Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri kota ini. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri kota ini. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 September 2017

Coretan: Kecelakaan Lalu Lintas 2017

Bismillah,
Lama tidak menulis tentang tips untuk berkendara atau travelling di blog ini, pada kesempatan ini saya sempatkan menulis sebuah coretan khusus tentang kecelakaan lalu lintas entah yang ngalor maupun ngidul tidak jelas alias ngalor-ngidul, tetapi semoga saja tulisan ini bermanfaat untuk sobat sekalian.

coretan kecelakaan lalin - karyafikri.blogspot.com

Akhir-akhir ini, kota ini terasa semakin ramai kendaraan saja baik mobil, motor, dan lainnya. Meskipun tidak padat merayap di seluruh bagian kota tetapi untuk menyebrang saja terasa begitu sulit, yah mungkin saya yang baru merasa karena sering ke kota atau memang kendaraan di kota ini bertambah sehingga menjadi lebih banyak.

Bicara tentang keramaian, di berita-berita baik di Kediri dan sekitarnya maupun yang agak jauh banyak sekali kecelakaan yang terjadi baik dari luka ringan, luka berat, bahkan sampai meninggal dunia. Bahkan di sekitar lokasi tempat tinggal saya saat ini, akhir-akhir ini dalam sepekan ada 2 kecelakaan maut yang sampai meninggal dunia pengendara motor.

Mengingat semakin ramainya kendaraan, maka kewaspadaan & kehati-hatian & kefokusan dalam berkendara harus ditingkatkan (kata-kata ini tidak teruntuk Anda saja, tetapi juga nasihat buat diri juga) agar ketika ada suatu pergerakan yang mendadak dari pengendara lain maka kita siap untuk melakukan usaha gerakan untuk menghindar, mengerem atau gerakan lain yang diperlukan agar tidak terjadi kecelakaan. Karena selain berdoa kita perlu untuk berusaha, dan salah satu usaha tersebut adalah hati-hati & selalu siap siaga. Jikapun sudah berusaha dan berdoa namun tetap terjadi kecelakaan, maka kita harus bersabar dan menerima taqdir dari Allah karena kita sudah melakukan dua hal yang diharuskan dalam melakukan sesuatu (yaitu berusaha dan berdoa).

Berikut adalah foto mercury yang pekan lalu (hari rabu 6 september) jatuh karena saya agak kencang dan tidak siap ketika ada motor membawa obrok tiba-tiba belok kekiri tanpa memberi tanda apapun baik lampu sein maupun tangan yang melambaikan sehingga saya tidak sempat mengerem:
Mercury karyafikri.blogspot.com

Kecelakaan kecil saya ini terjadi beberapa hari sebelum dua kecelakaan maut yang saya sebutkan sebelumnya, meski sampai hari ini lengan bagian kanan masih terasa sakit walau tak separah sebelumnya dan juga mercury sudah sembuh... alhamdulillah, yang paling saya syukuri adalah helm saya yang tidak terlepas ketika saya jatuh karena kepala terbentur dengan aspal sangat keras dan sempat tidak bisa bergerak beberapa waktu karena benturan didada yang sesak (posisi jatuh saya miring ke kanan seperti melayang dari motor). Dan syukur saya bertambah adalah hanya luka ringan, karena ada kecelakaan sampai mati dan patah tulang setelah kecelakaan saya tersebut.

Dan berikut ini adalah beberapa hikmah / tips untuk anda dan saya ketika berkendara khususnya sepeda motor:
  • Cek dan bawalah SIM & STNK ketika mengendarai kendaraan
  • Pastikan sebelum berangkat menggunakan motor tersebut, bahwa perlengkapan kendaraan Anda fungsi sebagaimana mestinya, yaitu: spion, lampu sein nyala, rem oke, dan lain sebagainya
  • Gunakan selalu perlengkapan berkendara yang aman sesuai dengan peraturan mulai dari: helm yang SNI dan pastikan penggunaannya sudah benar (bunyi klik saat digunakan), kalau perlu gunakan sarung tangan, dan lain sebagainya
  • Turunkan kecepatan dan naikkan fokus ketika dikeramaian
  • Selalu pantau keadaan sekitar ketika ramai
  • Lain-lain yang mungkin sobat dapat menambahkan sendiri.
Sekian share kali ini semoga bermanfaat.

Sabtu, 03 Januari 2015

Kota besar...

Bismillah,
Akhir-akhir ini kota Kediri semakin ramai, khususnya perempatan alun-alun. Meski tak di bagian itu saja, tapi di bagian itulah yang paling ramai hingga perjalanan pun padat merayap. Tapi, setelah pulang dari kota Malang kemarin, saya jadi berpikir "Seramai-ramainya kota ini, masih tetap ramai kota Malang dan kota-kota besar" juga "Seruwet-ruwetnya jalan di kota ini, masih tetap ruwet jalan kota Malang dan kota-kota besar". Oh, ya meskipun mungkin itu karena belum terbiasa tetapi aku tetap bersyukur dan semoga saja aku tak mengeluh ketika suatu saat nanti pergi ke kota yang ramai, padat, dan jalan yang sulit, atau mungkin aku tinggal di kota seperti itu? :) apapun itu semoga ALLAH memberi berkah.

Sekian coretan kali ini,
Maaf jika hanya sebuah coretan tak bermakna.

Senin, 14 Mei 2012

[part-3] Rain & Windy - Pertemuan terencana

Pertengahan Maret 2012
Pojok Taman Kota
19.05

Di sebuah kedai kecil "Batas Kerinduan", Rain dan Feel sedang asyik berbincang-bincang.
Feel : "Siapa cewek itu?"
Rain : "Namanya Windy, aneh"
Feel : "Kau suka?"
Rain : (diam dan tetap memandang tempat dimana Windy biasa duduk)
Feel : "Kau selalu melihat dia dari sini dan entah sudah berapa kali kau menemuinya. Apa kau punya rasa padanya?"
Rain : "Kau bicara apa?"
Feel : "Banyak cewek yang ke taman ini, duduk-duduk, dan tak sedikit yang mampir ke kedai kita. Tapi sejauh ini kamu tak ada perhatian lebih, tapi..."
Rain : "Tapi pada cewek itu yang belum pernah ke sini dan hanya duduk di tempat yang sama, datang dan pergi pada waktu yang sama aku memperhatikannya." (sela Rain sebelum Feel melanjutkan ucapannya).
Feel : "Huh, ya itu maksudku. Kau selalu menyela pembicaraanku dan melanjutkannya sesuai dengan apa yang ingin aku katakan"
Rain : "Aku tahu alur otakmu"
Feel : "Hem...?"
Rain : "Bukan apa-apa, kita sudah lama kenal"
Feel : "Ya, aku tahu sifatmu tapi tak bisa menebak apa yang ada di otakmu. Sepertinya otakmu kosong"
Rain : (hanya tersenyum)
Feel : "Jadi kau suka dia?"
Rain : "Apa cukup dengan itu kau berkesimpulan? Yang kau lihat tak selalu menunjukkan isi hati orang"
Feel : "Ya, kau benar. Makanya aku ingin memastikannya dengan tanya kamu"
Rain : "Dia sudah datang, sebentar lagi aku ke sana" (jawab Rain sambil mengarahkan jari telunjuknya ke tempat duduk Windy)
Feel : "Oke"
Rain : "Aku pergi dulu, nanti jangan lupa kunci pintunya"
Feel : "Yaps, semoga bahagia"
Rain : "Apa katamu?"
Feel : "Untuk apa itu?"
Rain : "Aku" (Rain sedang membuat kopi-susu hangat)
Feel : "Pasti buat dia"
Rain : "Apa dunia sesempit ini..."
Feel : "Sepertinya orang yang dekat denganmu akan tahu kalau kamu aneh, atau merasakan dirinya sendiri yang aneh"
Rain : "Setiap orang aneh"
Feel : "Tapi kau yang paling parah"
Rain : "Oke, aku pergi dulu" (Rain keluar kedai untuk menemui Windy)
Feel : "Ya, hati-hati"

