Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Januari 2023

Transkrip: Ujian Hidup (Cobaan Hidup) - Ustadz Firanda Andirja


Bismillah,
Berikut adalah transkrip video motion graphic dengan judul Ujian Hidup (Cobaan Hidup) yang disampaikan oleh Ustadz Firanda Andirja di atas:

Beberapa renungan dan nasihat kepada orang-orang yang sedang bersedih, sesungguhnya dunia ini berisi ujian.

ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ
Artinya:
Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.
(Surat Al-Mulk Ayat 2)

Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan buat apa? Untuk menguji mana diantara mereka yang mana amalnya yang terbaik. Karenanya seorang di atas muka bumi ini harus sadar bahwasannya dia diciptakan untuk diuji oleh Allah subhanahu wa ta'ala, maka semua orang diuji tidak ada seorang pun yang tidak diuji oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Dan kita tahu semua orang pernah bersedih atau sebagian mereka sedang bersedih, tidak ada yang pernah luput dari kesedihan dengan ujian yang bermacam-macam ada orang yang diuji berkaitan dengan hartanya ekonomi yang sulit penuh dengan utang, dililit utang. Ada orang diuji dengan badannya cacat atau sakit-sakitan atau tubuh yang tidak sempurna. Demikianlah namanya ujian beranekaragam menimpa satu dengan yang lainnya, memang berbeda-beda ada yang ujiannya sedikit ada yang ujiannya banyak, tetapi semua orang diuji oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Dan siapapun orangnya mau kaya atau miskin pasti diuji, sebagaimana sering saya sampaikan bukan hanya orang miskin yang diuji, orang kaya para pejabat para penguasa mereka juga diuji, mereka juga bersedih. Betapa sering kita melihat foto seorang pejabat yang mungkin tersenyum dalam foto tersebut namun kita lihat senyumannya penuh dengan keterpaksaan, dibalik senyuman tersebut dia menyimpan banyak penderitaan. Oleh karenanya siapapun orangnya di dunia ini pasti diuji, pasti diuji! Baik orang yang sholeh maupun yang tidak sholeh, terlebih lagi Allah menjanjikan orang-orang yang beriman dengan ujian yang lebih berat, kata Allah subhanahu wa ta'ala:

الم
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Artinya:
1. Alif Lam Mim
2. Apakah manusia dibiarkan mereka berkata, "Kami telah beriman," sementara mereka tidak diuji?
3. Dan Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. agar Allah tahu mana yang imannya benar dan mana yang imannya dusta.
 
Apakah kalian akan menyangka akan masuk surga sementara belum datang kepada kalian ujian yang pernah menimpa orang-orang sebelum kalian, mereka ditimpa dengan penderitaan dengan kesusahan, diguncang oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Jadi orang beriman justru dijanjikan ujian oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Maka Imam Ahmad ditanya, "Kapan seorang beristirahat?" kata Imam Ahmad, "Sampai dia menginjakkan kakinya di surga baru dia istirahat". Oleh karenanya kita harus sadar bahwasanya dunia ini isinya adalah ujian!.

Kediri, 7.47 WIB. 9 Rojab 1444 H / 31 Januari 2023

Minggu, 17 Desember 2017

Pendaftaran HSI 181 - HSI (Halaqoh Silsilah Ilmiyyah) - Kajian Islam Sistematis Berbasis Whatsapp dan Website

Bismillah,
Pendaftaran HSI 181 - Halaqoh Silsilah Ilmiyyah (shared by karyafikri.blogspot.com)

Siapakah Al-Ustadz DR. Abdullah Roy, M.A.?
Beliau adalah pengisi kajian rutin berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi​ di Madinah.

Hmmm…. Lalu, HSI itu apa sih?
Simak Profil HSI disini http://bit.ly/profilhsi

Di HSI ini insyaaAllah Al-Ustadz akan berbagi mengenai ilmu Tauhid dari berbagai sisi, PLUS banyaaaakkk lagi ilmu agama lainnya

InsyaaAllah gak bakal nyesel deh bergabung dengan ​HSI AbdullahRoy
Mau… mau…. Mau…. Kapan dan gimana cara daftarnya?

Catat tanggalnya yaaa kalau perlu Pasang Alarm di HP

Pendaftaran Dibuka Mulai Tanggal :
23 Desember 2017
(05 Rabiul Tsani 1438 H)

Dibuka Mulai Jam :
06.00 WIB

Pendaftaran HANYA Melalui Web :
http://hsi.center


Yakin mau menunda daftar? Yuk ah daftar
Kuota Terbatas.

Semoga bermanfaat, silahkan disebaarkan dan diinformasikan kepada saudara, teman, atau via online.

Selasa, 28 November 2017

Buletin Dakwah Islam al-Furqon: Cerdas dengan Tauhid

Bismillah,
Sesungguhnya, kemusyrikan mengindikasikan kebodohan dan keterbelakangan pelakunya. Demikian pula sebaliknya, tauhid mengindikasikan kecerdasan dan kemajuan pelakunya. Setiap orang musyrik pasti terbelakang cara berfikirnya, sedangkan orang bertauhid pasti cerdas dan maju cara berpikirnya. Karena itu, sesungguhnya yang disebut ulu al-albaab adalah orang-orang yang bertauhid.
Cerdas dengan tauhid (buletin islam al-furqon) shared by karyafikri.blogspot.com

Mengapa demikian?
Ketika seseorang mengetahui bahwa pencipta alam semesta, pemberi rizqi, dan pengatur segala urusan hanyalah Allah saja, kemudian ia enggan beribadah kepada-Nya, bukankah ini merupakan kebodohan? Terlebih lagi jika seseorang kemudian menyejajarkan Allah Pencipta alam semesta ini dengan makhluk ciptaan-Nya dalam hal kekuasaan dan dalam hal mendapatkan hak peribadatan.

Bukankah kaum musyrikin Arab Quraisy pada zaman Nabi sholallahu 'alaihi wa sallam dahulu mendapat predikat sebagai orang-orang jahiliyah? Apakah mereka tidak memiliki kemampuan teknologi -misalnya- persenjataan, pertanian, perniagaan, atau komunikasi (tentu yang sesuai dengan ukuran zaman itu)? Jawabnya, bukan! Tetapi karena mereka adalah masyarakat yang memuja berhala, menjadikan makhluk sebagai tuhan, memohon keselamatan kepada benda mati, dan sebagainya.

Padahal mereka mengerti bahkan berikrar bahwa Allah subhanahu wa ta'ala satu-satunya Pencipta alam semesta, Pemberi rizqi bagi sekalian makhluk, Pengatur segala urusan, Yang menghidupkan, mematikan, dan Penguasa bumi-langit beserta segenap isinya. {Syarh Kasyfi asy-Syubuhaat wa yaliihi Syarh al-Ushuul as-Sittah oleh Syaikh Muhammad ibn Shalih al-'Utsaimin}

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman menceritakan ikrar mereka akan sisi tauhid ini, yang disebut tauhid Rububiyah, diantaranya:

  وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

Artinya:
Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) bertanya kepada mereka "siapakah yang menciptakan mereka", niscaya mereka menjawab: "Allah". Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan dari menyembah Allah? (QS. az-Zukhruf 43:87)
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ لسَّمَٰوَٰتِ وَلْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ للَّهُ
Artinya:
Dan sesungguhnya jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka "Siapakah yang menciptkan langit dan bumi?", tentu mereka akan menjawab, "Allah". (QS. Luqman 31:25)

Demikian beberapa ayat yang menceritkan ikrar mereka akan kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala, bahwa Allah pencipta, pemberi rizki, dan pengatur segala sesuatu. Namun demikian, tetap saja mereka disebut kaum musyrikiin. (Majmu' Fatawa Syaikh al-Islam Ibni Taimiyah 3:101 & 105).

Wajarlah ketika mereka diingatkan supaya meninggalkan berhala-berhala sesembahannya dan supaya mengikuti wahyu Allah serta hanya beribadah kepada-Nya, mereka menolak seraya menjawab "Kami hanya mengikuti tradisi yang dilakukan nenek moyang kami semenjak dahulu." Banyak ayat yang menceritakan sikap dan perilaku mereka ini, diantaranya firman Allah subhanahu wa ta'ala:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
Artinya:
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (QS.. al-Baqarah 2: 170).

Imam Ibnu Katsir rohimahullah menjelaskan tentang firman Allah ini sebagai berikut: Apabila dikatakan kepada orang-orang kafir dari kaum musyrikin itu agar mengikuti ajaran yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya dan agar meninggalkan kebiasaan sesat dan kebiasaan bodoh mereka, maka mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang kami dapatkan dari nenek moyang kami". Yaitu kebiasaan menyembah patung-patung dan berhala-berhala. Karena itu, Allah subhanahu wa ta'ala kemudian mengingkari pernyataan mereka dengan mempertanyakan: "Apakah (mereka akan mengikuti juga) meskipun nenek moyang yang mereka ikuti tidak paham dan tidak mendapatkan petunjuk?" (Tafsir Ibnu Katsir, al-Baqarah (2): 170).

Ayat ini jelas menunjukkan kebiasaan taklid buta kaum musyrikin dan menunjukkan betapa tidak cerdasnya mereka. Oleh karena itu, selanjutnya Allah berfirman (artinya): "Dan perumpamaan (orang yang memanggil) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu, dan buta, oleh sabab itu mereka tidak mengerti" (QS. al-Baqarah 2: 171).

Di sisi lain, bisa diperhatikan pula argumen-argumen yang menunjukkan kelambanan cara berpikir mereka dalam memahami persoalan keyakinan. Yaitu ketika mereka melakukan peribadatan kepada berhala atau orang-orang shalih yang telah meninggal dunia atau malaikat, mereka beranggapan bahwa itu merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta'ala yang kemudian mereka sebut sebagai wasilah. Padahal sejatinya mereka telah memberikan hak doa atau peribadatan kepada selain Allah. Allah berfirman menceritakan anggapan bodoh mereka (artinya): "Ingatlah, hanya punya Allah-lah agama yang bersih dari syirik. Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai pelindung yang dipuja-puja (berkata): 'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya'". (Qs. az-Zumar 39:3).

