Minggu, 22 Februari 2015

Netscan: Aplikasi gratis untuk scan jaringan (LAN & WLAN)

Bismillah,
Ikon aplikasi Netscan
Suatu saat mungkin Anda ingin melakukan scan jaringan untuk mengetahui perangkat yang aktif beserta IPnya. Ada banyak cara yang dapat Anda lakukan, tetapi pada kesempatan ini saya akan berbagi salah satu freeware yang berfungsi untuk melakukan scan jaringan. Nama aplikasinya "Netscan" dari developer softperfect, yang aplikasi lain dulu pernah saya ulas di sini (Networx, aplikasi pemantau trafik jaringan dan internet).

Berikut adalah screenshot tampilan software ini:
Netscan - aplikasi untuk scan jaringan gratis di PC windows (karyafikir.blogspot.com)
Tampilan Netscan & contoh hasil scan jaringan (klik untuk memperbesar)
Freeware ini tersedia hanya untuk windows (XP, 7, 8, dan lain-lain). Dalam satu paket zip yang Anda download terdapat 2 folder yang satu untuk 32 bit dan yang satunya untuk 64 bit. Berikut link untuk downloadnya:

Size: 2,7 Mb

Yang perlu diketahui, aplikasi ini tidak perlu diinstall karena  hanya tersedia dalam bentuk software portable, sehingga setelah ekstrak dan membuka netscan.exe maka Anda akan langsung dapat membuka software ini.

Sekian share  kali ini, semoga bermanfaat :).
Sumber gambar: Softperfect/netscan

Sabtu, 21 Februari 2015

Lihatlah orang yang di bawahmu, jangan melihat orang yang di atasmu!

Bismillah,
 Lihatlah Orang yang di Bawahmu!
Jangan Melihat Orang yang di Atasmu!

Oleh Abu Haitsam

Pembaca yang dimuliakan Allah, di zaman modern ini, dunia benar-benar makin "menipu" dan 'melalaikan' para pencintanya. Sering sekali para pecinta dunia menghambur-hamburkan hartanya. Mereka beli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Mereka ganti sesuatu yang sebenarnya belum saatnya diganti. Setiap ada produk baru, mereka ingin membelinya. Aneka perlengkapan rumah yang serba mewah pun mereka beli. Namun, sayangnya, itu semua belum juga terasa cukup baginya. Selalu saja ada yang dirasa kurang.
Banyak  orang awam yang Allah batasi rezekinya, saat melihat orang-orang yang di atasnya, merasa bahwa dirinya selalu kekurangan. Seorang istri mengeluhkan kepada suaminya kurangnya uang belanja, kurangnya perlengkapan rumah, dll. Seorang anak merengek kepada orang tuanya agar membelikan ponsel pintar seperti milik temannya. Begitulah seterusnya. Akibatnya, rasa syukur kepada Allah semakin terkikis. Begitu banyak nikmat yang selama ini ia dapatkan semakin dikufuri.
Nah, bagaimana kita menghadapi dunia modern yang menjadi ajang perlombaan sebagian orang ini? Simaklah tulisan singkat ini, semoga bermanfaat.

Penyakit orang-orang awam
Saudara pembaca dirahmati Allah, sesungguhnya berlomba-lomba dalam urusan duniawi sangat tercela. Berangan-angan demi menggapai kemegahan dunia bukanlah sifat orang-orang yang beriman. Perhatikan kisah yang Allah sebutkan dalam al-Qur'an tentang Qarun dan kaumnya (orang-orang awam).
Artinya:
Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, "Semoga kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar". Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar. (QS. al-Qashash: 79:80)

Lalu Allah benamkan seluruh harta Qarun karena kesombongan dan kekufurannya - yang ini sering terjadi pada orang-orang kaya dan para raja:
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ
Artinya:
Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).(QS al-Qashash: 81)

Akhirnya, sadarlah orang-orang awam saat itu bahwa dunia bukanlah kebahagiaan. Barulah mereka mempercayai ucapan orang yang berilmu:
وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ ۖ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا ۖ وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
Artinya:
Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: "Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah). (QS al-Qashash: 82)

Demikianlah kebanyakan orang-orang awam. Mereka baru sadar saan musibah telah terjadi. Maka jengan seperti mereka. Jadilah orang-orang yang sadar terlebih dahulu sebelum datang kemurkaan Allah.

