Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri gaul. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri gaul. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 September 2017

Buletin Dakwah Islam al-Furqon: Hijab Syar'i vs Hijab Gaul

bismillah,
Hijab syari vs hijab gaul shared by karyafikri.blogspot.com

Saudaraku kaum muslimah, sesungguhnya tetah diwajibkan atasmu. Bukan oleh ustadz, bukan kyai, bukan pula MUI yang mewajibkan perkaara ini, akan tetapi Allah robbul'alamin. Allah yang memberimu kehidupan, memberimu rezeki, memberimu keelokan rupa, dan memberimu berbagai macam kenikmatan. Tidak ada satu nikmat pun baik kecil maupun besara yang engkau rasakan melainkan dari Allah-lah datangnya.
 وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. (QS an-Nahl (16:53))

Wahai saudari Muslimah! Manusia yang tahu balas budi tidak akan pernah lupa dengan orang yang berjasa besar kepadanya. Seandainya engkau ditimpa musibah, engkau terlilit utang, diPHK dari pekerjaan, rumah dan kendaraan sudah tergadaikan, anak dan orang tuamu menelan biaya besar untuk pengobatan. Kemudian di saat seperti itu ada orang yang datang kepadamu memberi lapangan pekerjaan dengan upah yang menjanjikan, dia pun membantumu melunasi segala utangmu, dan menolongmu untuk mencicil membeli rumah dan kendaraan, sehingga dengan itu kehidupanmu pulih kembali setelah terpuruk tentu engkau tidak akan pernah melupakan budi baiknya. Jika ia meneleponmu untuk meminta datang ke rumahnya jam 01.00 dini hari, apakah engkau akan menundanya sampai esok hari?? Tidak, engkau pasti akan antusias memenuhi undangannya meskipun engkau sedang merasakan nikmat dalam kantukmu. Karena dia sangat berjasa dalam hidupmu.

Maka renungkanlah tentang kebaikan Allah yang terus tercurah kepadamu, udara yang engkau hirup adalah milik-Nya, bumi yang engkau pijak adalah bumi-Nya. Nah, sekarang Dia mengajakmu, wahai muslimah, untuk menutup auratmu dengan hijab syar'i. Siapa diantara kamu yang pandai berterimakasih, maka pasti akan serius dalam menyambut seruan robbul'alamin ini dan akan mencari tahu bagaimana kriteria hijab yang Allah inginkan untuk wanita muslimah. Setelah dia tahu bagaimana kriteria hijab yang diinginkan syari'at, dia akan melaksanakan tunttunan syariat itu apa pun resikonya, meskipun temannya menggunjingnya, atasannya menegur sikapnya, kerabatnya mengucilkannya, semua itu tidak menjadi masalah asalkan Allah ridho kepadanya, karena menurutnya keridhaan Allah adalah keridhaan yang paling agung dan paling utama untuk digapai.

Sebaliknya, orang yang kurang bisa berterimakasih tidak akan serius memenuhi panggilan ini, dia mengutamakan keridhaan manusia meskipun murka Allah yang ia terima. Dia enggan berhijab,, atau berhijab ala kadarnya asalkan manusia ridha padanya meskipun hijabnya belum memenuhi standar agama. Hijab gaul, ya itulah istilah yang ngetren untuk hijab gaya dan tidak memenuhi kriteria hijab syar'i.

Untuk bisa membedakan hijab yang sudah sesuai dengan kriteria syariat (hijab syar'i) dan hijab yang belum memenuhi kriteria syariat (hijab gaul) mari kita simak kriteria hijab syar'i berikut ini.