Maksudnya, itulah penyebab mereka menyembah patung-patung yang mereka anggap sebagai perwujudan para malaikat; yaitu supaya para malaikat itu memberi syafa'at kepada mereka di sisi Allah dan supaya para malaikat itu menjadi wasilah untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya sehingga mereka selalu ditolong, rizkinnya lancar, dan kebutuhan duniawinya terpenuhi.

Itulah syubhat (karancuan pemahaman) yang selalu menjadi sandaran kaum musyrikin semenjak zaman dahulu hingga sekarang. Para rasul Allah telah datang untuk membantah serta melarang syubhat mereka, dan mengajak mereka untuk hanya beribadah kepada Allah saja. Sesungguhnya tindakan kaum musyrikin (menjadikan berhala sebagai wasilah untuk menyembah Allah) hanyalah rekayasa mereka sendiri, tidak pernah diizinnkan oleh Allah dan tidak pernah diridhai-Nya.
Allah juga berfirman:
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
Artinya:
Dan mereka menyembah selain dari Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata, "Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah." (QS. Yunus 10:18)

Syaikh Muhammad ibn Shalih al-'Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa kaum musyrikin, dengan membuat wasilah yang batil ini mengharapkan syafa'at dari patung-patungnya (di sisi Allah). Yaitu dengan melakukan peribadatan terhadap patung-patung itu. Ini merupakan kebodohan dan kedunguan mereka. Berusaha mendekatkan diri kepada Allah, tetapi dengan cara yang justru membuat mereka semakin jauh dari-Nya. (Syarh Kasyfi asy-Syubuhaat wa yaliihi Syarh al-Ushul as-Sittah, op.cit (syarah) hlm. 28)

Bukan kelakuan orang yang cerdas
Orang yang cerdas ketika memahami bahwa Allah subhanahu wa ta'ala adalah Pencipta segenap makhluk, Pemberi rizki, dan Pengatur segala sesuatu, maka ia akan dengan penuh tanggungjawab memberikan seluruh peribadatan hanya kepada-Nya saja serta menjalankan seluruh kewajibannya. Sebab,, bagaimana mungkin ia menyembah sesuatu yang tidak menciptakan, tidak memiliki apa-apa, dan serba terbatas?

Orang yang demikian ini, mengindikasikan kecerdasan dan kemajuan berfikirnya. Miskipun -misalnya- ia tidak pernah memakai sepatu, apalagi dasi, karena pekerjaannya selalu berlumuran dengan lumpur sawah atau bergumul dengan sapi/ lembu. Pakaian bersihnya hanya dipakai ketika shalat berjama'ah di masjid, atau ketika berkumpul dengan keluarganya di rumah, atau kemempunyai keperluan di tempat lain. Tetap saja ia disebut sebagai orang cerdas, orang yang paham dan berakal.

Sebagai contoh, kisah seorang mu'min di suatu negeri pada zaman rasul-rasul terdahulu yang diabadikan di dalam al-Quran. Kisah tentang seseorang yang cerdas dengan sikap bertauhidnya dan keimanannya kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Ayat yang mengisahkan tentang hal ini antara lain dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah sebagai pembanding dari kebodohan orang musyrikin yang menjadikan selain Allah sebagai sembahan. (Majmu' Fataawaa Syaikhi al-Islam Ibni Taimiyah 3:105).

Allah berfirman:
وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (22) أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلا يُنْقِذُونِ (23) إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (24) إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ (25)
Artinya:
Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakan diriku dan yang hanya kepada-Nya kamu (semua) akan di­kembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain­nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagiku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesalan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. (QS. Yasin 36: 22-25)

Itulah cara berpikir orang yang cerdas. Seorang yang menyadari sepenuhnya bahwa yang berhak disembah hanya Allah Pencipta alam semesta. Sementara itu, penyembahan serta doa kepada apa pun atau siapapun selain Allah adalah kebodohan dan kesesatan.

Begitu pula sikap dan kecerdasan setiap mu'min di segala zaman. Para sahabat Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dari kalangann atas seperti Abu Bakr ash-Shiddiq rodhiallahu 'anhu hingga budak seperti Bilal rodhiallahu 'anhu membuktikan itu semua.

Kalau orang ingin meninggalkan keterbelakangan dan kebodohan maka harus meninggalkan kemusyrikan, sebab kemusyrikan adalah kebodohan. Sebaliknya, setiap orang yang cerdas pasti akan memilih hidup bertauhid, sebab pilihan hidup bertauhid menunjukkan kepahaman pelakunya, sedangkan kepahaman menunjukan kecerdasan. Wallahu al-Muwaffiq.

Rifaq Asyfiya' hafidhohullah.

Sumber: Buletin Dakwah Islam "al-Furqon" Tahun ke 12 Volume 9 No. 1

Minggu, 12 November 2017

Faedah dari kajian INDAHNYA MENITI JALAN KEBAHAGIAAN HAKIKI

Bismillah,
Faedah kajian dgn tema INDAHNYA MENITI JALAN KEBAHAGIAAN HAKIKI
Setiap orang yang berjiwa sehat dan akal yang jernih akan mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya.
Tapi sebagian orang beranggapan bahwa kebahagiaan bisa diraih semata dengan banyaknya harta yang banyak, kedudukan yang terpandang dan popularitas yang menjulang. Sehingga tak heran jika diantara manusia dengan segala cara berlomba untuk mendapatkan itu semua.
Kalaulah kebahagiaan itu semata-mata bisa didapatkan dengan banyaknya harta, maka tentunya Qorun lebih bahagia dibanding dengan Nabi Musa.
Kalaulah kebahagiaan itu semata-mata bisa diraih dengan kedudukan terpandang, tentulah Firaun dan Namrud lebih bahagia dibanding Nabi Musa dan Nabi Ibrahim. Namun realitanya, dalam sejarah mereka (Qorun, Firaun, Namrud) ditenggelamkan dan dibinasakan serta memperoleh kesengsaraan dalam kehidupan mereka.
Kalaulah popularitas itu semata-mata bisa menjadikan manusia bahagia tentunya tidak akan kita dengar kisah manusia yang mempunyai popularitas menjulang mengakhiri kehidupannya dengan bunuh diri, yang Allah mengharamkannya. Na'udzubillahi min dzalik.
Sesungguhnya kebahagiaan hidup yang hakiki, ketenteraman dan ketenangan jiwa akan bisa kita dapatkan pada agama Islam yang mulia ini. Karena kehidupan bahagia dalam arti yang sebenarnya, hanyalah dapat diraih oleh orang-orang yang berpegang teguh dan meniti jalan agama islam yang mulia ini.
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Risalah beliau al-Wasailul Mufidah lil Hayatis Sa'idah, telah menyebutkan beberapa kiat yang diajarkan dan disepakati agama islam yang mulia ini, untuk mencapai kehidupan bahagia yang sebenarnya, diantaranya:
1. Beriman dan beramal sholeh
{مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [النحل : 97]
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Kehidupan yang bagus dapat berupa rizki yg halal, hati yg qonaah, kebahagiaan hati, dapat beribadah di dunia dan beramal sholeh, hati yang longgar setelah beramal sholeh.
2. Berbuat baik kepada makhluk
Asy-Syaikh Nu'man bin Abdul Karim mengatakan: Adapun berbuat baik kepada hamba Allah bisa terwujud dengan tiga perkara:
1). Dengan mencurahkan kebaikan yang berkaitan dengan agama pada mereka, dengan memberikan nasihat, pengajaran, memerintah yang baik, melarang kemungkaran, dan semisalnya. Dan mencurahkan kebaikan yang berkaitan dengan urusan dunia pada mereka dengan menolong, berbuat baik, dan semisalnya.
2). Menahan sesuatu yang menyakitkan pada mereka dengan perkataan dan perbuatan. Karena sesungguhnya seorang muslim adalah yang mampu menjadikan kaum muslim yang lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.
3). Dengan menampakkan wajah ceria, berseri, kebeningan hati, berbaik sangka.
3. Menyibukkan diri dengan amalan-amalan dan ilmu-ilmu yang bermanfaat
Sesungguhnya menyibukkan diri demgan amalan dan ilmu yang bermanfaat mampu mengalihkan perhatian hati manusia dari kesibukannya pada suatu perkara yang menggelisahkan jiwanya. Sehingga jiwanya tumbuh bahagia dan bertambah semangat.
4. Mencurahkan perhatian dengan apa yang sedang dihadapi (serta meminta pertolongan kepada Allah) dan memutus sikap banyak berangan-angan (terhadap perkara dunia) untuk masa yang akan datang serta memutus kesedihan (yang disebabkab kegagalan dan kepahitan) pada masa lalu
5. Banyak mengingat Allah
Diantara sebab paling besar untuk menjadikan lapang dan tenang dada seorang hamba adalah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah. Karena sesungguhnya memperbanyak dzikir memiliki pengaruh yang sangat menakjubkan untuk menjadikan lapang dan tenangnya dada seorang hamba serta hilangnya kegundahaan dan kesedihan. Allah berfirman:
{الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ} [الرعد : 28]
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Dzikir yang dimaksud bisa dengan memperbanyak membaca Quran atau dzikir secara umum (dengan ucapan subhanallah, alhamdulillah, astagfirullah, laahaula wa laa quwwata illa billah, dsb).