***

Taman Kota ini
19.15

Windy menghitung bintang, Rain berdiri dua meter di sebelah kiri tempat duduknya. Dia belum juga menyadari kehadiran Rain. Dua menit sudah Rain hanya berdiri dan memperhatikan tingkah Windy, akhirnya Rain berjalan mendekati tempat duduk Windy.
Rain : "Apa yang kau lakukan?"
Windy : "What?" (kaget hilanglah hasil hitungan di jari-jarinya)
Rain : "Apa yang kau lakukan di sini?"
Windy : "Seperti biasa. Kau mengagetkan dan hilanglah hasil hitunganku!"
Rain : "Aneh"
Windy : "Aku menghitung bintang terang, bintang berkelip, dan bintang redup"
Rain : "Ini" (kata rain sambil memberi kopi-susu yang dibuatnya lebih dari 2 menit yang lalu)
Windy : "Sejak kapan kamu berubah jadi punya hati?"
Rain : "Setelah semua bintang jatuh"
Windy : "Hah... bener-bener orang aneh"
Rain : "Ini, mau tidak?"
Windy : "Kamu tak memberi jampi-jampi pada minuman ini kan?"
Rain : "Aku beri jampi-jampi biar kamu gak sakit lagi"
Windy : "Apa? aku gak sakit! Emang otakmu yang sakit!"
Rain : "Oke kalau gak mau aku minum sendiri"
Windy : "Ups, aku mau..." (dengan nada lirih)
Rain : "Apa? aku gak dengar?"
Windy : "Aku gak nolak"
Rain : "Ini"
Windy : "Terimakasih" (sambil menerima kopi-susu dari tangan Rain)
Rain : "Malam ini ada berapa bintang?"
Windy : "Haha, akhirnya kamu ingin tahu juga"
Rain : (diam dan berpikir "apa yang ku tanyakan? kenapa aku bertanya seperti itu!")
Windy : "Hey, kopi-susu ini mulai dingin"
Rain : "Aku sudah 2 jam yang lalu membuatnya dan menunggu kamu di sini"
Windy : "Hah, menunggu di mana? aku baru datang"
Rain : "Menunggu di sini, apa kamu gak sadar?"
Windy : "Dasar pembual"
Rain : "Dua menit"
Windy : "Apanya?"
Rain : "Lihat bintang itu, terang tak berkedip, kebiruan" (sambil menunjuk satu bintang terang)
Windy : "Sejak kapan anak ini berubah sok romantis" (bergumam)

Sejenak suasana hening, mereka diam sambil memandang bintang itu. Taman malam ini tak seramai biasanya, hanya beberapa orang berlalu-lalang tanpa duduk tenang. Udara dingin, angin sejenak berhembus.
Rain : "Dingin, sepi"
Windy : "Baru kali ini kau bersikap seperti ini, apa yang kau mau?"
Rain : "Aku selalu berubah"
Windy : "Ini seperti bukan dirimu"
Rain : "Bahkan kau belum mengenalku"
Windy : "Ya..."
Rain : "Oke, aku ingin pendapatmu"
Windy : (diam sambil melihat tangan Rain membuka selembar kertas)
Rain : "Ini tulisanku, esai. Aku ingin pendapatmu"
Windy : "Tidak salah lagi, benar yang aku rasakan pasti kamu ada maunya berubah seperti ini...haha" (sambil tertawa penuh kemenangan)
Rain : "Tak masalah, sekarang atau besok kau baca"
Windy : "Oke" (langsung merebut kertas yang dibawa Rain)
Rain : "Hey, hati-hati! Nanti rusak!"
Windy : "Ini, baik-baik saja. Aku baca dulu"
Rain : "Oke..."

(5 menit kemudian)
Windy : "Hah! Tulisan apa ini. Bener-bener gak bermutu, jelek!"
Rain : (Diam, melihat ekspresi Windy)
Windy : "Ini esai? Bukan esai! Tapi mirip diary yang ditulis anak kelas 5 SD" (serius, tanpa sedikit senyum di wajahnya)
Rain : "Yang benar? coba lihat" (mengambil kertas itu dari tangan Windy)
Windy : "Jangan bilang kau salah ambil kertas!" (sambil memasang muka seram ingin memakan Rain)
Rain : "Tidak" (sambil melipat kertas itu dan menaruhnya di saku bajunya)
Windy : "Haha... muka pasrah. Tapi aku suka gaya bahasa sederhana dan apa adanya itu. Itu pasti sifat kamu sebenarnya"
Rain : (diam)
Windy : "Sudah tahu kan sekarang bagaimana pendapatku? Aku gak bercanda, itu bener-bener hancur. Jelek, gak mutu!"
Rain : "Iya, aku tahu. Terimakasih" (dalam hati "Aku harus bisa memperbaiki kualitas tulisanku, argh... bahkan mirip diary anak kelas 5 SD?? apa gak terlalu! Kenapa gak sekalian mirip anak TK")
Windy : "Untung masih mirip tulisan anak 5 SD, coba saja kalau mirip anak kecil yang belum sekolah! Pasti gak ada orang yang bisa baca. haha" (dengan nada meledek)
Rain : "Huft. Oke... Terimakasih. Oh iya, masih berapa lama waktumu?"
Windy : "Masih lama, anak mama. Kenapa? kamu mau pulang dulu? Silahkan, nanti dicari mama"
Rain : "Lihat di sana, ada bintang jatuh!" (kata Rain sambil memasang muka kaget dan serius)
Windy : "Hah, mana?" (memandang ke arah yang ditunjuk Rain)

Windy melihat langit sambil mencari bintang jatuh, Rain perlahan tanpa suara meninggalkan Windy.
Windy : "Mana bintang jatuhnya? Tidak ada!" (masih sambil mencari bintang jatuh)
Rain : (berhasil melarikan diri, berjalan menjauh)
Windy : "Hey, kau bohong ya! Ups, kemana orang menjengkelkan itu. Pasti ini akal-akalan dia! Huft. Kenapa tak terpikir olehku. Benar banyak ide busuk di otaknya, dan aku gak bisa menerka sedikitpun. Sepertinya otaknya kosong tapi entah selalu berubah-ubah sikapnya. Bener-bener orang aneh sedunia! Oh, iya aku bisa menerka. Bukannya tadi dia ada maunya aku tahu, walau asal ngomong" (sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, tapi tak melihat Rain)

Windy berbicara sendiri, itulah kebiasaannya seperti saat menghitung bintang dan sebelum kenal Rain. Dia menghabiskan kopisusu dan tepat 20.00 meninggalkan taman itu. Kini, taman tanpa Windy :-).

Sabtu, 03 Maret 2012

Medan - Sumatera Utara - Indonesia


Medan - Sumatera Utara - Indonesia.
Secara geografis Kota Medan terletak pada 2 27'-2 47' Lintang Utara dan 98 35'-98 44' Bujur Timur. Kota Medan adalah kota bagian Utara Sumatera, Luas wilayah Kota Medan adalah 265,10 km2 secara administratif terdiri dari 21 Kecamatan dan 151 Kelurahan dengan jumlah penduduk 1.899.327 jiwa.

Sebagai ibukota dari Propinsi Sumatra Utara dan kota terbesar ketiga di Indonesia, Medan merupakan campuran yang sempurna dari beberapa suku dan budaya, karena di kota ini didapati beberapa suku, suku Aceh, suku Padang, suku Melayu dan suku Batak. Demikian pula keturunan Cina banyak berdiam di kota ini sejak zaman Belanda, menyebabkan kota ini semakin kaya dengan budayanya. 

Terdapat dua musim di Medan, Musim Hujan dan Musim Kemarau. Dari bulan November sampai bulan Mei adalah Musim Hujan, sedangkan dari bulan Mei sampai Oktober adalah Musim Kemarau. Medan dapat dicapai dengan mudah dengan pengangkutan udara. Di airport Polonia penerbangan internasional rutin mendarat setiap hari. 


Materi Referensi :

Senin, 05 Maret 2012

Asa dan Cita (bagian 3)

Senin, 13.15
Fajar - Kota Aksi

Asa terlihat bekerja keras di bawah terik matahari siang ini, dari pancaran wajahnya tak tampak sedikitpun rasa lelah bahkan yang tampak adalah semangat bekerja, meski keringat mulai menetes dari dahi dan sejenak ia mengusapnya. Inilah hari-hari dalam kehidupan Asa, bekerja keras dan semangat menjalani hidup ini, tanpa keluh kesah.