Syarat-syarat hijab wanita Muslimah
Sebelum kita bicarakan tentang syarat-syarat hijab bagi muslimah perlu kita dudukkan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan "hijab". Hijab yang kita maksud di sini tidak seperti yang dipahami umumnya masyarakat, sebagaimana mereka menganggap hijab adalah sekedar kerudung maupun penutup kepala dan dada. Padahal, ulama ketika berbicara tentang hijab yang mereka maksud adalah semua punutup aurat meliputi baju mulai dari bawah sampai atas termasuk kerudung, karena memang hijab secara makna bahasa adalah penutup, penghalang. Itulah hijab yang kita maksudkan di sini, adapun syarat-syarat hijab bagi muslimah adalah:
1. Menutup semua badan kecuali wajah dan telapak tangan (dua anggota ini diperselisihkan ulama')
Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama pada anggota badan selain wajah dan telapak tangan bahwasannya ia wajib ditutup. Adapun untuk wajah dan telapak tangan maka mereka berselisih pendapat, sebigian mewajibkan menutupnya karena termasuk aurat dan sebagian lagi mengatakan bukan aurat sehingga sunnah hukumnya ditutup alias tidak wajib. Apapdan dun keadaaannya, yang jelas para ulama sepakat bahwa menutup dua anggota tersebut adalah yang terbaik daripada membukanya karena itu adalah sunnah wanita-wanita mulia dari kalangan istri-istri Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dan shahabiyaat (sahabat dari kalangan wanita).

2. Hijab hendaknya tidak berupa perhiasan
Sebab, Allah melarang wanita untuk bertabarruj. Allah berfirman:

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ
Dan janganlah kamu bertabarruj seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. (QS al-Ahzaab (33:33))
Makna tabarruj adalah: seorang wanita menampakkan hiasannya dan keindahannya dan apa yang wajib disembunyikan dari sesuatu yang bisa mengundang perhatian lelaki.
Disamping itu, fungsi hijab adalah untuk menyembunyikan dan menutupi keindahan wanita dan hiasan-hiasannya agar tidak terlihat oleh kaum lelaki, sebagaimana yang Allah firmankan:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. (an-Nur (24:31))
Maka sungguh tidak masuk akal bila hijab justru berwujud hiasan, manik-manik dan pernak-pernik yang justru menjadikan wanita itu lebih menarik dan mencuri perhatian kaum lelaki.

3. Tidak tipis/ transparan
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda yang artinya:
Dua golongan manusia dari kalangan penduduk Neraka yang aku belum pernah melihatnya... (salah satunya beliau menyebutkan): wanita yang berpakaian tetapi telanjang... mereka itu tidak masuk Surga dan tidak mencium aromanya padahal aroma surga itu bisa dicium dari jarak sangat jauh.
Yang dimaksud oleh hadits di atas adalah wanita yang memakai pakaian yang tipis sehingga tampak apa yang ada di balik pakaian tersebut, mereka disebut berpakaian namun hakikatnya telanjang karena pakaian mereka tidak memiliki fungsi sebagai penutup aurat mereka.

4. Lebar dan tidak ketat
Larangan berpakaian ketat terdapat dalam hadits sebelumnya. Pakaian fungsinya untuk menutupi keindahan tubuh, pakaian yang ketat tidak menjalankan perannya sebagai penutup keindahan tubuh karena ia justru menampakkan lekukannya yang itu akan mengundang syahwat lelaki yang melihatnya.

5. Tidak berlumur parfum/ wewangian
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٌ أَصَابَتْ كَافُوْرًا فَلاَ تَشْهَدَنَّ مَعَنَا الْعِشَاءَ
Siapapun dari kalangan wanita yang terkena wewangian maka jangan hadir bersama kami dalam shalat isya'.

6. Tidak menyerupai pakaian pria
Ibnu Abbas rodhiallahu 'anhu berkata:
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَآءِ وَ الْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَآءِ بِالرِّجَالِ
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam melaknat para lelaki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki.
Yang dimaksud hadits ini adalah tidak diperkenankan bagi lelaki memakai pakaian atau aksesori yang khusus bagi kaum wanita demikian juga sebaliknya.

7. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir
Merupakan sesuatu yang sudah mapan dalam agama kita bahwasanya kaum muslim baik laki-laki maupun perempuan tidak boleh menyerupai kaum kuffar dan musyrikin dalam ibadah mereka, perayaan-perayaan mereka, dan pakaian yang khusus bagi mereka. Sungguh sangat banyak nash-nash syariat yang menjelaskan tentang kaidah ini. Berkenaan dengan larangan menyerupai pakaian mereka, ada sebuah hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Amr radhiallahu 'anhu beliau berkata yang artinya:
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam melihatku memakai dua helai pakaian yang bercelupkan usfur (celupan berwarna kuning) maka beliau bersabda: 'Sesungguhnya ini adalah pakaian orang-orang kafir maka jangan kamu memakainya'.