Jumat, 22 September 2017

Buletin Dakwah Islam al-Furqon: Hijab Syar'i vs Hijab Gaul

bismillah,
Hijab syari vs hijab gaul shared by karyafikri.blogspot.com

Saudaraku kaum muslimah, sesungguhnya tetah diwajibkan atasmu. Bukan oleh ustadz, bukan kyai, bukan pula MUI yang mewajibkan perkaara ini, akan tetapi Allah robbul'alamin. Allah yang memberimu kehidupan, memberimu rezeki, memberimu keelokan rupa, dan memberimu berbagai macam kenikmatan. Tidak ada satu nikmat pun baik kecil maupun besara yang engkau rasakan melainkan dari Allah-lah datangnya.
 وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. (QS an-Nahl (16:53))

Wahai saudari Muslimah! Manusia yang tahu balas budi tidak akan pernah lupa dengan orang yang berjasa besar kepadanya. Seandainya engkau ditimpa musibah, engkau terlilit utang, diPHK dari pekerjaan, rumah dan kendaraan sudah tergadaikan, anak dan orang tuamu menelan biaya besar untuk pengobatan. Kemudian di saat seperti itu ada orang yang datang kepadamu memberi lapangan pekerjaan dengan upah yang menjanjikan, dia pun membantumu melunasi segala utangmu, dan menolongmu untuk mencicil membeli rumah dan kendaraan, sehingga dengan itu kehidupanmu pulih kembali setelah terpuruk tentu engkau tidak akan pernah melupakan budi baiknya. Jika ia meneleponmu untuk meminta datang ke rumahnya jam 01.00 dini hari, apakah engkau akan menundanya sampai esok hari?? Tidak, engkau pasti akan antusias memenuhi undangannya meskipun engkau sedang merasakan nikmat dalam kantukmu. Karena dia sangat berjasa dalam hidupmu.

Maka renungkanlah tentang kebaikan Allah yang terus tercurah kepadamu, udara yang engkau hirup adalah milik-Nya, bumi yang engkau pijak adalah bumi-Nya. Nah, sekarang Dia mengajakmu, wahai muslimah, untuk menutup auratmu dengan hijab syar'i. Siapa diantara kamu yang pandai berterimakasih, maka pasti akan serius dalam menyambut seruan robbul'alamin ini dan akan mencari tahu bagaimana kriteria hijab yang Allah inginkan untuk wanita muslimah. Setelah dia tahu bagaimana kriteria hijab yang diinginkan syari'at, dia akan melaksanakan tunttunan syariat itu apa pun resikonya, meskipun temannya menggunjingnya, atasannya menegur sikapnya, kerabatnya mengucilkannya, semua itu tidak menjadi masalah asalkan Allah ridho kepadanya, karena menurutnya keridhaan Allah adalah keridhaan yang paling agung dan paling utama untuk digapai.

Sebaliknya, orang yang kurang bisa berterimakasih tidak akan serius memenuhi panggilan ini, dia mengutamakan keridhaan manusia meskipun murka Allah yang ia terima. Dia enggan berhijab,, atau berhijab ala kadarnya asalkan manusia ridha padanya meskipun hijabnya belum memenuhi standar agama. Hijab gaul, ya itulah istilah yang ngetren untuk hijab gaya dan tidak memenuhi kriteria hijab syar'i.

Untuk bisa membedakan hijab yang sudah sesuai dengan kriteria syariat (hijab syar'i) dan hijab yang belum memenuhi kriteria syariat (hijab gaul) mari kita simak kriteria hijab syar'i berikut ini.

Syarat-syarat hijab wanita Muslimah
Sebelum kita bicarakan tentang syarat-syarat hijab bagi muslimah perlu kita dudukkan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan "hijab". Hijab yang kita maksud di sini tidak seperti yang dipahami umumnya masyarakat, sebagaimana mereka menganggap hijab adalah sekedar kerudung maupun penutup kepala dan dada. Padahal, ulama ketika berbicara tentang hijab yang mereka maksud adalah semua punutup aurat meliputi baju mulai dari bawah sampai atas termasuk kerudung, karena memang hijab secara makna bahasa adalah penutup, penghalang. Itulah hijab yang kita maksudkan di sini, adapun syarat-syarat hijab bagi muslimah adalah:
1. Menutup semua badan kecuali wajah dan telapak tangan (dua anggota ini diperselisihkan ulama')
Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama pada anggota badan selain wajah dan telapak tangan bahwasannya ia wajib ditutup. Adapun untuk wajah dan telapak tangan maka mereka berselisih pendapat, sebigian mewajibkan menutupnya karena termasuk aurat dan sebagian lagi mengatakan bukan aurat sehingga sunnah hukumnya ditutup alias tidak wajib. Apapdan dun keadaaannya, yang jelas para ulama sepakat bahwa menutup dua anggota tersebut adalah yang terbaik daripada membukanya karena itu adalah sunnah wanita-wanita mulia dari kalangan istri-istri Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dan shahabiyaat (sahabat dari kalangan wanita).

2. Hijab hendaknya tidak berupa perhiasan
Sebab, Allah melarang wanita untuk bertabarruj. Allah berfirman:

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ
Dan janganlah kamu bertabarruj seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. (QS al-Ahzaab (33:33))
Makna tabarruj adalah: seorang wanita menampakkan hiasannya dan keindahannya dan apa yang wajib disembunyikan dari sesuatu yang bisa mengundang perhatian lelaki.
Disamping itu, fungsi hijab adalah untuk menyembunyikan dan menutupi keindahan wanita dan hiasan-hiasannya agar tidak terlihat oleh kaum lelaki, sebagaimana yang Allah firmankan:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. (an-Nur (24:31))
Maka sungguh tidak masuk akal bila hijab justru berwujud hiasan, manik-manik dan pernak-pernik yang justru menjadikan wanita itu lebih menarik dan mencuri perhatian kaum lelaki.

3. Tidak tipis/ transparan
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda yang artinya:
Dua golongan manusia dari kalangan penduduk Neraka yang aku belum pernah melihatnya... (salah satunya beliau menyebutkan): wanita yang berpakaian tetapi telanjang... mereka itu tidak masuk Surga dan tidak mencium aromanya padahal aroma surga itu bisa dicium dari jarak sangat jauh.
Yang dimaksud oleh hadits di atas adalah wanita yang memakai pakaian yang tipis sehingga tampak apa yang ada di balik pakaian tersebut, mereka disebut berpakaian namun hakikatnya telanjang karena pakaian mereka tidak memiliki fungsi sebagai penutup aurat mereka.

4. Lebar dan tidak ketat
Larangan berpakaian ketat terdapat dalam hadits sebelumnya. Pakaian fungsinya untuk menutupi keindahan tubuh, pakaian yang ketat tidak menjalankan perannya sebagai penutup keindahan tubuh karena ia justru menampakkan lekukannya yang itu akan mengundang syahwat lelaki yang melihatnya.

5. Tidak berlumur parfum/ wewangian
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٌ أَصَابَتْ كَافُوْرًا فَلاَ تَشْهَدَنَّ مَعَنَا الْعِشَاءَ
Siapapun dari kalangan wanita yang terkena wewangian maka jangan hadir bersama kami dalam shalat isya'.

6. Tidak menyerupai pakaian pria
Ibnu Abbas rodhiallahu 'anhu berkata:
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَآءِ وَ الْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَآءِ بِالرِّجَالِ
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam melaknat para lelaki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki.
Yang dimaksud hadits ini adalah tidak diperkenankan bagi lelaki memakai pakaian atau aksesori yang khusus bagi kaum wanita demikian juga sebaliknya.

7. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir
Merupakan sesuatu yang sudah mapan dalam agama kita bahwasanya kaum muslim baik laki-laki maupun perempuan tidak boleh menyerupai kaum kuffar dan musyrikin dalam ibadah mereka, perayaan-perayaan mereka, dan pakaian yang khusus bagi mereka. Sungguh sangat banyak nash-nash syariat yang menjelaskan tentang kaidah ini. Berkenaan dengan larangan menyerupai pakaian mereka, ada sebuah hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Amr radhiallahu 'anhu beliau berkata yang artinya:
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam melihatku memakai dua helai pakaian yang bercelupkan usfur (celupan berwarna kuning) maka beliau bersabda: 'Sesungguhnya ini adalah pakaian orang-orang kafir maka jangan kamu memakainya'.

8. Tidak berupa pakaian ketenaran
Berdasarkan hadits Ibnu Umar rodhiallahu 'anhu bahwasannya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 من لبس ثوب شهرة في الدنيا ألبسه الله ثوب مذلة يوم القيامة
Barang siapa memakai pakaian ketenaran di dunia maka Allah akan pakaikan kepadanya pakaian kehinaan pada hari kiamat kemudian Allah menyalakan api padanya.
Yang dimaksud "pakaian ketenaran" adalah semua pakaian yang dipakai dengan maksud menjadikan diri pemakainya tersohor di kalangan manusia, baik berupa pakaian yang terlalu mewah dikenakan untuk berbangga-bangga dengan perhiasan dunia, maupun pakaian yang terlalu jelek untuk riya' dan menampakkan pemakainya sebagai ahli zuhud.
Demikianlah, semoga Allah melindungi kaum muslimin dan muslimat dari pakaian yang menyelisihi kriteria syariat. Semoga Allah membimbing kita semua menuju keridhaan-Nya. Aamiin yaa robbal'aalamiin.

Hafid Musthofa Abu Najah, Lc hafidhohullah.

Sumber: Buletin Dakwah Islam "al-Furqon" Tahun ke 12 Volume 3 No. 2

Rabu, 23 Agustus 2017

Download kalender Islam 1438 - 1439 Hijriah (tahun 2017)

Bismillah,
Sudah 3 tahun atau 4 tahun lebih tidak update untuk berbagi kalender hijriah, pada kesempatan kali ini saya berbagi kalender hijriah tahun 2017 masehi yang saya buat menggunakan aplikasi inkscape dan kemudian dijadikan gambar berformat .png lalu disimpan juga dalam bentuk pdf menggunakan LibreOffice dengan cepat dan mudah dan semoga saja ini bermanfaat untuk saya dan sobat sekalian yang sedang mencari kalender hijriah tahun 2017 masehi. Berikut ini adalah gambar dan juga file pdf tanggal tersebut:
Sampul kalender islam tahun 2017
Halaman 1 kalender islam tahun 2017
Halaman 2 kalender islam tahun 2017

Untuk file pdfnya silahkan download di salah satu link berikut:
Via Upfile.mobi

Jika kesulitan silahkan via salah satu link berikut:
Download via Upfile
 Download via Mega
Sekian share kali ini, semoga bermanfaat.

Jumat, 18 Agustus 2017

Berdoalah, Wahai Kaum Muslimin!

Bismillah,
12-4-3 Berdoalah wahai kaum muslimin - karyafikri.blogspot.com
Berdoalah, wahai kaum muslimin!