Dia, bersama dengan ayahnya adalah penjual makanan ringan dan minuman segar di pinggir jalan raya kota ini. Buka dari pagi sampai sore hari. Jiwa semangat yang dimiliki Asa adalah sesuatu yang sangat berharga bagi dia, ayah dan ibunya. Bukan bawaan dari lahir, tapi dia mendapatkan "semangat" dari belajar arti kehidupan dan berubah untuk menjadi yang lebih baik.

"Asa, kamu istirahat sejenak sana. Mumpung sepi pembeli." kata ayah Asa sambil memberi Es Teh Sayonara.
"Tapi ayah?" Asa balik bertanya karena iba meninggalkan ayahnya sendiri.
"Sudah, tidak apa-apa. Cepat istirahat sana, toh ayah tidak lelah" kata ayah Asa kemudian kembali ke tempat kerja.
"Hem, ayah selalu. Padahal aku tidak lelah dan mungkin dia yang lelah. Tapi mau bagaimana lagi, pasti dimarahi kalau tidak istirahat. Baiklah istirahat sejenak" gumam Asa sambil meminum "Sayonara" yang diberikan ayahnya.

***

"Gubrak..." suara yang sangat keras membangunkan Asa dari tidurnya. Dia melihat apa yang terjadi di sekitarnya, ternyata seorang pembeli menyenggol meja hingga mejanya terguling.
"Maaf, Pak... Saya tidak sengaja. Saya tersandung..." jelas seorang pembeli tersebut kepada ayah Asa.
"Tidak apa-apa, mari kita bersihkan" kata ayah Asa sambil membersihkan minuman yang tumpah dan juga meja yang kotor serta berantakan diikuti oleh pembeli.
"Aku tadi mimpi apa?" bisik Asa kepada dirinya sambil mengingat mimpi yang terlupa karena melihat kejadian tadi.

"Ah lupa..." gumamnya dan segera SMS Cita "Kamu baik-baik saja Cita? Aku khawatir, karena mimpiku buruk"
Kemudian Asa langsung membantu ayahnya untuk membersihkan meja yang kotor terkena tumpahan air minum tadi.

"Kamu terbangun gara-gara ini?" tanya ayah Asa
"Tidak ayah, memang saatnya aku bangun" jawab Asa
"Hem, cepat sekali. Apa sudah hilang capeknya?" tanya ayah Asa lagi
"Sudah cukup ayah, nanti kalau lama-lama tidur capek karena tidur malah, hehe" jawab asa diikuti dengan tawa kecil Asa dan ayahnya

Setelah selesai, Asa berkata kepada ayahnya "Gantian ayah istirahat ya? ayolah ayah..." pinta Asa dengan wajah memelas.
"Baiklah, tapi kamu jangan ketiduran ya..." canda ayah Asa, kemudian menuju tempat duduk paling pojok dimana Asa tertidur tadi untuk sejenak melepas lelah.

"Buah jeruk, buah kedondong. Ada sms masuk, dibaca dong..." celetuk suara khas Sinchan dari HP Asa.
"Kamu mimpi apa?" kata yang terbaca di layar HP Asa.
"Orang ini, ditanya kabar malah balik tanya. Apa gak tau aku khawatir!" gumam Asa sambil menulis sms balasan untuk Cita "Gak ada, cuma mimpi buruk. Tak jelas, ditanya kabar malah balik tanya kamu tuh gak ngerti ya aku panik!"

"Aku baik saja" balas Cita
"Tetap cuek, tidak terampuni. Oke, mungkin dia sedang sibuk. Ini kan masuk jam kerjanya. Dan semoga kamu baik-baik saja!" gumam Asa hampir saja terucap melalui bibirnya.

Pelanggan makanan ringan dan es segar Sayonara Asa kini mulai ramai lagi, di siang terik ini adalah jam orang pulang bekerja atau berangkat bekerja untuk yang mendapatkan giliran kerja siang. Asa dengan semangat baru melanjutkan menjaga "kedai" di pinggir jalan raya Kota Aksi, Fajar.
Cerita ini bisa dibilang cerpen ataupun cermin. Tapi kalau saya menyebutnya cenderung ke cermin (cerita mini) bersambung karena terlalu mini untuk disebut cerpen. Hem, apapun penyebutannya semoga bermanfaat. Dan ini bagian ke tiga, untuk bagian kedua silahkan klik --> Asa dan Cita (bagian 2).

Rabu, 26 Februari 2014

Yogyakarta, Yogjakarta, Jogja, Yogja, atau Ngayogyakarta?

Bismillah,
Kadang saya atau juga Anda atau diantara kita :-) masih bingung penulisan juga pengucapan salah satu kota istimewa di Indonesia ini, yaitu Yogyakarta - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tak masalah, hanya saja harus ada standar khusus untuk menentukan penulisan khususnya untuk sesuatu yang resmi misalkan menulis Kartya Tulis Ilmiah atau yang lainnya. Jadi, coba simak pembahasan singkat berikut yang saya ambil dari situs YogYes.com*:

Banyak orang menyebut Yogyakarta dengan nama berbeda-beda. Orang-orang tua menyebut Ngayogyakarta, orang-orang Jawa Timur dan Jawa Tengah menyebut Yogja atau Yojo. Disebut Jogja dalam slogan Jogja Never Ending Asia. Belakangan muncul sebutan baru, yaitu Djokdja. Sekilas memang membingungkan, namun menunjuk pada daerah yang sama. Lalu, bagaimana bisa kisahnya sampai nama kota ini bisa begitu bervariasi?

Paling tidak, ada 3 perkembangan yang bisa diuraikan. Nama Ngayogyakarta dipastikan muncul tahun 1755, ketika Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I mendirikan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kraton yang berdiri di Alas Bering itu merupakan wujud Perjanjian Giyanti yang dilakukan dengan Pakubuwono III dari Surakarta.

Tak jelas kapan mulai muncul penamaan Yogyakarta, apakah muncul karena pemenggalan dari nama Ngayogyakarta atau sebab lain. Namun, nama Yogyakarta secara resmi telah dipakai sejak awal kemerdekaan Indonesia. Ketika menjadi ibukota Indonesia pada tahun 1949, kota yang juga bergelar kota pelajar ini sudah disebut Yogyakarta. Sri sultan Hamengku Buwono IX juga menggunakan nama Yogyakarta ketika mengumumkan bahwa kerajaan ini merupakan bagian dari Republik Indonesia.

Berbagai penamaan muncul kemudian, seperti Yogja, Jogja, Jogya dan Yogya. Bisa dikatakan bahwa variasi nama itu muncul akibat pelafalan yang berbeda-beda antar orang dari berbagai daerah di Indonesia. Uniknya, hampir semua orang bisa memahami tempat yang ditunjuk meski cara pengucapannya berbeda. 

Karena kepentingan bisnis, nama Jogja kemudian menguat dan digunakan dalam slogan Jogja Never Ending Asia. Slogan tersebut dibuat untuk membangun citra Yogyakarta sebagai kota wisata yang kaya akan pesona alam dan budaya. Alasan dipilih 'Jogja' adalah karena (diasumsikan) lebih mudah dilafalkan oleh banyak orang, termasuk para wisatawan asing. Sempat pula berbagai institusi mengganti Yogyakarta dengan Jogjakarta.

Setelah mengetahui sejarah ringkas tentang nama Yogyakarta, kita dapat mengetahui bahwa kota tersebut memiliki banyak sejarah penamaan. Tapi sobat sudah tahu kan jawaban dari pertanyaan judul di atas? Yups, Yogyakarta tepatnya.

*Untuk membaca lanjutan paragraf cuplikan di atas, silahkan kunjungi link sumber di bawah ini:

Minggu, 03 Juni 2012

Salman Al-Farisi (Perantau Sejati dalam Mencari Kebenaran)

Dari Persi datangnya pahlawan kali ini. Dan dari Persi pula Agama Islam nanti dianut oleh orang-orang Mu'min yang tidak sedikit jumlahnya, dari kalangan mereka muncul pribadi-pribadi istimewa yang tiada taranya, baik dalam bidang kedalaman ilmu pengetahuan dan ilmuan dan keagamaan, maupun keduniaan. 