8. Tidak berupa pakaian ketenaran
Berdasarkan hadits Ibnu Umar rodhiallahu 'anhu bahwasannya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 من لبس ثوب شهرة في الدنيا ألبسه الله ثوب مذلة يوم القيامة
Barang siapa memakai pakaian ketenaran di dunia maka Allah akan pakaikan kepadanya pakaian kehinaan pada hari kiamat kemudian Allah menyalakan api padanya.
Yang dimaksud "pakaian ketenaran" adalah semua pakaian yang dipakai dengan maksud menjadikan diri pemakainya tersohor di kalangan manusia, baik berupa pakaian yang terlalu mewah dikenakan untuk berbangga-bangga dengan perhiasan dunia, maupun pakaian yang terlalu jelek untuk riya' dan menampakkan pemakainya sebagai ahli zuhud.
Demikianlah, semoga Allah melindungi kaum muslimin dan muslimat dari pakaian yang menyelisihi kriteria syariat. Semoga Allah membimbing kita semua menuju keridhaan-Nya. Aamiin yaa robbal'aalamiin.

Hafid Musthofa Abu Najah, Lc hafidhohullah.

Sumber: Buletin Dakwah Islam "al-Furqon" Tahun ke 12 Volume 3 No. 2

Sabtu, 03 November 2012

Game Flash "Tes kecepatan reaksi"

Bismlillah,
Beberapa hari yang lalu saya berburu atau dalam bahasa gaulnya hunting permainan flash seperti biasanya, nah ini adalah salah satu game yang menurut saya menarik walaupun ukurannya begitu kecil. Game ini bernama reaction, kemudian saya menyebutnya reaction test atau tes reaksi.
awal - game flash tes reaksi

Cara kerjanya seperti tertera pada awal tampilan ketika kita membuka game ini, yaitu kita hanya perlu mengklik tombol gambar suntik (obat penenang) ketika kita melihat ada seekor domba yang keluar dari kumpulannya (dari kiri ke kanan).

Pada permainan ini, kita disuruh untuk menghentikan 5 domba. Tetapi ketika kita memencet tombol suntik namun tidak ada domba yang melintas maka kita mendapatkan hukuman yaitu reaksi kita dianggap 3 detik lamanya.
bermain - game flash test reaksi

Nah setelah sobat melakukan tugas (memberhentikan 5 domba), maka akan muncul rata-rata dari kecepatan reaksi sobat besarta peringkat sobat seperti pada contoh hasil reaksi saya di bawah ini :

hasil (nilai)- game flash reaction flash

Yang sedikit menggelikan adalah ditulis "no sheep were harmed in the making of this game" di bawah tombol "Try Again" yang maksudnya "Tidak ada domba yang dilukai dalam pembuatan game ini" :) serius nih... Jadi permainan ini memanglah "just for fun" tapi ya cukup menarik untuk menngetahui kecepatan reaksi kita walapun ini dengan keakuratan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, hehe.

Baik, demikian yang dapat saya share kali ini. Untuk download game-nya silahkan klik tombol di bawah ini:

download game flash reaksi
104 KB

Selasa, 16 Agustus 2011

Adaptasi Kemaksiatan (filosofi katak)

Bismillah,
Adaptasi kemaksiatan filosofi katak shared by karyafikri.blogspot.com

Tulisan ini adalah karya dari sahabat saya yaitu akhi Toni Tegar Sahidi, saya sungguh terkesan sekali, walaupun kesannya sederhana tapi pesan yang disampaikan sangat dalam, mengandung filosofi tinggi yang membuat saya tersindir dan skak Mat, Sobat Blogger gak usah kawatir artikel ini saya share atas seijin penulisnya loh, jadi 100% halal dan bisa dinikmati sahabat semua, Penasaran...?? silahkan langsung dibaca...