Allah menciptakan jin dan manusia di muka bumi ini hanyalah untuk mengibadahi Allah semata, sebagaimana Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ اْلجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS. adz-Dzaariyaat (52): 56)

Diantara macam ibadah adalah berdoa kepada Allah, jika demikian maka tidak boleh bagi kita memalingkan doa  kepada selain Allah. Nah, sudahka kita berdoa wahai kaum muslimin?

1. Perintah Allah agar kita berdoa kepada-Nya
Doa adalah ibadah yang mulia, dan Allah memerintahkan kepada kita sebagai hamba-Nya agar senantiasa memohon kepada-Nya, Allah berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُم ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Dan Rabbmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu" (QS. al-Mu'minun(40): 60)

Begitu pula Allah berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
Dan apabila hambaku-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. (QS. al-Baqarah(2): 186).
Jika berdoa merupakan perintah dari Allah maka wajib bagi kita untuk senantiasa berdoa kepada-Nya.

2. Doa adalah ibadah
Doa adalah bagian dari ibadah, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, yang artinya: "Doa adalah ibadah." (Lihat Silsilah ash-Shahiihah: 2654).
Jika demikian halnya maka di dalam berdoa hendaknya kita tujukan doa itu hanya kepada Allah dan kaifiyah (tata cara) dalam berdoa mengikuti (ittiba') kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, karena dua hal tersebut merupakan syarat diterimanya sebuah ibadah.

3. Macam-macam doa
Syaikh 'Utsaimin berkata: Doa itu ada dua macam, yaitu doa ibadah dan doa mas'alah. Ketika kita shalat dan di dalamnya kita membaca doa-doa yang telah ditetapkan Allah maka ini doa ibadah, namun ketika kita punya hajat atau kebutuhan tertentu kemudian kita berdoa, "Ya Allah, jadikanlah usaha kami sukses" atau yang semisalnya maka ini adalah doa mas'alah. (Lihat Syarah Riyadhus-Shalihin (4:37)).

4. Syarat dikabulkannya doa
Ketika seseorang berdoa kepada Allah maka dia berharap agar Allah mengabulkan doa-doanya. Dikabulkannya doa seorang hamba oleh Allah harus memenuhi persyaratan yang telah Allah tetapkan. Diantara syarat agar dikabulkannya doa-doa seorang hamba adalah:
- Ikhlasnya niat
Amal ibadah seoranghamba diterima atau ditolak oleh Allah tergantung pada niatnya, jika niatnya karena Allah semata maka Allah akan menerimanya atau mengabulkan doanya kalau untuk yang lainnya maka Allah tidak sudi mengabulkannya, karena Allah telah disekutukan dengan yang lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang artinya "Sesungguhnya semua amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang itu (diganjar atau disiksa, Pen.) tertangung pada niatnya..." (HR al-Bukhari (1) dan Muslim (1907)).
Maka dari itu mari kita ikhlaskan niat dalam semua doa yang kita panjatkan hanya kepada Allah.

- Tidak melampaui batas
Termasuk dalam hal ini adalah doa yang di dalamnya terdapat permusuhan, walaupun doa orang tua terhadap anak kandungnya yang di dalamnya terdapat permusuhan, maka doanya tidak dikabulkan, hal ini berdasarkan firman Allah:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ اْلمُعْتَدِينَ
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. al-A'raf(7):55).
Andai saja seseorang berdoa memohon kepada Allah sesuatu yang haram maka Allah tidak mengabulkannya, karena hal itu melampaui batas, begitu pula jika seseoranag berdoa yang tidak syar'i, seperti "Ya Allah, jadikanlah aku seorang nabi". Maka hal itu tidak boleh dan doanya tidak dikabulkan oleh Allah. Karena itu, hendaknya dalam cara berdoa kita / meminta kepada Allah dan apa yang kita minta harus sesuai dengan syariat tak boleh melampaui batas.

- Tidak main-main dalam berdoa
Ketika berdoa kepada Allah hendaknya bersungguh-sungguh dan memiliki keyakinan bahwa doanya dikabulkan oleh Allah, bukan main-main atua percobaan. Karena ada di antara manusia yang berdoa kepada Allah dengan coba-coba, apakah doanya dikabulkan atau tidak. Hal ini tidak dikabulkan oleh Allah. Maka hendaknya ketika engkau berdoa kepada Allah harus memiliki keyakinan yang besar bahwa doamu akan dikabulkan oleh Allah. Akan tetapi, jika berdoa namun dirinya ragu akan terkabulkan doa tersebut maka Allah tidak mengabulkannya.

- Menjauhi perkara-perkara yang haram
Diantara perkara-perkara yang harus dijauhi agar doanya mustajab adalah: tidak memakan makanan yang haram dan tidak meminum minuman yang haram. Jika seseorang makan makanan yang haram baik secara dzatnya haram atau memperolehnya dengan cara riba, menipu, atau yang semisal dengannya maka Allah tidak akan mengabulkan doanya.
Sebagaimana hal ini disabdakan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam yang artinya: "Sesungguhnya Allah itu indah dan tidak menerima kecuali yang indah saja, dan Allah telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana Allah memerintahkan kepada para rasul (yang artinya): 'Hai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.' (QS al-Mu'minun (23): 51)). Dan firman Allah yang artinya: 'Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.'" (QS. al-Baqarah(2): 172)).
Kemudian Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan seseorang yang menempuh perjalanan yang teramat jauh (safar), kusut rambutnya, berdebu tubuhnya, dan mengangkat kedua tangan ke langit seraya berkata: "Ya Rabb! Ya Rabb!" sedangkan makan dan minumannya haram, pakaian yang dikenakan haram, lalu mana mungkin doanya dikabulkan? (HR Muslim 1015).
Dalam hadits ini Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam menyatakan doanya tertolak (tidak dikabulkan) padahal orang tersebut telah mendatangkan beberapa hal yang membuat doanya dikabulkan, seperti: dalam keadaan safar, mengangkat kedua tangannya, bertawassul dengan mengucapkan "Ya Rabbi! Ya Rabbi", namun ketika makanan yang dimakannya haram, minumannya haram maka doanya tidak dikabulkan.

5. Memperbanyak doa
Ketika kita telah mengetahui bahwasanya doa adalah ibadah, sebagaimana penjelasan di atas. Dan sebagaimana firman Allah yang artinya: "Dan Rabbmu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari meyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina-dina." (QS Ghaafir(40): 60).
Maksud dari menyombongkan diri dari menyembah-Ku di sini adalah "tidak berdoa kepada Allah". Dan doa memiliki manfaat yang teramat banyak sebagaimana hal itu disabdakan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam yang artinya: "Doa itu memberi manfaat terhadap semua yang telah turun maupun yang belum, maka wajib atas kalian, wahai hamba-hamba Allah, untuk berdoa." (Shahiihul-Jaami': 3409).
Maka wahai kaum muslimin! Seharusnya kita senantiasa dan memperbanyak doa, karena doa adalah ibadah yang paling mulia di sisi Allah, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam yang artinya: "Tidak ada sesuatupun yang paling mulia di sisi Allah daripada berdoa" (Lihat Shahiihul-Jaami': 5392).

6. Menghadirkan hati ketika berdoa
Seyogyanya bagi orang yang berdoa menghadirkan hati dan pikirannya ketika berdoa. Tak seharusnya lisannya berdoa, tetapi hatinya tidak berkonsentrasi ketika berdoa, maka sangat memungkinkan doanya tidak dikabulkan oleh Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam yang artinya "Berdoalah kepada Allah dan engkau yakin bahwasannya doamu dikabulkan, dan ketahui! Sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa yang hatinya lalai ketika berdoa." (Shahiih at-Tirmidzi: 2766).
Dari sini kita mengetahui akan kewajiban menghadirkan hati dan pikiran (konsentrasi) ketika berdoa kepada Allah, serta merenungkan apa yang diucapkannya, dan hendaknya doa keluar dari hatinya sebelum keluar dari lisannya, sebagaimana dijelaskan pada hadits di atas.

7. Memulai berdoa dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam
Sudah dimaklumi bersama, wahai kaum muslimin! Hendaknya kita memulai semua urusan kita dengan memuji Allah, karena Allah berhak atas segala pujian,, maka jika seseorang memuji Allah ketika berdoa, hal tersebut lebih mendekatkan doanya dikabulkan. Bukankah telah sampai kabar kepada kita bahwasannya Nabi Muhammad shallahu 'alaihi wa sallam pada hari kiamat nanti sujud teramat lama sekali, kemudian setelah itu memuji Allah dengan pujian yang teramat banyak, kemudian Allah mengizinkan dalam permasalahan itu seraya berkata: "... Ya Muhammad! Angkatlah kepalamu! Dan berkatalah! Maka perkataanmu akan didengar, Mintalah! Pasti diberi (dikabulkan). Dan mintalah syafaat pasti engkau akan diberi syafaat..." (HR al-Bukhari: 7510 dan Muslim: 197).
Lihatlah! Bagaimana Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam memulai doanya dengan memuji Allah. Rasulullah pernah mendengar seseorang yang berdoa tanpa memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, maka Rasulullah  shalallahu 'alaihi wa sallam memanggilnya dan berkata kepadanya: "Jika seseorang berdoa maka hendaklah dia memulainya dengan memuji serta menyanjung Allah dan bershalawat kepada Nabi, setelah itu silahkan berdoa sekehendaknya" (Lihat Shahiih Abu Daawud: 1314).

8. Penutup
Adab-adab berdoa teramat banyak, wahai kaum muslimin, yang tidak bisa kita uraikan semuanya dalam buletin kali ini, seperti: berdoa dalam keadaan suci - itu lebih utama meski tidak wajib-, mengangkat kedua tangan, memulai untuk diri sendiri baru orang lain, dan sebagainya. Semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semuanya. Aamiiin.