Dan memang, salah satu dari keistimewaan dan kebesaran al-Islam ialah, setiap ia memasuki suatu negeri dari negeri-negeri Allah, maka dengan keajaiban luar biasa dibangkitkannya setiap keahlian, digerakkannya segala kemampuan serta digalinya bakat-bakat terpendam dari warga dan penduduk negeri itu, dokter-dokter Islam, ahli-ahli astronomi Islam, ahli-ahli fiqih Islam, ahli-ahli ilmu pasti Islam dan penemu-penemu mutiara Islam. 

Ternyata bahwa pentolan-pentolan itu berasal dari setiap penjuru dan muncul dari setiap bangsa, hingga masa-masa pertama perkembangan Islam penuh dengan tokoh-tokoh luar biasa dalam segala lapangan, baik cita maupun karsa, yang berlainan tanah air dan suku bangsanya, tetapi satu Agama. Dan perkembangan yang penuh berkah dari Agama ini telah lebih dulu dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahkan beliau telah menerima janji yang benar dari Tuhannya Yang Maha Besar lagi Maha Mengetahui. Pada suatu hari diangkatlah baginya jarak pemisah dari tempat dan waktu, hingga disaksikannyalah dengan mata kepala panji-panji Islam berkibar di kota-kota di muka bumi, serta di istana dan mahligai-mahligai para penduduknya. 

Salman radhiyallahu 'anhu sendiri turut menyaksikan hal tersebut, karena ia memang terlibat dan mempunyai hubungan erat dengan kejadian itu. Peristiwa itu terjadi waktu perang Khandaq, yaitu pada tahun kelima Hijrah. Beberapa orang pemuka Yahudi pergi ke Mekah menghasut orang-orang musyrik dan golongan-golongan kuffar agar bersekutu menghadapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Kaum Muslimin, serta mereka berjanji akan memberikan bantuan dalam perang penentuan yang akan menumbangkan serta mencabut urat akar Agama baru ini. 

Siasat dan taktik perang pun diaturlah secara licik, bahwa tentara Quraisy dan Ghathfan akan menyerang kota Madinah dari luar, sementara Bani Quraidlah (Yahudi) akan menyerang-nya dari dalam -- yaitu dari belakang barisan Kaum Muslimin sehingga mereka akan terjepit dari dua arah, karenanya mereka akan hancur lumat dan hanya tinggal nama belaka. 



Demikianlah pada suatu hari Kaum Muslimin tiba-tiba melihat datangnya pasukan tentara yang besar mendekati kota Madinah, membawa perbekalan banyak dan persenjataan lengkap untuk menghancurkan. Kaum Muslimin panik dan mereka bagaikan kehilangan akal melihat hal yang tidak diduga-duga itu. Keadaan mereka dilukiskan oleh al-Quran sebagai berikut: 



Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah naik sampai kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah. (Q.S. 33 al-Ahzab:l0) 



24.000 orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin Hishn menghampiri kota Madinah dengan maksud hendak mengepung dan melepaskan pukulan menentukan yang akan menghabisi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Agama serta para shahabatnya. 

Pasukan tentara ini tidak saja terdiri dari orang-orang Quraisy, tetapi juga dari berbagai kabilah atau suku yang menganggap Islam sebagai lawan yang membahayakan mereka. Dan peristiwa ini merupakan percobaan akhir dan menentukan dari fihak musuh-musuh Islam, baik dari perorangan, maupun dari suku dan golongan. 

Kaum Muslimin menginsafi keadaan mereka yang gawat ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam-pun mengumpulkan para shahabatnya untuk bermusyawarah. Dan tentu saja mereka semua setuju untuk bertahan dan mengangkat senjata, tetapi apa yang harus mereka lakukan untuk bertahan itu? 

Ketika itulah tampil seorang yang tinggi jangkung dan berambut lebat, seorang yang disayangi dan amat dihormati oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Itulah dia Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu!' Dari tempat ketinggian ia melayangkan pandang meninjau sekitar Madinah, dan sebagai telah dikenalnya juga didapatinya kota itu di lingkung gunung dan bukit-bukit batu yang tak ubah bagai benteng juga layaknya. Hanya di sana terdapat pula daerah terbuka, luas dan terbentang panjang, hingga dengan mudah akan dapat diserbu musuh untuk memasuki benteng pertahanan. 

Di negerinya Persi, Salman radhiyallahu 'anhu telah mempunyai pengalaman luas tentang teknik dan sarana perang, begitu pun tentang siasat dan liku-likunya. Maka tampillah ia mengajukan suatu usul kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yaitu suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh orang-orang Arab dalam peperangan mereka selama ini. Rencana itu berupa penggalian khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka keliling kota. 



Dan hanya Allah yang lebih mengetahui apa yang akan dialami Kaum Muslimin dalam peperangan itu seandainya mereka tidak menggali parit atas usul Salman radhiyallahu 'anhu tersebut. 

Demi Quraisy menyaksikan parit terbentang di hadapannya, mereka merasa terpukul melihat hal yang tidak disangka-sangka itu, hingga tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos kota. 

Dan akhirnya pada suatu malam Allah Ta'ala mengirim angin topan yang menerbangkan kemah-kemah dan memporak-porandakan tentara mereka. Abu Sufyan pun menyerukan kepada anak buahnya agar kembali pulang ke kampung mereka ... dalam keadaan kecewa dan berputus asa serta menderita kekalahan pahit ... 

Sewaktu menggali parit, Salman radhiyallahu 'anhu tidak ketinggalan bekerja bersama Kaum Muslimin yang sibuk menggali tanah. Juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ikut membawa tembilang dan membelah batu. Kebetulan di tempat penggalian Salman radhiyallahu 'anhu bersama kawan-kawannya, tembilang mereka terbentur pada sebuah batu besar. 

Salman radhiyallahu 'anhu seorang yang berperawakan kuat dan bertenaga besar. Sekali ayun dari lengannya yang kuat akan dapat membelah batu dan memecahnya menjadi pecahan-pecahan kecil. Tetapi menghadapi batu besar ini ia tak berdaya, sedang bantuan dari teman-temannya hanya menghasilkan kegagalan belaka. 



Salman radhiyallahu 'anhu pergi mendapatkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan minta idzin mengalihkan jalur parit dari garis semula, untuk menghindari batu besar yang tak tergoyahkan itu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun pergi bersama Salman radhiyallahu 'anhu untuk melihat sendiri keadaan tempat dan batu besar tadi. Dan setelah menyaksikannya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meminta sebuah tembilang dan menyuruh para shahabat mundur dan menghindarkan diri dari pecahan-pecahan batu itu nanti.... 



Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu membaca basmalah dan mengangkat kedua tangannya yang mulia yang sedang memegang erat tembilang itu, dan dengan sekuat tenaga dihunjamkannya ke batu besar itu. Kiranya batu itu terbelah dan dari celah belahannya yang besar keluar lambaian api yang tinggi dan menerangi. "Saya lihat lambaian api itu menerangi pinggiran kota Madinah", kata Salman radhiyallahu 'anhu, sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkan takbir, sabdanya: 

Allah Maha Besar! aku telah dikaruniai kunci-kunci istana negeri Persi, dan dari lambaian api tadi nampak olehku dengan nyata istana-istana kerajaan Hirah begitu pun kota-kota maharaja Persi dan bahwa ummatku akan menguasai semua itu. 

Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengangkat tembilang itu kembali dan memukulkannya ke batu untuk kedua kalinya. Maka tampaklah seperti semula tadi. Pecahan batu besar itu menyemburkan lambaian api yang tinggi dan menerangi, sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertakbir sabdanya: 

Allah Maha Besar! aku telah dikaruniai kunci-kunci negeri Romawi, dan tampak nyata olehku istana-istana merahnya, dan bahwa ummatku akan menguasainya. 