Dalam masalah dunia, lihatlah orang yang di bawah
Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
"Pandanglah orang yang di bawahmu dan janganlah engkau pandang orang yang di atasmu (dalam masalah ini). Dengan begitu, kamu tidak akan meremehkan nikmat Allah kepadamu" (HR Muslim: 2963)

Yang dimaksud dengan perintah "memandang orang yang di bawah" adalah dalam urusan dunia atau harta. Dalilnya ialah sabda beliau, "Jika salah seorang diantara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (postur) tubuh maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya." (HR al-Bukhari: 6490 dan Muslim: 7617).
Seorang tidak akan meremehkan nikmat Allah apabila sikap ini - melihat orang yang dibawahnya dalam urusan duniawi - dia terapkan dalam hidupnya. Ketika dia bertamu ke rumah pejabat dan melihat keindahan ruangan dan kemewahan perabotan, dalam hatinya mungkin terbetik "rumahku masih kalah dari rumah bapak pejabat ini". Namun, ketika dia memandang pada orang lain di bawahnya, dia berkata, "Ternyata rumah tetangga dibandingkan dengan rumahku, masih lebih bagus rumahku. Dengan memandang orang yang di bawahnya, dia tidak akan meremehkan nikmat yang Allah berikan. Bahkan dia akan mensyukuri nikmat tersebut karena melihat masih banyak orang yang tertinggal jauh darinya.
Lain halnya dengan orang yang satu ini. Ketika dia melihat saudaranya memiliki ponsel iPhone atau Blackberry seharga lima jutaan ke atas, dia marasa ponselnya masih sangat tertinggal jauh dari temannya tersebut. Akhirnya, yang ada pada dirinya adalah kurang menyukuri nikmat. Dia menganggap bahwa nikmat tersebut - ponsel yang dimiliki - masih sedikit/ kecil nilainya. Bahkan, yang lebih parah, selalu hasad (dengki) yang berakibat dia akan memusuhi dan membenci temannya tadi. Padahal, masih banyak orang di bawah dirinya yangmemiliki ponsel dengan kualitas yang jauh lebih rendah. Inilah cara pandang yang keliru, namun banyak menimpa kebanyakan orang saat ini.

Urusan akhirat, pandanglah yang di atasmu
Adapun dalam masalah akhirat - ibadah dan amal shalih - hendaknya seseorang melihat orang yang di atasnya. Rakus terhadap perkara duniawi tercela, tetapi rakus terhadap pahala terpuji. Qana'ah dengan harta adalah sifat mulia, tetapi qana'ah dengan amal shalih adalah sifat buruk.
Sebagian salaf mengatakan, "Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat kepada Allah daripada dirinya, sudah selayaknya dia sedih karena dia telah diungguli dalam perkara ketaatan." (Latha'if al-Ma'arif, hlm. 268).
Sahabat Abu Hurairah rodhiallahu 'anhu pernah menurutkan, "Orang-orang miskin (dari para sahabat Nabi) pernah dtang menemui Nabi. Mereka berkata, 'Wahai Rasulullah, orang-orang kaya yang memiliki banyak harta telah memborong pahala. Mereka dapat melakukan shalat sebagaimana kami shalat. Mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Namun, mereka dengan kelebihan hartanya dapat menunaikan haji, umrah, jihad, dan sedekah; sedangkan kami tidak memiliki harta...' Dalam riwayat Muslim di akhir hadits, Rasulallah bersabda, 'Itu adalah karunia (dari) Allah yang diberikan kepada siapa yang Dai kehendaki.'" (HR al-Bukhari: 807, Muslim: 595).
Maka berlomba-lombalah dengan amal shalih. Kejarlah ketertinggalan dari teman-teman shalih yang lebih banyak ibadahnya.