Abu Rima Asik Amali ibn Zainuddin Rozi, Lc. Hafidhohullah

Sumber: Buletin Dakwah Islam "Al-Furqon" tahun ke-12 volume 4 no. 3

Minggu, 13 Agustus 2017

Antara Ruqyah dan Aqidah

Bismillah,
Antara Ruqyah dan Aqidah
Antara Ruqyah dan Aqidah
Perlu dipahami bahwa setan punya skala prioritas dalam menjerumuskan bani Adam. Favorit utama setan adalah kekufuran dan kesyirikan. Dengan kata lain, aqidahlah target pertama mereka. Sebab, aqidah merupakan perkara yang fundamental pada diri seseorang. Bila ia rusak, dijamin akan rusak pula sisi-sisi lain dalam kehidupannya.
Dari sini kita mengetahui mengapa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dan para rasul lainnya memulai dakwah mereka terhadap aqidah/ tauhid, yakni karena ia merupakan fondasi beragama. Bila aqidah/ tauhid kuat, bangunan di atasnya pun akan kuat. Sebaliknya, bila ia rapuh niscaya akan lebih rapuh lagi yang di atasnya.

Kroni setan
Demi kelancaran proyek penyesatan manusia, setan berkolaborasi dengan rekan-rekan seprofesi dari bangsa lain. Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan, "Begitulah ketetapan Kami. Setiap nabi, Kami hadapkan dengan musuh dari golongan manusia dan jin. Mereka saling membisikkan kepada yang lain perkataan manis yang penuh tipuan." QS. al-An'am (6): 112
Dalam shahih al-Bukhari disebutkan secara spesifik siapa rekan utama setan tersebut. 'Aisyah rodhiyallahu 'anha bertutur: "Suatu hari, ada orang yang bertanya kepada Nabi shalallahu 'alaihi wasallam tentang para dukun." Jawab beliau: "Mereka tidak ada apa-apanya!" Para sahabat menyambung, "Wahai Rasulullah, sungguh mereka terkadang menyampaikan suatu berita dan ternyata benar." Maka Nabi shalallahu 'alaihi wasallam menjelaskan: "Berita benar itu dicuri oleh jin, lalu dibisikkannya ke telinga rekan dekatnya layaknya suara ayam berkotek. Lalu diramunya dengan lebih dari seratus dusta." HR al-Bukhari no. 7561

Rambu-rambu ikhtiar
Diantara potren keindahan ajaran Islam, selain mengajarkan tawakkal, agama kita juga memotivasi umatnya agar berikhtiar, berdaya upaya dan berusaha untuk menggapai keinginan serta cita-citanya. Orang sakit yang menginginkan kesembuhan diperintahkan oleh Islam untuk berobat. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda (artinya): "Berobatlah! Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala tidaklah menurunkan penyakit melainkan menciptakan obatnya. Kecuali satu penyakit, yaitu penyakit tua." HR. Abu Dawud (4: 125 no. 3855) dan dinilai hasan shahih oleh at-Tirmidzi (hlm 461 no 2039).
Diantara rambu-rambu ikhtiar, yang amat disayangkan masih sering dilanggar, termasuk di negeri kita, larangan Islam untuk memanfaatkan 'jasa' dukun, paranormal, tukang sihir, dan yang semisal. Padahal panutan kita Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam telah mengingatkan dengan tegas:
"Barang siapa mendatangi peramal lalu menanyakan sesuatu kepadanya maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam." HR Muslim (4:1751 no. 22230).
Hadits lain memberikan statement lebih keras lagi: "Barang siapa mendatangi dukun atau tukang sihir lalu mempercayai apa yang dikatakannya maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam." HR. al-Bazzar (5:315 no. 1931) dari Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu. dan sanadnya dinilai shahih oleh Ibnu Katsir.

Apa itu "Ruqyah"
Ruqyah adalah membacakan sesuatu pada orang yang sakit, bisa jadi karena terkena 'ain (mata hasad), sengatan, sihir, racun, rasa sakit, sedih, gila, kerasukan, dan lainnya. Ruqyah di kalangan para dukun atau paranormal dikenal dengan istilah jampi-jampi. Adapun ruqyah yang syar'i ada ketentuannya sebagaimana disebutkan dalam tulisan berikut. Jika tidak memenuhi kriteria yang ada maka ruqyah tersebut tidak jauh dari jampi-jampi yang dilakukan oleh para dukun.

Pengobatan islami untuk penyakit sihir
Perlu kiranya kita mempelajari pula cara pengobatan seseorang terkena sihir. Sebab, banyak orang yang keliru dalam hal ini. Mereka memilih jalan pintas dengan mendatangi dukun atau 'orang pintar' sehingga yang terjadi adalah fenomena 'jeruk makan jeruk'! Padahal Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam manakala ditanya tentang nusyrah (pengobatan orang yang terkena sihir), beliau shalallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Itu adalah perbuatan setan." HR Abu Dawud (4:201 no. 3868) dan isnadnya dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam catatan kaki beliau atas Misykat al-Mashabih karya at-Tibrizi (2:1284 no. 4553).
Yang dikategorikan termasuk perbuatan setan adalah jenis pengobatan sihir orang-orang jahiliyah (Mirqah al-Mafatih karya al-Mulla 'Ali al-Qari 8:373 dan 'Aun al-Ma'bud karya Syamsul Haq 10:249). Diantaranya ialah pengobatan sihir dengan sihir serupa karena sama saja dengan melariskan tukang sihir dan membenarkan perilaku mereka yang berkolaborasi dengan setan dalam menjalankan pekerjaannya (Lihat Ma'arij al-Qabul karya Syaikh Hafizh Hakami 2:711).
Apalagi kenyataan di lapangan membuktikan bahwa pengobatan sihir dengan sihir serupa hanya akan mengakibatkan terjadinya silsilah yang tidak ada putusnya. Sebab, manakala tukang sihir tersebut kalah, maka pelaku akan mencari tukang sihir lain yang lebih 'sakti'. Tatkala korban terdesak ia akan mencari tukang sihir lain yang lebih kuat, begitu seterusnya. Ia berpindah dari satu tukang sihir ke tukang sihir lainnya. (Majalah Ghoib edisi 58 hlm 9-10).

Ruqyah syar'iyyah
Ruqyah syar'iyyah atau pembacaan ayat-ayat suci al-Qur'an dan dzikir-dzikir yang diajarkan Rasul shalallahu 'alaihi wa sallam. Allah azza wa jalla berfiman yang artinya:
Kami turunkan al-Quran sebagai penyembuh. (QS al-Isra' (17):82)
Al-Quran merupakan obat penyakit jasmani maupun rohani (lihat al-Mufhim karya Abdul 'Abbas al-Qurthubi 5:581, Zaad al-Ma'aad karya Ibnul Qaayyim 4:352, dan Fath al-Qadir karya asy-Syaukani 1:1298). Adapun dalil dari sunnah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam antara lain: kisah ruqyah Jibril atas Nabi shallahu 'alaihi wa sallam diruqyah dengan dibacakan surat al-Falaq dan an-Nas.
Seluruh ayat al-Quran bisa dipakai untuk ruqyah, tidak harus dipilih ayat-ayat tertentu. Dengan memberikan perhatian khusus terhadap surat-surat yang pernah dipakai di zaman Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam untuk meruqyah atau surat yang dijelaskan secara spesifik berkhasiat mengusir setan semisal surat al-Fatihah, al-Baqarah, al-Ikhlash, al-Falaq, dan an-Nas. Kemudian ditambahkan dengan bacaan-bacaan yang disebutkan dalam hadits shahih, semisal:
"Ya Allah, Rabb para manusia, yang menghilangkan penyakit. Sembuhkanlah, sesungguhnya Engkau Maha penyembuh. Tidak ada penyembuh selain Engkau. Berilah kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit" HR al-Bukhari dari Anas ibn Malik radhiallahu 'anhu.
"Dengan nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu. Berupa kejahatan setiap jiwa atau mata yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu". HR Muslim dari Abu Sa'id al-Khudri radhiallahu 'anhu.
Tidak ada perselisihan pendapat di antara para ulama mengenai haramnya berobat dengan cara syirik. Contoh ruqyah syirkiyah adalah ruqyah yang bermuatan permintaan tolong kepada selain Allah azza wajalla.

Siapa yang boleh meruqyah?
Ruqyah bukanlah monopoli seorang. Siapapun orang yang beriman dan bisa membaca al-Quran boleh meruqyah, namun seyogyanya ia khusyuk saat meruqyah, berusaha memahami bacaan ruqyah, dan mengiringinya dengan keyakinan penuh akan khasiat dan kemujaraban ruqyah tersebut. Baik dalam diri peruqyah maupun yang diruqyah. Tidak cukup jika niatnya hanya coba-coba. (Lihat at-Tamhid karya Ibnu Abdil Barr 23:29, Azhar ar-Riyaadh karya al-Qadhi 'Iyadh 2:350, Fathul Baari karya Ibnu Hajar 10:196, ath-Thibb an-Nabawi karya Ibnul Qayyim hlm. 101, dan al-Fatawa adz-Dzahabiiyah fi ar-Ruqaa asy-Syar'iyah hlm. 21). Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Mohonlah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin dikabulkan. Ketahuilah Allah tidak mengabulkan permohonan yang muncul dari hati yang lalai". HR at-Tirmidzi halaman 790 no. 3472 dan dihasankan oleh al-Albani.

Memusnahkan media sihir
Di awal ayat keempat surat al-Falaq dijelaskan bahwa dalam rangka mengerjakan sihirnya para tukang sihir memakai media buhul, salah satu cara tuntas pengobatan sihir adalah dengan memusnahkan media sihir, baik itu buhul ataupun yang lainnya.
Sebagaimana peristiwa disihirnya Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dan penguraian media sihirnya oleh 'Ali ibn Abi Thalib radhiallahu 'anhu. Zaid ibn Arqam radhiallahu 'anhu mengisahkan kejadian tersebut: "Seorang Yahudi menyihir Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Beliau menderita. Jibrilpun mendatanginya dan menurunkan pada beliau surat al-Falaq dan an-Nas. Malaikat Jibril berkata, 'Seorang Yahudi telah menyihirmu. (Buhul) sihirnya ada di sumur si fulan.' Kemudian 'Ali diutus untuk mengambilnya dan menguraikan buhul tersebut sambil dibacakan ayat. 'Ali pun membaca sambil menguraikannya, hingga Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bangkit kembali seperti orang yang baru lepas dari belenggu. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam sama sekali tidak mengomentari perbuatan Yahudi tersebut. Hanya, beliau berpesan: 'Aku tidak mau melihat wajahnya'". HR 'Abd ibn Humaid 1:228 no 271 sanadnya dishahihkan oleh Salim al-Hilali dan muhammad alu Nashr. Semoga Allah senantiasa menjaga aqidah kita dari segala kesesatan. Aamiiin.

oleh: Rifaq Asyfiya', LC hafidhohullah

Sumber: Buletin Dakwah Islam "al-Furqon" tahun ke 12 Volume 6 No.1

Jumat, 04 Agustus 2017

Setelah berhijrah, istiqomahlah! Jangan pernah berbalik arah.