Kemudian dipukulkannya untuk ketiga kali, dan batu besar itu pun menyerah pecah berderai, sementara sinar yang terpancar daripadanya amat nyala dan terang temarang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun mengucapkan la ilaha illallah diikuti dengan gemuruh oleh kaum Muslimin. Lalu diceritakanlah oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau sekarang melihat istana-istana dan mahligai-mahligai di Syria maupun Shan'a, begitu pun di daerah-daerah lain yang suatu ketika nanti akan berada di bawah naungan bendera Allah yang berkibar. Maka dengan keimanan penuh Kaum Muslimin pun serentak berseru: 

Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya .... Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. 



Salman radhiyallahu 'anhu adalah orang yang mengajukan saran untuk membuat parit. Dan dia pulalah penemu batu yang telah memancarkan rahasia-rahasia ghaib, yakni ketika ia meminta tolong kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Ia berdiri di samping Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyaksikan cahaya dan mendengar berita gembira itu. Dan dia masih hidup ketika Nubuwwah itu menjadi kenyataan, dilihat bahkan dialami dan dirasakannya sendiri. Dilihatnya kota-kota di Persi dan Romawi, dan dilihatnya mahligai istana di Shan'a, di Mesir, di Syria dan di Irak. Pendeknya disaksikan dengan mata kepalanya bahwa seluruh permukaan bumi seakan berguncang keras, karena seruan mempesona penuh berkah yang berkumandang dari puncak menara-menara tinggi di setiap pelosok, memancarkan sinar hidayah Allah ....Nah, itulah dia sedang duduk di bawah naungan sebatang pohon yang rindang berdaun rimbun, di muka rumahnya di kota Madain; sedang menceritakan kepada shahabat-shahabatnya perjuangan berat yang dialaminya demi mencari kebenaran, dan mengisahkan kepada mereka bagaimana ia meninggalkan agama nenek moyangnya bangsa Persi, masuk ke dalam agama Nashrani dan dari sana pindah ke dalam Agama Islam. Betapa ia telah meninggalkan kekayaan berlimpah dari orang tuanya dan menjatuhkan dirinya ke dalam lembah kemiskinan demi kebebasan fikiran dan jiwanya .. .! Betapa ia dijual di pasar budak dalam mencari kebenaran itu, bagaimana ia berjumpa dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan iman kepadanya ...! 



Marilah kita dekati majlisnya yang mulia dan kita dengarkan kisah menakjubkan yang diceriterakannya! 

"Aku berasal dari Isfahan, warga suatu desa yang bernama "Ji". Bapakku seorang bupati di daerah itu, dan aku merupakan makhluq Allah yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dalam agama majusi, hingga diserahi tugas sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya dan tidak membiarkannya padam. 



Bapakku memiliki sebidang tanah, dan pada suatu hari aku disuruhnya ke sana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku lewat di sebuah gereja milik kaum Nashrani. Kudengar mereka sedang sembahyang, maka aku masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka sembahyang, dan kataku dalam hati: "Ini lebih baik dari apa yang aku anut selama ini!" Aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam, dan tidak jadi pergi ke tanah milik bapakku serta tidak pula kembali pulang, hingga bapak mengirim orang untuk menyusulku. 



Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanyakan kepada orang-orang Nashrani dari mana asal-usul agama mereka. "Dari Syria",ujar mereka. 

Ketika telah berada di hadapan bapakku, kukatakan kepadanya: "Aku lewat pada suatu kaum yang sedang melakukan upacara sembahyang di gereja. Upacara mereka amat mengagumkanku. Kulihat pula agama mereka lebih baik dari agama kita". Kami pun bersoal-jawab melakukan diskusi dengan bapakku dan berakhir dengan dirantainya kakiku dan dipenjarakannya diriku .... 

Kepada orang-orang Nashrani kukirim berita bahwa aku telah menganut agama mereka. Kuminta pula agar bila datang rombongan dari Syria, supaya aku diberi tahu sebelum mereka kembali, karena aku akan ikut bersama mereka ke sana. Permintaanku itu mereka kabulkan, maka kuputuskan rantai. Lalu meloloskan diri dari penjara dan menggabungkan diri kepada rombongan itu menuju Syria. 



Sesampainya di sana kutanyakan seorang ahli dalam agama itu, dijawabnya bahwa ia adalah uskup pemilik gereja. Maka datanglah aku kepadanya, kuceriterakan keadaanku. Akhirnya tinggallah aku bersamanya sebagai pelayan, melaksanakan ajaran mereka dan belajar, Sayang uskup ini seorang yang tidak baik beragamanya, karena dikumpulkannya sedekah dari orang-orang dengan alasan untuk dibagikan, ternyata disimpan untuk dirinya pribadi. Kemudian uskup itu wafat ....dan mereka mengangkat orang lain sebagai gantinya. Dan kulihat tak seorang pun yang lebih baik beragamanya dari uskup baru ini. Aku pun mencintainya demikian rupa, sehingga hatiku merasa tak seorang pun yang lebih kucintai sebelum itu dari padanya. 

Dan tatkala ajalnya telah dekat, tanyaku padanya: "Sebagai anda maklumi, telah dekat saat berlakunya taqdir Allah atas diri anda. Maka apakah yang harus kuperbuat, dan siapakah sebaiknya yang harus kuhubungi. "Anakku!", ujarnya: "tak seorang pun menurut pengetahuanku yang sama langkahnya dengan aku, kecuali seorang pemimpin yang tinggal di Mosul". 



Lalu tatkala ia wafat aku pun berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya itu. Kuceritakan kepadanya pesan dari uskup tadi dan aku tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah. 

Kemudian tatkala ajalnya telah dekat pula, kutanyakan kepadanya siapa yang harus kuturuti. Ditunjukkannyalah orang shalih yang tinggal di Nasibin. Aku datang kepadanya dan kuceritakan perihalku, lalu tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah pula. 

Tatkala ia hendak meninggal, kubertanya pula kepadanya. Maka disuruhnya aku menghubungi seorang pemimpin yang tinggal di 'Amuria, suatu kota yang termasuk wilayah Romawi. 

Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya, sedang sebagai bekal hidup aku berternak sapi dan kambing beberapa ekor banyaknya. 

Kemudian dekatlah pula ajalnya dan kutanyakan padanya kepada siapa aku dipercayakannya. Ujarnya: "Anakku.' Tak seorang pun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat kupercayakan engkau padanya. Tetapi sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang Nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni. ia nanti akan hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu-batu hitam. Seandainya kamu dapat pergi ke sana, temuilah dia, ia mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gamblang: ia tidak mau makan shadaqah, sebaliknya bersedia menerima hadiah dan di pundaknya ada cap kenabian yang bila kau melihatnya, segeralah kau mengenalinya': 



Kebetulan pada suatu hari lewatlah suatu rombongan berkendaraan, lalu kutanyakan dari mana mereka datang. Tahulah aku bahwa mereka dari jazirah Arab, maka kataku kepada mereka: "Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?" "Baiklah", ujar mereka. 

Demikianlah mereka membawaku serta dalam perjalanan hingga sampai di suatu negeri yang bernama Wadil Qura. Di sana aku mengalami penganiayaan, mereka menjualku kepada seorang yahudi. Ketika tampak olehku banyak pohon kurma, aku berharap kiranya negeri ini yang disebutkan pendeta kepadaku dulu, yakni yang akan menjadi tempat hijrah Nabi yang ditunggu. Ternyata dugaanku meleset. 

Mulai saat itu aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga pada suatu hari datang seorang yahudi Bani Quraizhah yang membeliku pula daripadanya. Aku dibawanya ke Madinah, dan demi Allah baru saja kulihat negeri itu, aku pun yakin itulah negeri yang disebutkan dulu. 

Aku tinggal bersama yahudi itu dan bekerja di perkebunan kurma milik Bani Quraizhah, hingga datang saat dibangkitkannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang datang ke Madinah dan singgah pada Bani 'Amar bin 'Auf di Quba. 

Pada suatu hari, ketika aku berada di puncak pohon kurma sedang majikanku lagi duduk di bawahnya, tiba-tiba datang seorang yahudi saudara sepupunya yang mengatakan padanya: 



"Bani Qilah celaka! Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba yang datang dari Mekah dan mengaku sebagai Nabi. Demi Allah, baru saja ia mengucapkan kata-kata itu, tubuhku-pun bergetar keras hingga pohon kurma itu bagai bergoncang dan hampir saja aku jatuh menimpa majikanku. Aku segera turun dan kataku kepada orang tadi: "Apa kata anda?" Ada berita apakah?" Majikanku mengangkat tangan lalu meninjuku sekuatnya, serta bentaknya: "Apa urusanmu dengan ini, ayo kembali ke pekerjaanmu!" Maka aku pun kembalilah bekerja ... 

