepada kontak "Tidak ada nama" yang ada di handphone-nya -yaitu Cita-.

Bagian 5 (terakhir)
Cermin (cerita mini) oleh Fikri si Pemimpi berjudul Asa dan cita. Klik di sini untuk bagian 3.

Jumat, 09 Maret 2012

[part-2] Rain & Windy : Buku harian Rain

Awal Maret 2012
20.11 PM

Dear Diary,
Aku baru bertemu Windy, si anak mama yang sudah lama ku lihat di taman itu (bukan ngintip!). Memang malam ini indah, cerah dan banyak bintang bertaburan yang sebagian berkedip padaku, Windy pakai acara sok romantis segala, :-P.

Aku sudah lama sekali melihat dia di taman itu, tapi baru awal tahun ini aku menyapa hidungnya dan ini masih yang kelima. Aku butuh bantuan dia, mungkin karena aku tak punya orang dekat. Jadi terpaksa aku membutuhkan dia :-D.

Sampai saat ini aku belum tahu apa yang dilakukan Windy, duduk santai di tempat itu, sejenak diam sejenak mulutnya mengucap untaian kata, kadang menghitung bintang (dasar orang kurang kerjaan!) saat langit terang dan banyak bintang. Ya, dia selalu di tempat yang sama, datang pada waktu yang sama dan pergi juga pada waktu yang sama di hari yang sama. Apa yang sebenarnya dia lakukan, tidak mungkin jika hanya menunggu seseorang yang diimpikan. Sampai bintang jatuh pun tidak akan pernah pangeran impianmu itu datang Win!!! Huh, ingin berteriak di mukamu rasanya. Mana mungkin tidak ada perjanjian dan rencana bertemu bisa menunggu seseorang di sana? hah... dasar pemimpi kecil.

Ups, jangan katakan kalau dia terobsesi sebuah film karena kebanyakan nonton film! atau dia ingin tertimpa durian di malam hari? haha, tapi bagaimanapun dia orang yang cocok untuk aku mintai pendapat tentang karya-karya jelekku. Karena dia orangnya cukup asyik dan berkata apa adanya (mungkinkah begitu,diary?) iya semoga...^_^

Jadi?
Rencana di pertemuan selanjutnya adalah... Minta pendapat Windy!

Oke diary
Sampai jumpa kapan-kapan lagi ya diary-ku?
Aku pasti mencoret-coret wajahmu, biar penuh dengan kata-kata jelekku.
Jangan pernah merinduiku, karena kalau sudah ku coret pasti kamu gak bakal rindu bahkan jengkel padaku :-P.

Bye...

Aku - Rain


Cerita selanjutnya ---> Pertemuan Terencana
Ini diary Rain setelah bertemu dengan Windy.
Untuk sobat yang belum tahu kisah pertemuan Rain & Windy silahkan klik di sini --> Rain & Windy (bukan kisah romantis)

Selasa, 06 Maret 2012

Karena dunia bukan surga (Abdul & Abi)