Bismillah,
Jika sudah tahu jalan kebenaran, tempuhlah meski dengan merangkak dan jangan pernah berbalik arah. Tetaplah menempuh jalan itu meski sulit karena banyak sekali godaan dan penghalau. Bersabarlah, istiqomahlah dan minta kepada Allah akan hal itu.
Setelah berhijah, istiqomahlah! Jangan pernah berbalik arah.
Setelah berhijah, istiqomahlah! Jangan pernah berbalik arah.
HIDAYAH ADALAH ANUGERAH TERBESAR
.
Saudaraku, bersyukurlah kepada Allah ketika engkau dapati dirimu termasuk orang yang dipilih-Nya untuk mendapatkan hidayah dari-Nya.
.
Sebanyak tujuh belas kali dalam sehari, di setiap raka’at shalat kita, kita memohon petunjukNya.
.
“Tunjukilah (berilah hidayah) kami kepada jalan yang lurus.” (Al-Fatihah: 6)
.
Berbahagialah kawan dengan hidayah yang Allah berikan kepadamu dan jangan biarkan hidayah itu berlalu darimu. Mintalah selalu kekokohan dan keistiqamahan di atas iman kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan doa. Teruslah mempelajari agama Allah. Hadirilah selalu majelis ilmu. Dekatlah dengan ulama, cintai mereka karena Allah. Bergaullah dengan orang-orang shalih dan jauhi orang-orang buruk yang membuatmu kembali ke masa lalu, mengganggu keistiqomahanmu di atas agama serta membuatmu terpikat dengan dunia. Semua ini sepantasnya engkau lakukan dalam upaya menjaga hidayah yang Allah anugerahkan kepadamu. Satu lagi yang penting, jangan engkau jual agamamu karena menginginkan dunia, karena ingin harta, tahta, dan karena cinta kepada lawan jenis. Sekali-kali janganlah engkau kembali ke belakang. Kembali kepada masa lalu yang suram karena jauh dari hidayah dan bimbingan agama.
.
Sadarilah kawan bahwa hidayah adalah anugerah Allah yang teragung dan terindah. Bila kita diperintahkan untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah, maka nikmat hidayah adalah yang paling harus kita syukuri. Syukur dengan ucapan, perbuatan dan pengakuan bahwa nikmat itu datang dari Allah.
.
Adapun seorang yang semula ia berjalan di atas kebenaran tersebut, berada di dalam hidayah, namun kemudian ia futur (patah semangat, tidak menetapi kebenaran lagi, red.) dan lisan halnya mengatakan ‘selamat tinggal kebenaran’? Wallahul Musta’an. Sungguh setan telah berhasil menipu dan mengempaskannya ke jurang yang sangat dalam.
.
Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, di atas ketaatan kepada-Mu. Amin ya Rabbal ‘alamin ….
.
Wallahu a’lam bish-shawab.
.
Referensi :
muslim (dot) or (dot) id
asysyariah (dot) com
.
Silakan dishare, semoga bermanfaat :)
--- Diambil dari FP: Islam itu Indah ---

Jumat, 28 Juli 2017

Tentang Hidup: Hidup ini... Antara Kata Mereka dan Apa yang Kurasa

Bismillah,
Hidup ini... Antara Kata Mereka dan Apa yang Kurasa
Hidup ini... Antara Kata Mereka dan Apa yang Kurasa
Kata orang hidup itu sulit, tetapi juga di sisi lain ada orang berkata hidup itu mudah, hidup itu dibikin enjoy saja atau yang penting happy. Dan masih banyak lagi entah apa lagi kata mereka tentang hidup ini, tetapi setiap orang pasti memiliki pandangan tersendiri tentang hidup atau kadang sama dengan orang lain baik sengaja maupun tidak sengaja. Nah, pada kesempatan kali ini saya akan coret-coret sedikit tentang topik ini yang semoga saja dapat memberikan manfaat kepada para sobat pembaca.

Kalau dalam pikiran saya yang sederhana, hidup ini adalah untuk mencari bekal di akhirat karena sebagai orang Islam mengetahui dengan dalil baik dari al-Quran maupun hadits bahwa hidup di dunia itu adalah ujian selain itu fana dan juga sebentar dan akhirat adalah lebih baik dan kekal maka kita harus memperbanyak ibadah dan amal kebaikan yang kita berharap kebada Allah dengan rahmat-Nya agar dengan itu kita dapat dimasukkan kepada surga-Nya yang abadi.

Jadi, hidup ini memang tidaklah mudah tetapi juga tidak sulit. Sehingga yang perlu kita atur adalah cara pandang kita terhadap kehidupan ini, dan berikut ini adalah beberapa kata-kata hikmah / motivasi yang semoga saja bermanfaat untuk saya dan para pembaca sekalian:
  • Hidup itu sudah sulit, jangan kau persulit lagi
  • Hidup itu mudah / ringan, jangan kau jadikan beban
  • Jika kau dalam masalah hidup yang banyak dan dalam maka bersabarlah, dan jika kau dalam kelapangan maka bersyukurlah
  • Rizki yang diberikan Allah akan cukup untuk hidup, tetapi tidak akan pernah cukup untuk gaya hidup
  • Hidup ini murah, gengsimu yang mahal
  • Jika kau dalam kesulitan segera sujudlah untuk mengadukan kepada ALLAH, dan jika kau dalam kebahagian segera berdirilah menuju shalat kepadaNYA
  • Jika di atas jangan sombong, dan jika di bawah jangan sedih dan merasa merana
  • Kunci kebahagiaan adalah syukur
  • Kekayaan yang sebenarnya adalah dalam hati yang merasa cukup dan selalu bersyukur
  • Rugi dunia tak jadi apa, rugi di akhirat akan celaka selamanya
  • Lihatlah orang yang di bawahmu jika masalah dunia (dalam hal ekonomi), dan lihatlah orang di atasmu jika masalah akhirat (dalam hal ibadah)
  • Lain-lain yang dapat Anda cari di google baik dari gambar maupun teks dengan kata kunci "kata-kata motivasi hidup", "kata hikmah motivasi agar semangat hidup", dan sebagainya :).
Sekian coretan kali ini, semoga bermanfaat.

Minggu, 06 November 2016

Ikuti Aksi Bela Al-Quran Setiap Hari, Yuk!

Bismillah,
Mengisi sebuah blog yang mungkin sudah banyak sarang laba-labanya jika diibaratkan rumah. Yah, hanya sebuah coretan singkat untuk memanfaatkan momentum saja, ya kemarin lusa kan ada aksi damai bela Al-Qur'an pada tanggal 4 november 2016 atau 4-11.

Nah tapi kali ini saya bukan mengajak sobat untuk turun ke jalan, tapi pada posting ini saya hanya akan berbagi sebuah gambar yang berisikan ajakan untuk MEMBALA AL-QUR'AN setiap hari, bagaimana caranya? Mudah kok, baca, renungi dan amalkan. Baca di mana saja dan kapan saja, kecuali di tempat yang terlarang..... cek this out sob............

Aksi bela alquran setiap hari

Di bawah tulisan "AKSI BELA AL-QURAN SETIAP HARI" terdapat sebuah terjemahan surat Fathir ayat 29 yang menjelaskan keutamaan membaca al-qur'an sob. Berikut ini adalah teksnya:
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allahdan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagiandari rezeki yang Kami anugerahkan kepada merekadengan diam-diam dan terang-terangan,mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”.(QS. Fathir: 29).".

Yups, perdagangan yang tidak ada ruginya dan bahkan akan banyak sekali keuntungannya tentu dapat kita petik nanti di akhirat, InsyaAllah.

Sekian share kali ini, semoga bermanfaat.

Kamis, 24 Maret 2016

Penerimaan Santri Baru Ma'had al-Qudwah al-Islamy - Kec. Ringinrejo Kab. Kediri - Jawa Timur

Bismillah,
Informasi penerimaan santri baru di Ma'had al-Qudwah al-Islamy "Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) meliputi: Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-kanak (TK) dan Pendidikan Kesetaraan (setara SD, SMP, dan SMA)" Tahun ajaran 2016/ 2017.

Alamat ma'had: Desa Susuhbango Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri - Jawa Timur Indonesia. Silahkan hubungi: 0857 4545 0546.