Setelah hari petang, kukumpulkan segala yang ada padaku, lalu keluar dan pergi menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di Quba. Aku masuk kepadanya ketika beliau sedang duduk bersama beberapa orang anggota rombongan. Lalu kataku kepadanya: "Tuan-tuan adalah perantau yang sedang dalam kebutuhan. Kebetulan aku mempunyai persediaan makanan yang telah kujanjikan untuk sedekah. Dan setelah mendengar keadaan tuan-tuan, maka menurut hematku, tuan-tuanlah yang lebih layak menerimanya, dan makanan itu kubawa ke sini". Lalu makanan itu kutaruh di hadapannya. 



"Makanlah dengan nama Allah". sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada para shahabatnya, tetapi beliau tak sedikit pun mengulurkan tangannya menjamah makanan itu. "Nah, demi Allah!" kataku dalam hati, inilah satu dari tanda-tandanya ... bahwa ia tak mau memakan harta sedekah': 

Aku kembali pulang, tetapi pagi-pagi keesokan harinya aku kembali menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sambil membawa makanan, serta kataku kepadanya: "Kulihat tuan tak hendak makan sedeqah, tetapi aku mempunyai sesuatu yang ingin kuserahkan kepada tuan sebagai hadiah'', lalu kutaruh makanan di hadapannya. Maka sabdanya kepada shahabatnya: 'Makanlah dengan menyebut nama Allah ! ' Dan beliaupun turut makan bersama mereka. "Demi Allah': kataku dalam hati, inilah tanda yang kedua, bahwa ia bersedia menerima hadiah ': 

Aku kembali pulang dan tinggal di tempatku beberapa lama. Kemudian kupergi mencari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan kutemui beliau di Baqi', sedang mengiringkan jenazah dan dikelilingi oleh shahabat-shahabatnya. Ia memakai dua lembar kain lebar, yang satu dipakainya untuk sarung dan yang satu lagi sebagai baju. 

Kuucapkan salam kepadanya dan kutolehkan pandangan hendak melihatnya. Rupanya ia mengerti akan maksudku, maka disingkapkannya kain burdah dari lehernya hingga nampak pada pundaknya tanda yang kucari, yaitu cap kenabian sebagai disebutkan oleh pendeta dulu. 



Melihat itu aku meratap dan menciuminya sambil menangis. Lalu aku dipanggil menghadap oleh Rasulullah. Aku duduk di hadapannya, lalu kuceritakan kisahku kepadanya sebagai yang telah kuceriterakan tadi. 

Kemudian aku masuk Islam, dan perbudakan menjadi penghalang bagiku untuk menyertai perang Badar dan Uhud. Lalu pada suatu hari Rasulullah menitahkan padaku:'Mintalah pada majikanmu agar ia bersedia membebaskanmu dengan menerima uang tebusan." 

Maka kumintalah kepada majikanku sebagaimana dititahkan Rasulullah, sementara Rasulullah menyuruh para shahabat untuk membantuku dalam soal keuangan. 

Demikianlah aku dimerdekakan oleh Allah, dan hidup sebagai seorang Muslim yang bebas merdeka, serta mengambil bagian bersama Rasulullah dalam perang Khandaq dan peperangan lainnya. 

Dengan kalimat-kalimat yang jelas dan manis, Salman radhiyallahu 'anhu menceritakan kepada kita usaha keras dan perjuangan besar serta mulia untuk mencari hakikat keagamaan, yang akhirnya dapat sampai kepada Allah Ta'ala dan membekas sebagai jalan hidup yang harus ditempuhnya ....



Corak manusia ulung manakah orang ini? Dan keunggulan besar manakah yang mendesak jiwanya yang agung dan melecut kemauannya yang keras untuk mengatasi segala kesulitan dan membuatnya mungkin barang yang kelihatan mustahil? Kehausan dan kegandrungan terhadap kebenaran manakah yang telah menyebabkan pemiliknya rela meninggalkan kampung halaman berikut harta benda dan segala macam kesenangan, lalu pergi menempuh daerah yang belum dikenal -- dengan segala halangan dan beban penderitaan -- pindah dari satu daerah ke daerah lain, dari satu negeri ke negeri lain, tak kenal letih atau lelah, di samping tak lupa beribadah secara tekun ...? 

Sementara pandangannya yang tajam selalu mengawasi manusia, menyelidiki kehidupan dan aliran mereka yang berbeda, sedang tujuannya yang utama tak pernah beranjak dari semula, yang tiada lain hanya mencari kebenaran. Begitu pun pengorbanan mulia yang dibaktikannya demi mencapai hidayah Allah, sampai ia diperjual belikan sebagai budak belian ...Dan akhirnya ia diberi Allah ganjaran setimpal hingga dipertemukan dengan al-Haq dan dipersuakan dengan Rasul-Nya, lalu dikaruniai usia lanjut, hingga ia dapat menyaksikan dengan kedua matanya bagaimana panji-panji Allah berkibaran di seluruh pelosok dunia, sementara ummat Islam mengisi ruangan dan sudut-sudutnya dengan hidayah dan petunjuk Allah, dengan kemakmuran dan keadilan.. .! 

Bagaimana akhir kesudahan yang dapat kita harapkan dari seorang tokoh yang tulus hati dan keras kemauannya demikian rupa? Sungguh, keislaman Salman radhiyallahu 'anhu adalah keislamannya orang-orang utama dan taqwa. Dan dalam kecerdasan, kesahajaan dan kebebasan dari pengaruh dunia, maka keadaannya mirip sekali dengan Umar bin Khatthab. 

Ia pernah tinggal bersama Abu Darda di sebuah rumah beberapa hari lamanya. Sedang kebiasaan Abu Darda beribadah di waktu malam dan shaum di waktu siang. Salman radhiyallahu 'anhu melarangnya berlebih-lebihan dalam beribadah seperti itu. 

Pada suatu hari Salman radhiyallahu 'anhu bermaksud hendak mematahkan niat Abu Darda untuk shaum sunnah esok hari. Dia menyalahkannya: "Apakah engkau hendak melarangku shaum dan shalat karena Allah?" Maka jawab Salman radhiyallahu 'anhu: "Sesungguhnya kedua matamu mempunyai hak atas dirimu, demikian pula keluargamu mempunyai hak atas dirimu. Di samping engkau shaum, berbukalah; dan di samping melakukan shalat, tidurlah!" 

Peristiwa itu sampai ke telinga Rasulullah, maka sabdanya: Sungguh Salman radhiyallahu 'anhu telah dipenuhi dengan ilmu. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri sering memuji kecerdasan Salman radhiyallahu 'anhu serta ketinggian ilmunya, sebagaimana beliau memuji Agama dan budi pekertinya yang luhur. Di waktu perang Khandaq, kaum Anshar sama berdiri dan berkata: "Salman radhiyallahu 'anhu dari golongan kami". Bangkitlah pula kaum Muhajirin, kata mereka: "Tidak, ia dari golongan kami!" Mereka pun dipanggil oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan sabdanya: Salman adalah golongan kami, ahlul Bait. 

Dan memang selayaknyalah jika Salman radhiyallahu 'anhu mendapat kehormatan seperti itu ...! 

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menggelari Salman radhiyallahu 'anhu dengan "Luqmanul Hakim". Dan sewaktu ditanya mengenai Salman, yang ketika itu telah wafat, maka jawabnya: "Ia adalah seorang yang datang dari kami dan kembali kepada kami Ahlul Bait. Siapa pula di antara kalian yang akan dapat menyamai Luqmanul Hakim. Ia telah beroleh ilmu yang pertama begitu pula ilmu yang terakhir. Dan telah dibacanya kitab yang pertama dan juga kitab yang terakhir. Tak ubahnya ia bagai lautan yang airnya tak pernah kering". 