Abdul : "Kenapa di dunia ini banyak yang dilarang?"
Abi : "Karena kita diciptakan bukan untuk bersenang-senang, Abdul. Tapi untuk beribadah dan taat kepada ALLAH Ta'ala"
Abdul : "Kenapa di dunia orang mati?"
Abi : "Karena dunia tidak kekal. Dunia dan isinya nantinya juga akan musnah"
Abdul : "Kenapa dunia akan musnah?"
Abi : "Karena dunia bukan tujuan akhir. Dunia hanya sarana untuk menggapai yang abadi"
Abdul : "Apakah yang abadi itu Abi?"
Abi : "Itu adalah akhirat, yang diciptakan ALLAH setelah kita hidup di dunia. Di sana ada syurga dan neraka. Syurga untuk yang taat kepada ALLAH ketika di dunia, dan neraka untuk orang yang membangkang/ tidak taat kepada ALLAH ketika di dunia"
Abdul : "Tapi, kenapa di dunia tidak ada yang enak 100%, Abi?
Abi : "Karena dunia bukan surga, jadi tidak mungkin enak 100%"
Abdul : "Kenapa begitu?"
Abi : "Karena nikmat 100% hanya dinikmati nanti di surga, dan berlipat-lipat kenikmatannya"
Abdul : "Kalau aku bersenang-senang di dunia bagaimana Abi?"
Abi : "Kamu tidak akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat"
Abdul : "Tapi kenapa di luar sana banyak orang  yang tidak beragama dan menikmati dunia? Bahkan mereka tidak peduli dengan kehidupan setelah mati"
Abi : "Mereka lupa atau sengaja mengingkari atau tidak tahu hakikat kehidupan ini"
Abdul : "Dunia adalah surganya mereka?"
Abi : "Iya, tapi di akhirat nanti mereka tidak mendapat apa-apa, kecuali siksa"
Abdul : "Aku takut Abi"
Abi : "Jangan takut, maka berusahalah istiqomah"
Abdul : "Semoga kita bersama-sama orang Islam yang taat kelak"
Abi : "Aamiiin. Dan semoga kita mati dalam keadaan Khusnul Khotimah"
Abdul : "Aamiiin..."
Abi : "Abdul, sudah malam. Ayo tidur"
Abdul : "Iya, Abi"
Abi : "Bagaimana do'a sebelum tidur?"
Abdul : "Bismikallahumma amuutu wa ahyaa"
Abi : "Pintar putra Abi... Assalamu'alaikum"
Abdul : "Wa'alaikumussalam"

Oleh : Fikri si Pemimpi

Bacaan (Materi Referensi) : Doa Sebelum Tidur --> Adab Islami Sebelum Tidur

[part-1] Rain dan Windy - Bukan Kisah Romantis

Windy : "Rain, aku rindu"
Rain : "Rindu siapa?"
Windy : "Rindu hantu!"
Rain : "Ya sudah, sana berpelukan dengan hantu"
Windy : "Dasar gak punya hati, rindu kamu ngerti!"
Rain : "Oh, aku juga rindu kamu"
Windy : "@#$#"
Rain : "Diam?"
Windy : "Gak apa-apa, orang aneh"
Rain : "Siapa yang aneh?"
Windy : "Rain, malam ini indah ya"
Rain : "Iya, dingin"
Windy : "Selalu gak nyambung. Indah, lihat bintang itu"
Rain : "Kenapa dengan bintang itu?"
Windy : "Dia memancarkan kerinduan seseorang kepada orang lain"
Rain : "Dari mana kamu tahu?"
Windy : "Ngarang!!!"
Rain : "Haha, pastinya"
Windy : "Kamu tuh gak ada romantis-romantisnya Rain!"
Rain : "Aku bukan orang romantis"
Windy : "#$^@%$"
Rain : "Ada apa dengan wajahmu? Ekspresi apa itu?"
Windy : "Gak ada, aku cuma mau menikmati indah bintang malam ini. Walau kamu bilang dingin, dan aku akan mengingat selalu malam ini. Akan ku simpan baik memoriku"
Rain : "Ya, semoga saja"
Windy : "Apa maksudmu???"
Rain : "Semoga kamu selalu ingat"
Windy : "Ya. Kalau kamu?"
Rain : "Apa?"
Windy : "Gak ada, lupakan"
Rain : "Oke... di taman ini. Pertama kali kita bertemu kan?"
Windy : "Kamu masih ingat, ku pikir kau sudah lupa"
Rain : "Kamu selalu duduk di sini di malam seperti ini, sendiri"
Windy : "Dan kamu selalu mengintip aku"
Rain : (hanya tersenyum)
Windy : "Tapi akhirnya aku gak sendiri lagi. Aku bersama orang yang selalu mengintipku dulu. Dan orang yang sangat menjengkelkan sedunia"
Rain : "Menjengkelkan? Tapi kenapa kamu mau aku temani?"
Windy : "Tak tahu, walau menjengkelkan tapi nyaman di sisimu"
Rain : "Bilang saja kamu suka aku"
Windy : "Hah???"
Rain : "Wajah mu memerah"
Windy : "Hah? Kamu sok keren, sok cool, sok gak suka aku!"
Rain : "Emang kamu tahu?"
Windy : "$%@#$$#"
Rain : "Kamu, selalu di sini malam begini. Apa yang kamu lakukan?"
Windy : "Seperti saat ini, aku membayangkan ada seseorang menemaniku untuk menikmati malam dan bintang"
Rain : "Imajinasimu pasti di atas rata-rata"
Windy : "Kata-katamu selalu gak nyambung"
Rain : "Haha, dasar anak mama"
Windy : "Aku anak papa dan mama ngerti!"
Rain : "Oke, sudah cukup... aku pamit"
Windy : "Mau ke mana?"
Rain : "Pulang"
Windy : "Kamu gak punya rumah, mau pulang ke mana?"
Rain : "Rumah mama dan papa"
Windy : "Hahaha. Kamu pasti pemecah rekor dunia untuk orang aneh dan menjengkelkan!"
Rain : "Hem, kamu masih rindu? Tak mau ditinggal?"
Windy : "Apa yang kamu katakan? Sudah pulang sana!"
Rain : "Jangan pura-pura. Oke aku pulang dulu, anak mama juga cepat pulang ya?"
Windy : "Kamu tuh yang anak mama!"
Rain : "Bye manis"
Windy : "What? Bahkan kamu memanggil aku manis. Aneh, bener-bener aneh nih orang"