Program Pendidikan:
Ma'had al Qudwah al Islami menyelenggarakan pendidikan dengan program kesetaraan untuk SD, SMP, SMA (paket A, paket B, paket C). Wajib asrama khusus untuk pendidikan setara SMP dan berlanjut Takhosus Ilmi (setara SMA).
Jenjang masa pendidikan sebagai berikut:
- PAUD 3 tahun
- SD 6 tahun
- SMP berlanjut Takhosus Ilmi 6 tahun
- Pengabdian 1 tahun

Program Unggulan:
PAUD
- Hafalan al-Quran juz 30,
- Penanaman aqidah yang benar dan akhlak yang baik
- Hafalan hadits dan doa pilihan
SEKOLAH DASAR
- Hafalan 5 juz dari al-Quran
- Aktif berbahasa Arab dengan mufrodat sederhana
- Penanaman aqidah yang benar dan akhlak yang baik
SMP (khusus putra)
- Hafalan al-Quran 30 juz
- Mampu berbahasa inggris aktif maupun pasif
- Pembekalan skill:
  1. Elektronika dan komputer
  2. Pertukangan dan desain
  3. Internet marketing dan enterprenuership
  4. Pengobatan dan herbal
TAKHOSUS ILMI (setara SMA)
- Lancar berbahasa arab baik lisan dan tulisan
- Hafal kitab-kitab kecil para ulama' salaf (ulama terdahulu)
- Pembekalan skill:
  1. Elektronika dan komputer
  2. Pertukangan dan desain
  3. Internet marketing dan enterprenuership
  4. Pengobatan dan herbal
Waktu dan tempat pendaftaran:
WAKTU
1 Februari 2016 sampai 31 Juli 2016
Senin - Sabtu jam 07.30 - 10.00 WIB
TEMPAT
PAUD: Dusun Kromasan Desa Bendosari Kec. Kras (Kediaman Ust. Rofiq)
SD & SMP: Desa Srikaton Kec. Ringinrejo
*Pendaftaran ditutup sewaktu-waktu jika kuota terpenuhi

Syarat Pendaftaran:
PAUD
- Mengisi formulir pendaftaran (disediakan)
- Membayar biaya pendaftaran Rp 30.000,-
- Fotocopy Akta Kelahiran 1 lembar
SEKOLAH DASAR
- Mengisi formulir pendaftaran (disediakan
- Membayar biaya penaftaran Rp 70.000,-
- Fotocopy Akta Kelahiran 1 lembar
- Foto berwarna 3x4 (2 lembar)
- Mengisi surat pernyataan kesanggupan mengikuti program sekolah
SMP & SMA (1 paket)
- Mengisi formulir pendaftaran (disediakan
- Membayar biaya penaftaran Rp 150.000,-
- Fotocopy Akta Kelahiran 1 lembar
- Fotocopy ijazah terakhir yang dilegalisir (2 lembar)
- Foto berwarna 3x4 (2 lembar)
- Mengisi surat pernyataan kesanggupan mengikuti program sekolah

Tes Masuk
1. Tes tulis, meliputi: Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, PKN
2. Tes baca tulis al Quran
3. Tes menghafal
4. Tes wawancara

PUSAT INFORMASI
PAUD | Ustadz Khusnul 085 736 332 927
SD | Ustadz Aga 085 755 528 771
SMP | Ustadz Indra 085 745 450 546

Berikut brosurnya, (silahkan disimpan/ diunduh):
Penerimaan Santri Baru Ma'had al-Qudwah al-Islamy - Kec. Ringinrejo Kab. Kediri - Jawa Timur

Sekian share kali ini, semoga bermanfaat.

Selasa, 16 Februari 2016

Wasiat Rasulullah kepada Ibnu Abbas

Bismillahirrohmanirrohim,
wasiat rasullah kepada ibnu abbas (karyafikri.blogspot.com)
Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad beserta segenap keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang baik hingga hari kiamat. Amma ba'du.

Para pembaca yang dirahmati Allah, Sahabat yang mulia Abdullah ibn Abbas rodhiallahu 'anhu pernah mengatakan:
كنت خلف رسول الله صلىالله عليه وسلم يوما فقال ياغلام إني أعلمك كلم احفظ الله يحفظك احفظ الله تجده تجاهك إذاسإلت فابأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله واعلم ان الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ولو اجنمعوا على أن يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك رفعت الأقلام وج-فت الصحف
"Aku pernah di belakang Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, 'Wahai anak muda, aku akan megnajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapatiNya di hadapanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberi manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu madarat (bahaya) kepadamu, maka mereka tidak akan dapat menimpakan madarat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.'"

Itulah wasiat Nabi shalallahu 'alaihi wasallam kepada anak pamannya, Ibnu Abbas rodhiallahu 'anhu. Sebuah wasiat yang sangat berharga mengandung pelajaran-pelajaran agama Islam yang sangat banyak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin sedikit menguraikan makna dari wasiat tersebut, selamat membaca.

Takhrij Hadits
Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2516), Ahmad (1/293, 303, 307), al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman (no. 192), dll.
Sebagaimana disebutkan oleh al-Albani dalam Zhilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah (no. 315-318) dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah hadits 2383 - maktabah syamilah).

Perawi Hadits
Ibnu Abbas, beliau Abdul Abbas Abdullah ibn Abbas rodhiallahu 'anhu, termasuk shigharush shahabah (sahabat muda) dan beliau juga merupakan anak paman Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dan banyak meriwayatkan hadits dari Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Nabi shalallahu 'alaihi wasallam pernah mendoakan Ibnu Abbas rodhiallahu 'anhu:
َاَللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الِّدينِ َوعَلِّمْهُ التَّأْوِيْل
"Ya Allah, pahamkan dia terhadap agama dan ajarilah ia ilmu tafsir".
(Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 2589 - maktabah syamilah)

Karena keberkahan doa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam tersebut, ia menjadi orang yang pakar dalam tafsir al-Qur'an dan pakar dalam ilmu agama lainnya, hingga beliau digelari "Habrul Ummah" (Ahli ilmu umat ini). Ia dilahirkan tiga tahun menjalang peristiwa hijrah Nabi Muhammad shalallahu 'alaihhi wasallam dan meninggal dunia pada tahun 67 atau 68 Hijriyah.

Penjelasan Hadits
- Lafaz: "Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu"
Maksudnya, jagalah batas-batas Allah dan syariat-Nya dengan mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, maka Allah akan menjagamu pada agamamu, keluargamu, hartamu, dan jiwamu karena Allah akan membalas orang yang berbuat baik dengan kebaikan dan bahwasannya balasan sesuai dengan perbuatan.

- Lafaz: 'Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu"
Maksudnya, barang siapa menjaga batas-batas Allah dan syariat-Nya, maka Allah akan bersamanya dalam setiap keadaan. Allah akan selalu memperhatikannya, menjaganya, memberikan taufik kepadanya, meluruskannya, dan senantiasa melindungi dan menolongnya. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Artinya: "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebajikan" (QS an-Nahl [16] - 128)

- Lafaz: 'Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah"
Maksud dari "meminta" di hadits ini adalah doa, sedangkan doa adalah ibadah. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
ُاَلدُّعًاءُ هُوَ الْعِبَادَة
"Doa adalah ibadah". (Shahih al-Jami' no. 3407 - maktabah syamilah)
Maka doa tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah, barangsiapa yang berdoa kepada selain Allah maka dia telah terjatuh dalam kesyirikan.

Adapun tentang meminta-minta kepada manusia dalam urusan dunia yang mampu diwujudkan, maka terdapat dalil-dalil yang banyak melarang dan mengecamnya. Diantaranya, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
ما يزال الرجل يسأل الناس حتى يأتي يوم القيامة وليس في وجهه مزعة لحم
"Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain, hingga ia datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya" (HR. Muslim: 10-40 - maktabah syamilah)
Hadits ini menunjukkan haramnya meminta-minta kepada orang lain, dan tidak boleh dilakukan kecuali dalam keadaan darurat.

- Lafaz: "Apabila engkau meminta pertolongan maka mintalah hanya kepada Allah"
Karena sesungguhnya Allahlah yang di tangan-Nya kerajaan langit dan bumi, apabila engkau memurnikan permintaan tolong kepada Allah dan berserah diri atasnya maka Allah akan menolongmu, dan apabila engkau meminta pertolongan kepada makhluk terhadap sesuatu yang dia mampui maka yakinlah bahwa dia adalah sebab, dan Allah lah yang menundukkannya untukmu.

- Lafaz: "Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu"
Seandainya seluruh manusia atau bahkan seluruh makhluk bersatu untuk memberikan keuntungan kepadamu, maka hal itu tidak akan kamu dapatkan, kecuali jika Allah telah menakdirkannya untukmu.
Dengan untaian nasihat ini Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita beriman kepada takdir. Pada hakikatnya seluruh manusia tidak bisa memberikan manfaat kepada sesamanya kecuali dengan takdir Allah. Jika demikian sudah seharusnya seluruh permintaan kita ditujukan kepada Allah semata, bukan kepada sesama manusia. Sebab, pada hakikatnya yang bisa memberikan manfaat hanyalah Allah semata.

- Lafaz: "Dan seandainya mereka bersatu untuk melaukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu"
ini juga menunjukkan bahwa segala mara bahaya pada hakikatnya datang dari Allah terjadi dengan takdir dan kehendak-Nya. Maka untaian hadits ini dan sebelumnya menunjukkan tentang takdir Allah. Oleh karena itu, jika engkau mendapatkan kebaikan dari seseorang maka yakinilah bahwa Allah telah menetapkan kebaikan tersebut atasmu, sebaliknya jika engkau mendapat keburukan dari seseorang, yakinilah bahwa Allah telah menetapkan keburukan itu atasmu, maka bersikaplah ridho terhadap qadha dan qadar Allah.

- Lafaz: "Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering"
Yang dimaksud dengan "pena" di sini adalah pena yang menulis seluruh takdir manusia. Sedangkan maksud dari "lembaran-lembaran" adalah Lauh Mahfuzh yaitu lembaran yang digunakan untuk mencatat takdir. Ini artinya seluruh perkara dan kejadian sudah ditetapkan. Apapun yang ditetapkan untuk kita, baik-buruknya pasti akan terjadi. Tidak ada gunanya berkeluh kesah terhadap apa yang menimpa kita. Sebab, itu semua datang dari Allah subhanahu wa ta'ala. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman yang artinya, "Tiada satu pun bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. al-Hadid: 22 - 23).

Itulah hikmah dari iman kepada takdir Allah, bahwa semua kejadian kita, yang telah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi telah Allah tetapkan. Karenanya setiap yang mengimani takdir dengan benar ia akan tenang dan tidak berputus asa terhadap apa saja yang menimpanya.