Penutup
Sidang pembaca yang berbahagia, tentu kita sepakat bahwa kebahagiaanlah yang kita cari dalam hidup ini. Persoalannya, dimanakan kebahagiaan itu? Kebahagiaan bukanlah didapat dengan menjadi raja. Kebahagiaan bukan didapat dengan menjadi pengusaha sukses. Namun, kebahagiaan bisa diperoleh dengan merasa cukup terhadap apa yang Allah berikan. Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sungguh sangat bahagia orang yang telah masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya." (HR Muslim: 2473)
Sejatinya, apa yang diangan-angankan dari orang-orang kaya, semuanya mengerucut pada makanan, tempat tinggal, kesehatan, dan keamanan. Karena itu, jika seorang muslim dapat memperoleh makanan untuk hari yang dia jalani saat ini, ada rumah tempat ia bernaung, dan aman di dalamnya, serta badan yang sehat maka seolah-olah dunia telah ia pegang. Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barang siapa diantara kalian merasa aman di tempat tinggalnya, diberi kesehatan badan, dan menjumpai makanan untuk hari itu maka seolah-olah dia memiliki dunia seluruhnya." (HR at-Tirmidzi: 2346; dishahihkan al-Albani dalam ash-shahihah: 2318)
Akhirulkalam, ketahuilah bahwa ujian harta itu sangat berat. Allah kelak akan menanyakan dua kali: 1) dari mana harta itu ia dapatkan, dan 2) ke mana harta ia belanjakan. Haramnya harta adalah adzab, sedangkan halalnya adalah hisab.

Sumber: Buletin dakwah Islam "Al-Furqon"  Tahun ke-9 Volume 12 Nomor 4
Referensi:
Gambar teks arab qur'an: Quran.com
Teks arab qur'an: quran-terjemah.org
Teks hadits: belajarislam.com

Jumat, 20 Februari 2015

Wisuda: Perjalanan masih tetap berlanjut, dengan perjuangan yang lain

Bismillah,
Toga Wisuda: Perjalanan masih tetap berlanjut, dengan perjuangan yang lain
Sumber: juliandarobby.wordpress.com
Alhamdulillah, acara wisuda sudah terlaksana dengan baik dan lancar meskipun terdapat kesalahan kecil karena kurangnya praktek atau belajar saat menerima sebuah map yang berisikan kartu ucapan "Selamat & Sukses atas wisuda". Ya sebenarnya bukan masalah nervous atau semacamnya, hanya saja saat di depan saya lupa menerimanya harus seperti apa :-0.

Alhamdulillah, setelah semua yang ku lalui di kampus dekat sungai brantas kota Kediri akhirnya saya dapat lulus. Sebelumnya sempat berhenti mengerjakan proposal ketika kesulitan mengerjakan proposal skripsi karena "merasa" mendapatkan dosen yang terlalu tegas dan pintar sehingga usulan judul & proyek yang aku berikan ditolak karena "terlalu sederhana" (meskipun saya sendiri juga merasa terlalu sederhana, tetapi itu cukup sulit pembuatannya jadi saya tetap mengajukannya). Baiknya dosen ini adalah, setelah menolak usulan saya beliau memberikan solusi dengan memberikan sebuah proyek tugas akhir yang bagi saya cukup sulit karena saya tidak tahu menahu tentang topik itu, tetapi karena tidak ada pilihan lain akhirnya saya ingin mencoba bangkit setelah tertinggal pada proposal gelombang pertama, dan sebelum gelombang kedua dibuka saya mencari literatur dari internet dan ayah yang merupakan orang berpengalaman dalam bidang pendidikan (oh iya, proyek yang ditawarkan pak dosen ini adalah tentang "akreditasi SMK"), kemudian mencari lokasi penelitian dan selanjutnya menuju lokasi penelitian untuk bertanya-tanya tentang akreditasi dan sekolahnya.