Dalam kalbu para shahabat umumnya, pribadi Salman radhiyallahu 'anhu telah mendapat kedudukan mulia dan derajat utama. Di masa pemerintahan Khalifah Umar radhiyallahu 'anhu ia datang berkunjung ke Madinah. Maka Umar melakukan penyambutan yang setahu kita belum penah dilakukannya kepada siapa pun juga. Dikumpulkannya para shahabat dan mengajak mereka: "Marilah kita pergi menyambut Salman radhiyallahu 'anhu!" Lalu ia keluar bersama mereka menuju pinggiran kota Madinah untuk menyambutnya ... 



Semenjak bertemu dengan Rasulullah dan iman kepadanya, Salman radhiyallahu 'anhu hidup sebagai seorang Muslim yang merdeka, sebagai pejuang dan selalu berbakti. Ia pun mengalami kehidupan masa Khalifah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu; kemudian di masa Amirul Mu'minin Umar radhiyallahu 'anhu; lalu di masa Khalifah Utsman radhiyallahu 'anhu, di waktu itu ia kembali ke hadirat Tuhannya. 

Di tahun-tahun kejayaan ummat Islam, panji-panji Islam telah berkibar di seluruh penjuru, harta benda yang tak sedikit jumlahnya mengalir ke Madinah sebagai pusat pemerintahan baik sebagai upeti ataupun pajak untuk kemudian diatur pembagiannya menurut ketentuan Islam, hingga negara mampu memberikan gaji dan tunjangan tetap. Sebagai akibatnya banyaklah timbul masalah pertanggungjawaban secara hukum mengenai perimbangan dan cara pembagian itu, hingga pekerjaan pun bertumpuk dan jabatan tambah meningkat. 

Maka dalam gundukan harta negara yang berlimpah ruah itu, di manakah kita dapat menemukan Salman radhiyallahu 'anhu? Di manakah kita dapat menjumpainya di saat kekayaan dan kejayaan, kesenangan dan kemakmuran itu ...? 

Bukalah mata anda dengan baik! Tampaklah oleh anda seorang tua berwibawa duduk di sana di bawah naungan pohon, sedang asyik memanfaatkan sisa waktunya di samping berbakti untuk negara, menganyam dan menjalin daun kurma untuk dijadikan bakul atau keranjang.



Nah, itulah dia Salman radhiyallahu 'anhu Perhatikanlah lagi dengan cermat! Lihatlah kainnya yang pendek, karena amat pendeknya sampai terbuka kedua lututnya. Padahal ia seorang tua yang berwibawa, mampu dan tidak berkekurangan. Tunjangan yang diperolehnya tidak sedikit, antara 4.000 - 6.000 ribu dirham setahun. Tapi semua itu disumbangkannya habis, satu dirham pun tak diambil untuk dirinya. Katanya: "Untuk bahannya kubeli daun satu dirham, lalu kuperbuat dan kujual tiga dirham. 

Yang satu dirham kuambil untuk modal, satu dirham lagi untuk nafkah keluargaku, sedang satu dirham sisanya untuk shadaqah. Seandainya Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu melarangku berbuat demikian, sekali-kali tiadalah akan kuhentikan!" 

Lalu bagaimana wahai ummat Rasulullah? Betapa wahai peri kemanusiaan, di mana saja dan kapan saja? Ketika mendengar sebagian shahabat dan kehidupannya yang amat bersahaja, seperti Abu Bakar, Umar, Abu Dzar radhiyallahu 'anhum dan lain-lain; sebagian kita menyangka bahwa itu disebabkan suasana lingkungan padang pasir, di mana seorang Arab hanya dapat menutupi keperluan dirinya secara bersahaja. 

Tetapi sekarang kita berhadapan dengan seorang putera Persi, suatu negeri yang terkenal dengan kemewahan dan kesenangan serta hidup boros, sedang ia bukan dari golongan miskin atau bawahan, tapi dari golongan berpunya dan kelas tinggi. Kenapa ia sekarang menolak harta, kekayaan dan kesenangan; bertahan dengan kehidupan bersahaja, tiada lebih dari satu dirham tiap harinya, yang diperoleh dari hasil jerih payahnya sendiri.. .? kenapa ditolaknya pangkat dan tak bersedia menerimanya? 

Katanya: "Seandainya kamu masih mampu makan tanah asal tak membawahi dua orang manusia --, maka lakukanlah!" Kenapa ia menolak pangkat dan jabatan, kecuali jika mengepalai sepasukan tentara yang pergi menuju medan perang? Atau dalam suasana tiada seorang pun yang mampu memikul tanggung jawab kecuali dia, hingga terpaksa ia melakukannya dengan hati murung dan jiwa merintih? Lalu kenapa ketika memegang jabatan yang mesti dipikulnya, ia tidak mau menerima tunjangan yang diberikan padanya secara halal? 



Diriwayatkan oleh Hisyam bin Hisan dari Hasan: "Tunjangan Salman radhiyallahu 'anhu sebanyak 5. 000 setahun, (gambaran kesederhanaannya) ketika ia berpidato di hadapan 30.000 orang separuh baju luarnya (aba'ah) dijadikan alas duduknya dan separoh lagi menutupi badannya. Jika tunjangan keluar, maka dibagi-bagikannya sampai habis, sedang untuk nafkahnya dari hasil usaha kedua tangannya (membuat keranjang dari anyaman daun kurma)". 



Kenapa ia melakukan perbuatan seperti itu dan amat zuhud kepada dunia, padahal ia seorang putera Persi yang biasa tenggelam dalam kesenangan dan dipengaruhi arus kemajuan? Marilah kita dengar jawaban yang diberikannya ketika berada di atas pembaringan menjelang ajalnya, sewaktu ruhnya yang mulia telah bersiap-siap untuk kembali menemui Tuhannya Yang Maha Tinggi lagi Maha Pengasih. 



Sa'ad bin Abi Waqqash datang menjenguknya, lalu Salman radhiyallahu 'anhu menangis. "Apa yang anda tangiskan, wahai Abu Abdillah",') tanya Sa'ad, "padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat dalam keadaan ridla kepada anda?" "Demi Allah, ujar Salman radhiyallahu 'anhu, "daku menangis bukanlah karena takut mati ataupun mengharap kemewahan dunia, hanya Rasulullah telah menyampaikan suatu pesan kepada kita, sabdanya: 

Hendaklah bagian masing-masingmu dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengendara, padahal harta milikku begini banyaknya" 

Kata Sa'ad: "Saya perhatikan, tak ada yang tampak di sekelilingku kecuali satu piring dan sebuah baskom. Lalu kataku padanya: "Wahai Abu Abdillah, berilah kami suatu pesan yang akan kami ingat selalu darimu!" Maka ujamya: "Wahai Sa'ad! 



Ingatlah Allah di kala dukamu, sedang kau derita. 

Dan pada putusanmu jika kamu menghukumi. 

Dan pada saat tanganmu melakukan pembagian". 


Rupanya inilah yang telah mengisi kalbu Salman radhiyallahu 'anhu mengenai kekayaan dan kepuasan. Ia telah memenuhinya dengan zuhud terhadap dunia dan segala harta, pangkat dengan pengaruhnya; yaitu pesan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepadanya dan kepada semua shahabatnya, agar mereka tidak dikuasai oleh dunia dan tidak mengambil bagian daripadanya, kecuali sekedar bekal seorang pengendara. 

Salman radhiyallahu 'anhu telah memenuhi pesan itu sebaik-baiknya, namun air matanya masih jatuh berderai ketika ruhnya telah siap untuk berangkat; khawatir kalau-kalau ia telah melampaui batas yang ditetapkan. Tak terdapat di ruangannya kecuali sebuah piring wadah makannya dan sebuah baskom untuk tempat minum dan wudlu .:., tetapi walau demikian ia menganggap dirinya telah berlaku boros .... Nah, bukankah telah kami ceritakan kepada anda bahwa ia mirip sekali dengan Umar? 

Pada hari-hari ia bertugas sebagai Amir atau kepala daerah di Madain, keadaannya tak sedikit pun berubah. Sebagaimana telah kita ketahui, ia menolak untuk menerima gaji sebagai amir, satu dirham sekalipun. Ia tetap mengambil nafkahnya dari hasil menganyam daun kurma, sedang pakaiannya tidak lebih dari sehelai baju luar, dalam kesederhanaan dan kesahajaannya tak berbeda dengan baju usangnya. 