Penulis: Iqbal Abu Haitsam hafidhohullah.
Sumber: Buletin "al-Furqon" tahun 11 volume 1 no. 4

Minggu, 16 Agustus 2015

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
bendera-merah-putih (mensyukuri nikmat kemerdekaan) karyafikri.blogspot.com

Merenungi mahalnya nikmat kemerdekaan
Kemerdekaan adalah salah satu dari sekian banyak kenikmatan yang Allah anugerakan kepada kita. Coba sejenak kita renungkan, bagaimana kalau seandainya Allah menghendaki bangsa ini terjajah hingga kini; tentu Allah bisa mewujudkan kehendak itu.
Bukankah sampai sekarang ada negara-negara diuji Allah dengan kondisi pemerintahan, politik, dan ekonomi yang carut-marut? Diuji dengan perang yang sering berkecamuk, kekacauan, kekurangan bahan makan, dan hilangnya rasa aman? Saudara-saudara kita umat Islam Rohingya, Suriah, Palestina, Yaman, dan lain-lain adalah contohnya. Mereka senantiasa dilanda keributan di negaranya. Mungkin suatu saat mereka merasa tenang, namun tidak lama setelah itu mereka kembali dihadapkan kepada masalah-masalah yang sangat mengoyak ketenteraman dan ketenangan mereka. Lihatlah mereka! Kemudian bayangkan kalau seandainya Allah menimpakan ujian yang mereka alami itu kepada bangsa kita, kita terlunta-lunta dari satu tempat ke tempat lain, hari-hari kita dipenuhi dengan luka dan jerit tangis, perut kita senantiasa meronta-ronta kelaparan sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara kita umat Islam Rohingya. Tentu Allah mampu menimbulkan hal itu kepada kita dan hal itu mudah sekali bagi Allah.
Namun, Alhamdulillah... Allah memberikan kenyamanan, ketenteraman, dan kemerdekaan kepada kita. Kita tidak lagi terjajah, tidak kelaparan, dan tidak sengsara seperti nenek moyang kita yang hidup di zaman penjajahan sehingga dengan itu kita bisa menikmati hidup dengan kondisi tidak terjajah. Maka renungkan firman Allah:
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴿١٣﴾
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
(QS. Ar-Rahmaan: 13)

Bagaimana cara menyukuri nikma kemerdekaan?
Tentunya kita tidak ingin menjadi hamba yang mendustakan atau mengingkari nikmat-nikmat Allah – termasuk nikmat kemerdekaan – kita ingin menjadi hamba yang bersyukur. Akan tetapi, bagaimanakah caranya bersyukur?
Perlu diketahui bahwa di dalam bersyukur, hendaknya terpenuhi 3 unsur berikut [1]:

1. Mengakui dengan hati kita bahwa nikmat itu datang dari Allah
Sebagian manusia ada yang ketika memperoleh nikmat, kesenangan, dan kejayaan, mereka mengalamatkan perkara itu semua kepada kepandaian dan kehebatan makhluk. Dia tidak ingat sama sekali terhadap Allah yang telah membukakan pintu kesuksesan dan kejayaan. Sikap seperti inilah yang disebut dengan kufur nikmat dan dicela di dalam Alquran. Allah berfirman berkenaan dengan Qarun yang kufur nikmat:
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ﴿٧٨﴾
Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.
(QS. Al-Qashash: 78)

Di sisi lain, ada orang yang mengalamatkan kesuksesan itu kepada anugerah Allah dan karunia-Nya, tetapi menurut dia anugerah Allah itu datang kepada manusia diawali dari kekuatan dan kehebatan manusia. Sikap inilah yang disebut takabbur yang juga tercela di dalam syariat kita.
Ketahuilah, wahai saudaraku, sesungguhnya keberhasilan, kemenangan, dan kemerdekaan itu semuanya datang dari Allah; dan wasilah (sarana) untuk menuju itu semua (yaitu kehebatan dan kekuatan) itu pun datang dari Allah. Kalaulah Allah tidak memberikan kepada bangsa ini kekuatan untuk melawan para penjajah, sudah barang tentu bangsa ini tidak akan pernah merdeka selama-lamanya. Jadi, Allah-lah yang hebat bukan manusia.

2. Memuji Allah dengan lisan
Kenikmatan Allah terlalu banyak untuk kita puji. Seandainya lisan kita terus bergerak memuji Allah atas nikmat-nikmatNya maka itu tidaklah cukup. Bahkan jika lisan semua manusia di jagat ini bergerak terus untuk memuji Allah itu pun belum sebanding dengan nikmat Allah yang Allah berikan kepada mereka. Namun, Allah Maha Mensyukuri. Amal kita dan pujian kita yang sedikit diterima, dimaklumi oleh-Nya, bahkan dilipatgandakan oleh-Nya. Maka dari itu, mari kita perbanyak pujian kepada Allah dengan tasbih, tahmid, takbir, dan kalimat-kalimat lainnya yang diajarkan kepada kita, khususnya ketika kita memperoleh kejayaan, kemenangan, dan pertolongan dari Allah. Ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam memperoleh kemenangan dan pertolongan, Allah memerintahkan agar beliau bertasbih dan beristighfar. Allah berfirman yang artinya “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlahh ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (QS an-Nasr: 1-3)

3. Menggunakan nikmat Allah untuk taat kepada-Nya dengan sebaik-baik ketaatan
Insan yang baik dan pandai berterimakasih akan berupaya untuk patuh/ taat kepada Allah dan mempersembahkan apa yang terbaik untuk Allah agar Allah rida kepadanya. Sebab, dia memahami bahwa semua nikmat yang dia rasakan itu hanya dari Allah datangnya.

Mengevaluasi cara mensyukuri nikmat kemerdekaan
Setelah kita memahami cara bersyukur yang benar, mari kita bersama-sama melakukan evaluasi. Sudah benarkah cara bangsa ini mensyukuri nikmat kemerdekaan yang Allah anugerahkan ini? Mari kita mengevaluasi dari beberapa sisi berikut ini:

1. Sikap anak bangsa ini terhadap syariat Islam
Allah telah memberikan kepada bangsa ini kemerdekaan. Maka dari itu, sudah semestinya bangsa ini mengagungkan syariat Allah sebagai wujud rasa syukur mereka kepada Sang Pemberi nikmat. Namun, sebagian anak bangsa ada yang justu memandang bahwa sebagian syariat Allah sudah tidak relevan dengan kondisi zaman yang sudah maju ini. Syariat Islam tidak menyelesaikan problem bangsa. Menurut mereka, hanya undang-undang yang dirumuskan oleh orang-orang yang berpemikiran modern-lah yang bisa menyelesaikan problem bangsa. Beginikah cara bangsa ini mensyukuri nikmat-Nya?

2. Kecurangan dan kebohongan di berbagai instansi
Allah telah memberikan anugerah kemerdekaan kepada bangsa ini. Sebab itu, sudah semestinya bangsa ini memperhatikan wasiat-wasiat Allah di dalam Alquran. Di antara wasiat-Nya ialah: “Dan janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara batil. (QS al-Baqarah: 188)”
Namun, korupsi, kecurangan, kebohongan, manipulasi data, dan sikap tidak amanah menjadi kegemaran sebagian besar anak bangsa. Bahkan sebagian anak-anak bangsa justru menyingkirkan dan mengucilkan orang-orang jujur, yang bersih dan tidak mau diajak berbuat curang. Orang yang tetap konsisten dengan kejujuran justru dianggap sok suci dan tidak kompak. Beginikah cara bangsa ini mensyukuri nikmat kemerdekaan?

3. Riba digemari oleh bangsa ini
Di antara wasiat Allah – Rabb yang memberikan kemerdekaan kepada kita – ialah wasiat untuk meninggalkan riba, Allah berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman” (QS al-Baqarah: 278)
Namun, bangsa ini justru sangat bergantung dengan sistem ekonomi ribawi. Bank-bank yang menjalankan praktik riba tumbuh subur di negara ini bak jamur di musim hujan. Baginikah cara bangsa ini mensyukuri nikmat kemerdekaan?

4. Perayaan HUT RI yang melemahkan manusia dari shalatnya
Di antara wasiat Allah – Rabb yang memberikan kemerdekaan kepada kita – ialah wasiat agar mendirikan shalat. Allah berfirman yang artinya “Apabila kamu merasa aman, maka dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman” (QS an-Nisa': 103)
Sayangnya, banyak anak bangsa yang masih gemar menyia-nyiakan shalat. Di hari-hari seperti ini, biasanya sebagian mereka mengadakan karnaval, baris-berbaris, dan aneka lomba demi memeriahkan hari kemerdekaan bangsa. Namun, justru karena lomba-lomba itulah, banyak dari mereka yang pada akhirnya menelantarkan shalatnya. Beginikah cara bangsa ini mensyukuri nikmat Allah?

5. Judi yang menyelundup dalam lomba-lomba perayaan HUT RI
Di antara wasiat Allah adalah wasiat untuk meninggalkan judi. Allah berfirman yang artinya “Hai orang-orang yang berikman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS al-Baqarah: 90)
Namun, masih ditemui pada sebagian lomba yang diselenggarakan untuk memeriahkan HUT RI, unsur kejudian. Alangkah baiknya jika anak bangsa ini bertanya kepada para ulama agar menjelaskan kepada mereka mana perlombaan yang mengandung unsur judi dan mana yang tidak, agar nantinya mereka tidak terjerumus ke dalam pelanggaran syariat.

6. Pentas seni dan hiburan musik untuk memeriahkan HUT RI
Sebagian besar anak bangsa ketika merayakan HUT RI memeriahkannya dengan pentas-pentas seni dan hiburan musik. Sering dijumpai, wanita-wanita yang mengumbar auratnya ikut tampil di acara tersebut; bernyanyi dan berjoget menghibur kaum pria dan wanita yang bercampur aduk. Mereka lebih gemar mendengar dan menjiwai nyanyian dan musik itu daripada mendengar dan merenungi lantunan ayat-ayat Allah. Bahkan ayat-ayat Allah jarang didengarkan, dibaca, dan ditadaburkan. Beginikah cara bangsa ini mensyukuri nikmat kemerdekaan?
Semoga Allah mengampuni segala kekurangan kita dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang pandai bersyukur. Aamiiin.


[1] Lihat Tazkiyatun Nafs, Ahmad Farid, hlm. 93.

oleh: Hafidz al Musthofa, Lc hafidhohullah

Sumber:
Buletin dakwah islam “al-Furqon” tahun ke 10 volume 7 no 4