Rain berjalan pulang menuju rumahnya. Windy sejenak menikmati sepi malam ini, di telinganya masih terngiang kata "Bye manis". "Dasar, apa maksud dia memanggil aku manis. Ini orang selalu aneh, tak bisa ditebak jalan pikirannya. Benar kalau dia orang aneh sedunia" gumam Windy.

Rain dalam bahasa kita berarti hujan, dia memang selalu dingin tapi selalu memberikan kesejukan. Sedang Windy dalam bahasa kita berarti berangin, dia membawa sedikit keributan. Keributan yang membuat hancur apa yang ada di sekitarnya, tapi juga bisa membuat tertata rapi apa yang ada. Rain & Windy bisa saling melengkapi untuk menghancurkan dunia dan juga bisa membangun dunia agar menjadi lebih indah. *_*

Diary Rain (setelah pertemuan ini)

6 Maret 2012
Oleh : Fikri si Pemimpi

Senin, 05 Maret 2012

Asa dan Cita (bagian 3)

Senin, 13.15
Fajar - Kota Aksi

Asa terlihat bekerja keras di bawah terik matahari siang ini, dari pancaran wajahnya tak tampak sedikitpun rasa lelah bahkan yang tampak adalah semangat bekerja, meski keringat mulai menetes dari dahi dan sejenak ia mengusapnya. Inilah hari-hari dalam kehidupan Asa, bekerja keras dan semangat menjalani hidup ini, tanpa keluh kesah.

Dia, bersama dengan ayahnya adalah penjual makanan ringan dan minuman segar di pinggir jalan raya kota ini. Buka dari pagi sampai sore hari. Jiwa semangat yang dimiliki Asa adalah sesuatu yang sangat berharga bagi dia, ayah dan ibunya. Bukan bawaan dari lahir, tapi dia mendapatkan "semangat" dari belajar arti kehidupan dan berubah untuk menjadi yang lebih baik.

"Asa, kamu istirahat sejenak sana. Mumpung sepi pembeli." kata ayah Asa sambil memberi Es Teh Sayonara.
"Tapi ayah?" Asa balik bertanya karena iba meninggalkan ayahnya sendiri.
"Sudah, tidak apa-apa. Cepat istirahat sana, toh ayah tidak lelah" kata ayah Asa kemudian kembali ke tempat kerja.
"Hem, ayah selalu. Padahal aku tidak lelah dan mungkin dia yang lelah. Tapi mau bagaimana lagi, pasti dimarahi kalau tidak istirahat. Baiklah istirahat sejenak" gumam Asa sambil meminum "Sayonara" yang diberikan ayahnya.