Alhamdulillah, karena ALLAH telah menyadarkanku bahwa "Sekecil apapun sebuah masalah/ tugas, jika tidak dikerjakan tidak akan pernah selesai". Dan karena itu, aku bisa bangkit, mengejar ketinggalan pertama untuk menuju wisuda di gelombang proposal kedua dengan semangat, usaha, doa, dan dukungan keluarga terutama ayah dan kakak. Terimakasih semuanya.

Dosen menyalahkanmu, mencoret proposal/ skripsimu, bertanya tentang kasusmu adalah bukan untuk menjatuhkanmu! Tetapi ia ingin mengukuhkan pengetahuanmu, ia ingin mengoreksimu, ia ingin membenarkanmu meskipun dengan bertanya yang menyusahkanmu dan menjadikanmu tampak tidak bisa apa-apa. Jangan berhenti di situ! Jadikanlah itu semangat, cambuk untuk semakin memahami topik pada proposal/ skripsimu. Beliau tidak ingin menghina atau menjatuhkanmu, tetapi sebaliknya, ia ingin kau paham sepenuhnya tentang apa yang kau buat sebelum kau di sidang oleh dosen lain yang ia tidak dapat membantumu ketika itu! Jika kau berhenti ketika banyak kesalahan dan dicoret oleh dosenmu, hasilnya kau tak dapat menyelesaikan tugas akhirmu, jangan biarkan itu! Jadilah orang yang berpikir luas, berhati lapang, dan terus kerjakan. Hingga ketika semua terlalui, kau akan bisa tersenyum dan berterimakasih kepada beliau, orang yang kau kira selalu membuat soal yang sulit, orang yang selalu menyalahkan, orang yang kau kira selalu benar dan selalu menyalahkanmu! Ya, kau akan berterimakasih sekali kepada orang itu.

Alhamdulillah, setelah 4 tahun belajar di universitas, 1 bulan PKL, 1 bulan KKN, dan beberapa bulan mengerjakan skripsi akhirnya kami wisuda. Terimakasih untuk orang tuaku, saudara-saudaraku, dosen-dosenku, teman-temanku, dan semuanya yang tidak mungkin aku sebut satu-satu. Dan aku tahu, wisuda bukanlah akhir perjalanan, tetapi perjalananku masih berlanjut dengan perjuangan yang lain.

Untuk kalian yang sedang menempuh studi, semoga kalian selalu semangat dan sukses nantinya. Jangan lupa, jika saat mengerjakan skripsi pesanku yang di atas (quote) semoga kalian bisa menjadi pribadi yang lebih tegar dari aku, tahan banting, dan tidak rapuh. Jangan lupa selain berusaha juga berdoa, semoga ALLAH memberikan kita kesuksesan dunia dan akhirat. Aamiiin.

Minggu, 01 Februari 2015

Puisi: Cahaya gelap

Cahaya gelap
Dari mana datangnya?
Coba aku mengira
Dari bisikan perayu, makhluk tak terindra
Tapi, dia adalah musuh nyata

Cahaya gelap
Dari mana datangnya?
Dari rayuan yang kau terima
Lalu ke hati
Dan kau perbuat

Oh...
Cahaya gelap
Rayuan sempurna
Janji fana

Oh,..
Larilah
Larilah dari bisikan kosong
Bisikan menjanji surga fana
Bukan surga abadi, nanti

------------------------------------------------
Kediri
Fikri Thufailiy.

Menunggu...

Bismillah,
Alhamdulillah, setelah semua dilalui... Kini tinggal menanti, sebuah acara kelulusan. Ya, tugas atau masalah sekecil apapun tidak akan pernah selesai jika kita tidak mengerjakan/ menyelesaikannya.

Januari adalah bulan menunggu, dan bulan februari adalah persiapan untuk melaksanakannya. Semoga semua lancar dan kemudian hari lebih baik, dari hari-hari yang lalu. Dan bukan  hanya sebuah simbolis, tetapi juga kepada jiwa yang lebih dewasa dan produktif berkarya. Aamiiin, untuk kita semua.

Teman,
Jika menunggu adalah hal yang paling menjemukan, itu benar tetapi tidak akan terasa jika sambil menunggu kita melakkukan sesuatu, bukan diam.

...