Ini kisah yang cukup populer. Saya pertama kali mendengarnya ketika masih remaja sembilan tahun lalu. Ijinkan saya untuk menyampaikannya kembali untuk Anda.

Alkisah, ada seorang ilmuwan ingin mengadakan eksperimen. Untuk itu ia harus merebus seekor katak hidup-hidup. Ia pun menyiapkannya. Diambilnya sebuah panci, diisinya dengan air secukupnya lalu diletakkan di atas tungku. Dengan sabar ia menunggu hingga air mendidih. Air pun mendidih lalu diambillah si katak malang, lalu dimasukkanlah katak tersebut ke air yang tengah mendidih tersebut.

Namun apa yang terjadi? Si katak yang merasakan suhu yang berubah drastis kontan sigap. Ia kaget, ia tanggap, katak pun kontan melompat keluar dari panci. Si Katak kali ini selamat.

Namun si ilmuwan yang gagal dengan percobaan pertamanya tak kehilangan akal. Kali ini ia menyiapkannya dengan cara yang berbeda.

Diambilnya lagi sebuah panci yang lain, dan sama seperti sebelumnya, ia isi dengan air lalu ia letakkan ke atas tungku. Namun sebelum ia nyalakan tungkunya, dengan air dalam kondisi masih dingin, ia masukkan si katak ke dalam panci. Si katak yang memang biasa dengan air, pun merasa nyaman-nyaman saja dengan kondisi ini, toh hitung-hitung mandi berendam. Si ilmuwan pun menyalakan tungkunya, namun kali ini apinya kecil saja agar air tak cepat mendidih.

Perlahan namun pasti air dalam panci pun menjadi kian hangat. Namun si Katak masih nyaman-nyaman saja, “sekalian mandi air hangat” begitu pikirnya. Namun air pun kian menghangat, dan menghangat, si katak masih merasa nyaman dan aman. Hingga satu titik, ketika air sudah mulai sangat panas, kali ini si katak sudah tak tahan, ia mencoba melompat. Namun sayang, kali ini ia tak bisa. Air sudah terlalu panas dan si katak sudah terlalu lemah. Akhirnya si Katak pun mati, terebus bersama air panas tersebut.

Sadar atau tidak, adakalanya kita menemukan orang-orang yang menjadi katak ini. Atau jika mau jujur bercermin, boleh jadi kita-lah katak tersebut. Ketika seorang shalih diajak untuk bermaksiat terang-terangan sudah pasti ia akan menolak. Namun syaithan sungguh cerdas, alih-alih langsung terang-terangan, setan akan mendekatinya dengan perlahan-lahan, membuainya hingga terasa aman, nyaman, menjadi kebiasaan, hingga akhirnya yang ada hanyalah penyesalan. Sadar atau tidak, si shalih terlah beradaptasi terhadap kemaksiatan.

Jika api besar dan air mendidih adalah dosa besar, maka api kecil adalah dosa-dosa kecil yang kita biarkan, yang kita anggap biasa, lumrah, wajar, atau bahkan kita merasa nyaman-nyaman saja dengannya. Sebagaimana air hangat yang melenakan, pelan namun pasti dosa kecil kian memanaskan kita hingga suhu yang membinasakan.

Terlebih manusia sering meremehkan ha-hal yang ada embel-embelnya “kecil”, batu kecil, uang kecil, anak kecil, dan termasuk pula dosa kecil. Sehingga tak jarang kita pun tak ambil pusing dengan dosa-dosa kecil yang kita perbuat. Jangankan taubat, istighfar pun seolah tak sempat. Kita merasa aman, kita nyaman, padahal ini strategi jitu syaithan yang menyesatkan,

Maka benarlah Rasulullah yang mengajak kita untuk mewaspadai dosa-dosa kecil. Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad Rasulullah bersabda, “Hati-hatilah terhadap dosa-dosa kecil. Hal itu tidak ubahnya seperti sekelompok orang yang turun ke sebuah lereng gunung. Mereka masing-masing membawa sebatang ranting kayu sehingga dengan ranting-ranting kayu itu bisa mereka masak roti. Dosa-dosa kecil kapan saja di lakukan oleh seseorang ia akan menjadi celaka”.