***

"Gubrak..." suara yang sangat keras membangunkan Asa dari tidurnya. Dia melihat apa yang terjadi di sekitarnya, ternyata seorang pembeli menyenggol meja hingga mejanya terguling.
"Maaf, Pak... Saya tidak sengaja. Saya tersandung..." jelas seorang pembeli tersebut kepada ayah Asa.
"Tidak apa-apa, mari kita bersihkan" kata ayah Asa sambil membersihkan minuman yang tumpah dan juga meja yang kotor serta berantakan diikuti oleh pembeli.
"Aku tadi mimpi apa?" bisik Asa kepada dirinya sambil mengingat mimpi yang terlupa karena melihat kejadian tadi.

"Ah lupa..." gumamnya dan segera SMS Cita "Kamu baik-baik saja Cita? Aku khawatir, karena mimpiku buruk"
Kemudian Asa langsung membantu ayahnya untuk membersihkan meja yang kotor terkena tumpahan air minum tadi.

"Kamu terbangun gara-gara ini?" tanya ayah Asa
"Tidak ayah, memang saatnya aku bangun" jawab Asa
"Hem, cepat sekali. Apa sudah hilang capeknya?" tanya ayah Asa lagi
"Sudah cukup ayah, nanti kalau lama-lama tidur capek karena tidur malah, hehe" jawab asa diikuti dengan tawa kecil Asa dan ayahnya

Setelah selesai, Asa berkata kepada ayahnya "Gantian ayah istirahat ya? ayolah ayah..." pinta Asa dengan wajah memelas.
"Baiklah, tapi kamu jangan ketiduran ya..." canda ayah Asa, kemudian menuju tempat duduk paling pojok dimana Asa tertidur tadi untuk sejenak melepas lelah.

"Buah jeruk, buah kedondong. Ada sms masuk, dibaca dong..." celetuk suara khas Sinchan dari HP Asa.
"Kamu mimpi apa?" kata yang terbaca di layar HP Asa.
"Orang ini, ditanya kabar malah balik tanya. Apa gak tau aku khawatir!" gumam Asa sambil menulis sms balasan untuk Cita "Gak ada, cuma mimpi buruk. Tak jelas, ditanya kabar malah balik tanya kamu tuh gak ngerti ya aku panik!"

"Aku baik saja" balas Cita
"Tetap cuek, tidak terampuni. Oke, mungkin dia sedang sibuk. Ini kan masuk jam kerjanya. Dan semoga kamu baik-baik saja!" gumam Asa hampir saja terucap melalui bibirnya.

Pelanggan makanan ringan dan es segar Sayonara Asa kini mulai ramai lagi, di siang terik ini adalah jam orang pulang bekerja atau berangkat bekerja untuk yang mendapatkan giliran kerja siang. Asa dengan semangat baru melanjutkan menjaga "kedai" di pinggir jalan raya Kota Aksi, Fajar.
Cerita ini bisa dibilang cerpen ataupun cermin. Tapi kalau saya menyebutnya cenderung ke cermin (cerita mini) bersambung karena terlalu mini untuk disebut cerpen. Hem, apapun penyebutannya semoga bermanfaat. Dan ini bagian ke tiga, untuk bagian kedua silahkan klik --> Asa dan Cita (bagian 2).

Kamis, 01 Maret 2012

Asa dan Cita (bagian 2)

Senin, 13.15 PM
Senja - Kota Impian

"Huh, mimpi lagi. Kenapa dia selalu ada dalam mimpiku. Bener-bener seperti hantu!" gumam Cita sesaat setelah bangun tidur. Dia bermimpi Asa, mimpi itu tidak jelas tapi yang jelas adalah bersama di saat hujan rintik. Dan sempat melihat Asa menangis, butir air matanya samar karena bercampur rintik hujan. Tapi Cita menyadari jika Asa menangis tanpa suara.