Pada suatu hari, ketika sedang berjalan di suatu jalan raya, ia didatangi seorang laki-laki dari Syria yang membawa sepikul buah tin dan kurma. Rupanya beban itu amat berat, hingga melelahkannya. Demi dilihat olehnya seorang laki-laki yang tampak sebagai orang biasa dan dari golongan tak berpunya, terpikirlah hendak menyuruh laki-laki itu membawa buah-buahan dengan diberi imbalan atas jerih payahnya bila telah sampai ke tempat tujuan. Ia memberi isyarat supaya datang kepadanya, dan Salman radhiyallahu 'anhu menurut dengan patuh. "Tolong bawakan barangku ini!", kata orang dari Syria itu. Maka barang itu pun dipikullah oleh Salman radhiyallahu 'anhu, lalu berdua mereka berjalan bersama-sama. 

Di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan satu rombongan. Salman radhiyallahu 'anhu memberi salam kepada mereka, yang dijawabnya sambil berhenti: "Juga kepada amir, kami ucapkan salam" "Juga kepada amir?" Amir mana yang mereka maksudkan?" tanya orang Syria itu dalam hati. Keheranannya kian bertambah ketika dilihatnya sebagian dari anggota rombongan segera menuju beban yang dipikul oleh Salman radhiyallahu 'anhu dengan maksud hendak menggantikannya, kata mereka: "Berikanlah kepada kami wahai amir!" 

Sekarang mengertilah orang Syria itu bahwa kulinya tiada lain Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu, amir dari kota Madain. Orang itu pun menjadi gugup, kata-kata penyesalan dan permintaan maaf bagai mengalir dari bibirnya. Ia mendekat hendak menarik beban itu dari tangannya, tetapi Salman radhiyallahu 'anhu menolak, dan berkata sambil menggelengkan kepala: "Tidak, sebelum kuantarkan sampai ke rumahmu! 

Suatu ketika Salman radhiyallahu 'anhu pernah ditanyai orang: Apa sebabnya anda tidak menyukai jabatan sebagai amir? Jawabnya: "Karena manis waktu memegangnya tapi pahit waktu melepaskannya!" 

Pada waktu yang lain, seorang shahabat memasuki rumah Salman radhiyallahu 'anhu, didapatinya ia sedang duduk menggodok tepung, maka tanya shahabat itu: Ke mana pelayan? Ujarnya: "Saya suruh untuk suatu keperluan, maka saya tak ingin ia harus melakukan dua pekerjaan sekaligus'' 

Apa sebenarnya yang kita sebut "rumah" itu? Baiklah kita ceritakan bagaimana keadaan rumah itu yang sebenarnya. Ketika hendak mendirikan bangunan yang berlebihan disebut sebagai "rumah'' itu, Salman radhiyallahu 'anhu bertanya kepada tukangnya: "Bagaimana corak rumah yang hendak anda dirikan?" Kebetulan tukang bangunan ini seorang arif bijaksana, mengetahui kesederhanaan Salman radhiyallahu 'anhu dan sifatnya yang tak suka bermewah mewah. Maka ujarnya: "Jangan anda khawatir! rumah itu merupakan bangunan yang dapat digunakan bernaung di waktu panas dan tempat berteduh di waktu hujan. Andainya anda berdiri, maka kepala anda akan sampai pada langit-langitnya; dan jika anda berbaring, maka kaki anda akan terantuk pada dindingnya". "Benar", ujar Salman radhiyallahu 'anhu, "seperti itulah seharusnya rumah yang akan anda bangun!" 

Tak satu pun barang berharga dalam kehidupan dunia ini yang digemari atau diutamakan oleh Salman radhiyallahu 'anhu sedikit pun, kecuali suatu barang yang memang amat diharapkan dan dipentingkannya, bahkan telah dititipkan kepada isterinya untuk disimpan di tempat yang tersembunyi dan aman. 

Ketika dalam sakit yang membawa ajalnya, yaitu pada pagi hari kepergiannya, dipanggillah isterinya untuk mengambil titipannya dahulu. Kiranya hanyalah seikat kesturi yang diperolehnya waktu pembebasan Jalula dahulu. Barang itu sengaja disimpan untuk wangi-wangian di hari wafatnya. Kemudian sang isteri disuruhnya mengambil secangkir air, ditaburinya dengan kesturi yang dikacau dengan tangannya, lalu kata Salman radhiyallahu 'anhu kepada isterinya: "Percikkanlah air ini ke sekelilingku ... Sekarang telah hadir di hadapanku makhluq Allah* yang tiada dapat makan, hanyalah gemar wangi-wangian. Setelah selesai, ia berkata kepada isterinya: "Tutupkanlah pintu dan turunlah!" Perintah itu pun diturut oleh isterinya. 

Dan tak lama antaranya isterinya kembali masuk, didapatinya ruh yang beroleh barkah telah meninggalkan dunia dan berpisah dari jasadnya ... Ia telah mencapai alam tinggi, dibawa terbang oleh sayap kerinduan; rindu memenuhi janjinya, untuk bertemu lagi dengan Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan dengan kedua shahabatnya Abu Bakar dan Umar, serta tokoh-tokoh mulia lainnya dari golongan syuhada dan orang-orang utama .... 

Salman radhiyallahu 'anhu .... Lamalah sudah terobati hati rindunya Terasa puas, hapus haus hilang dahaga. Semoga Ridla dan Rahmat Allah menyertainya. 



* yang dimaksud makhluq Allah di sini, Malaikat.

Sumber :

Minggu, 11 Maret 2012

Asa & Cita (Bagian 4)

Asa di Kota Aksi dan Cita di Kota Impian, memang jauh berseberangan tapi bertautan. Matahari telah menyembunyikan dirinya, menyinari bagian dunia lain. Malam ini tenang, langit begitu indah dihiasi bintang-bintang kecil yang sebagian saling berkedip mesra. Angin semilir, udara sejuk di kota mereka.

Senin, 20.45 PM di Senja - Kota Impian
"Humh, akhirnya siang dan sore berlalu, malam sudah siap menemaniku. Hari yang cukup melelahkan, bagaimana bisa banyak surat yang harus diantarkan sedangkan di zaman ini teknologi sudah canggih! Bisa melalui SMS atau E-mail atau apalah namanya." gumam Cita merasa kesal. Kemudian dia melihat handphone-nya.
"Seharian dia tidak sms, walau sekedar satu titik! Ya, sekedar satu titik atau sms kosong! Ah kenapa aku begitu peduli, emang dia siapa gue!" celoteh yang terdengar dari mulut Cita yang mengetahui tidak ada sms satupun dari Asa setelah seharian sibuk.
Akhirnya Cita merebahkan raga yang lelah. Tertidur pulas melepas lelah.

Senin 20.45 PM di Fajar - Kota Aksi
"Alhamdulillah, hari ini berjalan lancar dan aman. Ayah sudah tidur, pasti ayah lelah. Dan aku ingin sedikit menulis tentang hari ini di diary-ku. Tapi kenapa Cita tetap begitu dingin, orang paling dingin di dunia adalah dia. Oke, aku mau menulis di diary. Hari ini adalah hari yang biasa, tapi tidak seperti biasanya. Apakah aku rindu Cita? orang yang paling cuek sedunia itu? Sampai aku mimpi tidak jelas tapi aku yakin itu tentang dia. Hm, kenapa orang bisa cuek seperti itu? Apakah tidak ada yang lebih cuek dari dia!. Diary, hari ini aku tidak banyak cerita dan hanya itu yang bisa ku tulis. Semoga saja dia bisa berubah menjadi orang yang baik, tidak dingin dan peduli dengan perasaan orang lain. Asa - Maret 2012".
Asa mengambil hp dan menulis untaian kata "Doa sebelum tidur." yang kemudian dikirimkan kepada kontak "Tidak ada nama" yang ada di handphone-nya -yaitu Cita-.

Bagian 5 (terakhir)
Cermin (cerita mini) oleh Fikri si Pemimpi berjudul Asa dan cita. Klik di sini untuk bagian 3.