Karena memang dosa kecil yang dibirkan ibarat titik kecil yang ditoreh dia atas kertas. Satu titik memang tak ada apa-apanya dibandingkan luasnya putih kertas. Namun jika ditorehkan berkali-kali , dan berkali-kali, tanpa henti, tanpa pernah kita menghapusnya, pada akhirnya kita pun merasa asing dengan warna putih kertas semula. Maka lihat, apa yang kita anggap sepele, satu titik hitam di kertas putih, namun jika diteruskan maka putihnya kertas kan berubah menjadi hitam.

Inilah cerdasnya syaithan, tak diajaknya seorang ustadz untuk langsung berzina, diajaknya ia untuk sekedar memandang sambil berkata “toh ini cuman memandang”, berlanjut saling SMS-an dengan perkataan yang sama “toh cuma SMS”, berlanjut memberi perhatian, pertemuan, pegang tangan, pacaran dan seterusnya sampai terjadilah zina. Sampai disinipun adakalanya timbul kerasnya hati, “toh nanti bisa bertaubat”. Bahkan ampunanNya pun kini dianggapnya remeh.

Tak diajaknya seorang muslim untuk langsung murtad. Dihembuskannya sedikit demi sedikit apa yang menarik hatinya, bisa lawan jenis, jabatan, kedudukan, harta, atau hal-hal non materi seperti jaminan, kebebasan ataupun kemenangan. Dibuatlah sedikit demi sedikit apa yang bertentangan dengan agama menjadi indah, dan kita pun terpesona dengannya. Disisi lain ditampakkanlah agamanya dengan sesuatu yang buruk-buruk, dianggap kuno, nggak gaul, radikal, teroris. Dibuatlah kita membenci apa yang selama ni kita yakini, di awal kita mendiamkan teman yang menjelek-jelekkan agama, esoknya kita lah yang membelanya, bahkan menggantikannya berbicara hal sama. Dibuatlah ucapan soal Tuhan, Surga dan Neraka adalah dongeng khayalan orang terdahulu, tanpa sadar kita pun mengangguk-angguk. Pelan tanpa pasti, sadar atau tidak, akidah itu pun lepas begitu saja.

Sebagaimana saya, boleh jadi Anda pun menemuinya di sekitar kita. Ada teman yang dahulunya ketua rohis, kini berubah layaknya preman. Ada yang dahulunya begitu aktif ikut pengajian, kini alergi dengan hal-hal keislaman. Ada yang dahulu begitu rapat ia menutup aurat, kini begitu nyaman ia buka-bukaan. Bahkan ada pula yang dahulu ikut sholat dengan khusyuknya, namun kini berpindah agama, menyembah selain Allah yang Esa.

Dan begitulah cara syaithan menyesatkan anak adam. Sebagaimana kisah katak yang direbus, begitulah manusia dijerumuskan perlahan-lahan, begitu sadar semuanya sudah terlambat. Luka fisik, rasa skit, isak tangis, penjara, hamil luar nikah, ataupun cacat seumur hidup sungguh masih tak ada apa-apanya dibanding panasnya nyala neraka akibat tiadanya taubat.

Sesal di dunia masih ada obatnya, sesal di akhirat hendak kemana kita lari dari siksaNya?

Maka sebelum terlambat, sudah saatnya kita bangun, tanggap, sadar, dan segera melompat dari panci dosa-dosa kecil, sebelum panasnya membuat kita kian terlena, lalu binasa. Mengutip nasehat sahabat saya, pada akhirnya kita harus sadar bahwa ini bukan soal besar kecilnya sebuah maksiat, namun yang terpenting ialah, kepada siapa kita bermaksiat?

Malang 3 Agustus 2011
Ditulis oleh: Toni Tegar Sahidi

“Menanti si katak Melompat Keluar”


+++
Original post by : Insan Robbani