"Semoga kamu baik-baik saja di sana" kata itu keluar lirih dari mulut Cita setelah diam sejenak mengingat mimpinya tadi. Dan kemudian dia mencari handphone yang selalu lupa menaruhnya saat bangun tidur.

"Kamu baik-baik saja Cita? Aku khawatir, karena mimpiku buruk" kata yang tertulis di layar SMS Cita setelah membuka SMS baru yang masuk dan itu dari Asa.
"Kamu mimpi apa?" balas Cita kemudian menuju kamar mandi untuk membasuh muka.

Siang ini begitu terik dan Cita harus mengantarkan surat kepada seseorang dari Kantor Pos. "Oke, apapun ini adalah tugas dan aku harus melaksanakannya agar gak dipecat! Fyuh" kata yang keluar dari mulut Cita bernada rendah sedikit meninggi di akhirnya.

"Gak ada, cuma mimpi buruk. Tak jelas, ditanya kabar malah balik tanya kamu tuh gak ngerti ya aku panik" balas Asa.
"Aku baik saja" balas Cita kemudian menuju Kantor Pos dan melaksanakan tugas rutinnya sebagai pengantar surat.

Cita bekerja sebagai pengantar surat paruh waktu, siang sampai sore hari. Dan malamnya bisa untuk santai lagi seperti paginya. "Ah, ini bukan aku. Ini adalah mimpi, hidup ini benar-benar mimpi!" gumam Cita melihat begitu banyak surat yang harus diantarkan.
Sebenarnya saya tidak suka menulis cerpen ataupun cermin bahkan saya tidak bisa. Dan juga saya tidak suka cerita bersambung ^_^. Tapi sepertinya saya harus menulis ini dan harus melakukan ini. Semoga saja ada pelajaran yang dapat diambil, hehehe. Padahal cuma coretan tidak jelas. Maaf ya kalau tidak ada yang dapat diambil manfaat di dalamnya. Tapi semoga ada sedikit inspirasi di dalamnya. Oh iya, untuk bagian satu ada di sini --> "Coretan Fikri : Asa dan Cita"

Kamis, 23 Februari 2012

Coretan Fikri : Asa dan Cita

Asa : "Hai Cita, masih ingat aku gak?"
Cita : "Masih, mana mungkin aku lupa kamu"
Asa : "Masak gak bisa lupa? Tapi kenapa kamu gak pernah hubungi aku?"
Cita : "Maaf, takut ganggu saja."
Asa : "Oh begitu, ku kira kamu benar-benar lupa sama aku."
Cita : "Tidak mungkin, kau 'Asa'ku"
Asa : "Gak percaya. Kamu dingin!"
Cita : "Entah, gak percaya ya udah"
Asa : "Huft. Dasar gak punya hati"
Cita : "Hatiku bahkan untukmu"
Asa : "Mana mungkin? Kamu gak pernah hubungi aku!"
Cita : "Bagaimana bisa menghubungimu?"
Asa : "Entah, bagaimana caranya seharusnya kamu bisa menghubungiku."
Cita : "Maaf"
Asa : "Kamu tetap seperti itu, gak ada bedanya. Gak pernah berubah"

Cita adalah rasa atau perasaan hati yang memiliki rasa tetapi dia sedikit cuek dan kurang bersemangat, entah suka ataupun duka dia pendam sendiri namun hanya Asa yang tahu itu.

Asa adalah harapan atau semangat, ia memiliki semangat tinggi untuk menggapai Cita. Sama halnya Cita, dia memendam rasanya sendiri dan yang tahu hanya Cita, namun bedanya dia tidak cuek bahkan perhatian.

Asa & Cita. Adalah dua rasa yang akan indah jika disatukan. Maybe.

Asa dan Cita (bagian 2)

Referensi :
KBBI - Kamus Besar Bahasa Indonesia